Nasional

Kolaborasi Iman untuk Bumi : Kementerian LH Dorong Aksi Lintas Agama dalam Pertobatan Ekologis

6
×

Kolaborasi Iman untuk Bumi : Kementerian LH Dorong Aksi Lintas Agama dalam Pertobatan Ekologis

Sebarkan artikel ini
Kolaborasi Iman untuk Bumi : Kementerian LH Dorong Aksi Lintas Agama dalam Pertobatan Ekologis
Foto : Dok.Ist

JAKARTA, Kabarnus24.com || Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menegaskan bahwa penyelamatan lingkungan hidup tidak hanya bertumpu pada kebijakan teknis dan penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan penguatan nilai moral dan spiritual melalui gerakan pertobatan ekologis.

Seluruh agama pada dasarnya mengajarkan nilai kebaikan, tanggung jawab, serta kewajiban manusia untuk menjaga alam sebagai wujud rasa syukur atas anugerah Tuhan. Dalam semangat tersebut, KLH/BPLH menerima kunjungan Gerakan Siaga Bumi dan Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia yang dipimpin oleh Din Syamsuddin di kantor KLH/BPLH, Jakarta, Jum’at (12/06/26).

Kolaborasi Iman untuk Bumi : Kementerian LH Dorong Aksi Lintas Agama dalam Pertobatan Ekologis


Pertemuan ini menjadi ruang penguatan kolaborasi lintas agama dalam memperluas gerakan moral untuk menjaga bumi di tengah meningkatnya krisis lingkungan global.

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa, termasuk komunitas keagamaan yang memiliki pengaruh kuat dalam membentuk kesadaran masyarakat. Ia menilai nilai-nilai agama dapat menjadi fondasi penting dalam mendorong perubahan perilaku menuju kepedulian lingkungan.

“Upaya penyelamatan lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan teknis dan penegakan hukum. Kita membutuhkan gerakan moral yang tumbuh dari kesadaran bersama, termasuk dari komunitas agama, untuk menjaga bumi sebagai amanah bagi generasi mendatang,” ujar Menteri Jumhur.

Menteri Jumhur juga menyampaikan bahwa KLH/BPLH tengah mendorong penguatan pendekatan keadilan iklim serta perubahan perilaku masyarakat, termasuk melalui pendidikan lingkungan, penegakan hukum, dan penguatan ekonomi hijau. Dalam konteks ini, keterlibatan tokoh agama dipandang semakin penting untuk memperluas jangkauan edukasi dan membangun kesadaran publik.

Ketua Tim Pengarah Siaga Bumi dan IRI Indonesia, Din Syamsuddin, menyampaikan bahwa gerakan lintas agama ini merupakan bentuk tanggung jawab moral umat beragama
dalam menghadapi krisis lingkungan. Menurutnya, seluruh agama memiliki ajaran yang selaras dalam menjaga alam dan kehidupan.

“Ini adalah gerakan moral lintas agama untuk menyelamatkan bumi. Kami melihat bahwa semua agama mengajarkan nilai kebaikan dan tanggung jawab terhadap alam, sehingga kolaborasi ini menjadi kekuatan besar untuk mendorong perubahan nyata di masyarakat,” kata Din Syamsuddin yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 2005-2010 dan 2010-2015.

Din Syamsuddin menambahkan bahwa gerakan ini akan diwujudkan melalui berbagai aksi nyata, mulai dari pengelolaan lingkungan rumah ibadah, penghematan air, pengurangan sampah, hingga kampanye berbasis nilai keagamaan yang dekat dengan kehidupan umat sehari-hari.

Dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari berbagai unsur keagamaan di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia (MUI) disebut telah mendorong penguatan etika lingkungan dalam kehidupan umat, termasuk pengembangan gerakan eco masjid dan pengelolaan sampah berbasis kesadaran keagamaan.

Sementara itu, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan jaringan gereja Katolik turut memperkuat inisiatif rumah ibadah ramah lingkungan, seperti gerakan pengurangan plastik, pengelolaan sampah, hingga penghematan sumber daya alam di lingkungan gereja.

Inisiatif-inisiatif tersebut menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan berbasis nilai agama telah tumbuh dan menjadi bagian penting dari gerakan masyarakat sipil dalam mendukung agenda keberlanjutan lingkungan.

KLH/BPLH menilai bahwa penguatan kolaborasi lintas agama melalui pendekatan pertobatan ekologis menjadi salah satu kunci dalam mempercepat perubahan perilaku masyarakat. Pendekatan ini menempatkan krisis lingkungan bukan hanya sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai panggilan moral dan spiritual manusia untuk kembali menjaga keseimbangan alam.

Ke depan, KLH/BPLH berharap sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat dapat terus diperluas melalui aksi nyata seperti penanaman pohon, gerakan bersih sungai, pengurangan sampah dari sumbernya, serta penguatan edukasi lingkungan berbasis komunitas.

Dengan kolaborasi yang semakin kuat, KLH/BPLH optimistis gerakan pertobatan ekologis dapat menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran baru bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah, sekaligus wujud nyata cinta manusia terhadap ciptaan Tuhan.(Rizky Tile)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin