Daerah

Sedekah Desa dan Karakan Kucing, Wujud Syukur serta Pelestarian Warisan Leluhur di Selok Awar-Awar

5
×

Sedekah Desa dan Karakan Kucing, Wujud Syukur serta Pelestarian Warisan Leluhur di Selok Awar-Awar

Sebarkan artikel ini
Sedekah Desa dan Karakan Kucing, Wujud Syukur serta Pelestarian Warisan Leluhur di Selok Awar-Awar

Sedekah Desa dan Karakan Kucing, Wujud Syukur serta Pelestarian Warisan Leluhur di Selok Awar-Awar

 

Lumajang,kabarnusa24.Com.Rabu,17/6/2026 – Ribuan warga Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, kembali menggelar tradisi Sedekah Desa yang menjadi agenda budaya tahunan masyarakat setempat. Tradisi yang berlangsung meriah ini ditandai dengan prosesi Karakan Kucing, arak-arakan seekor kucing yang diiringi shalawat, hadrah banjari, gunungan hasil bumi, serta doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki, keselamatan, dan keberkahan yang diterima masyarakat desa.

 

Prosesi dimulai dari kediaman Kepala Desa Selok Awar-Awar, kemudian bergerak menuju sejumlah titik yang dianggap memiliki nilai sejarah dan spiritual bagi masyarakat sebelum berakhir di balai desa. Setibanya di lokasi, warga mengikuti istighatsah, doa bersama, kenduri, dan berbagai kegiatan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur desa.

 

Kepala Desa Selok Awar-Awar, Didik Nur Handoko, mengatakan bahwa Sedekah Desa bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan momentum untuk mempererat persatuan masyarakat sekaligus menjaga warisan budaya yang telah menjadi identitas desa.

 

“Sedekah Desa merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini kami berharap seluruh warga selalu diberikan kesehatan, keselamatan, kerukunan, serta keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi ini juga menjadi sarana untuk memperkuat gotong royong dan menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu,” ujarnya.

 

Menurut Didik, tradisi Karakan Kucing memiliki makna historis yang erat kaitannya dengan cerita leluhur Desa Selok Awar-Awar. Kucing yang diarak merupakan simbol penghormatan terhadap sosok Mbah Demo, tokoh yang diyakini sebagai leluhur desa dan memiliki keterkaitan dengan harimau yang menjadi sahabatnya. Karena harimau tidak mungkin dihadirkan dalam prosesi, masyarakat menggunakan kucing sebagai simbol yang masih berada dalam satu keluarga hewan tersebut.

 

“Karakan Kucing bukan sekadar pawai. Di dalamnya terdapat pesan moral agar masyarakat selalu menghormati sejarah desa, menghargai jasa para leluhur, serta menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Tradisi ini harus terus dilestarikan agar generasi muda mengenal akar budayanya sendiri,” tambahnya.

 

Selain arak-arakan kucing, masyarakat juga membawa berbagai hasil bumi berupa sayuran, buah-buahan, dan aneka hasil pertanian yang melambangkan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh selama setahun terakhir. Gunungan hasil bumi tersebut kemudian diperebutkan warga sebagai simbol keberkahan dan harapan akan rezeki yang melimpah pada masa mendatang.

 

Tradisi Karakan Kucing telah menjadi salah satu ikon budaya Desa Selok Awar-Awar yang menarik perhatian masyarakat luar daerah. Keunikan ritual tersebut menunjukkan bagaimana kearifan lokal tetap hidup di tengah perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai religius dan sosial yang terkandung di dalamnya.

 

Melalui pelaksanaan Sedekah Desa tahun ini, masyarakat berharap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut tetap lestari dan mampu menjadi perekat persaudaraan antarwarga. Semangat kebersamaan, gotong royong, serta rasa syukur yang tercermin dalam setiap rangkaian acara menjadi bukti bahwa budaya lokal masih memiliki tempat yang kuat dalam kehidupan masyarakat modern. (D.S)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin