Khutbah Jumat: Momentum Keagamaan Jadikan sebagai Akar Penguat Tali Persaudaraan
Oleh: KH Ahmad Saifuddin HAS., S.Ag., MM, Bendahara 2 MUI kota Tangerang
Khutbah I
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِهِ، فَهُوَ الرَّحِيْمُ الرَّؤُوْفُ، اللَّطِيْفُ بِعَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ فِيْ كُلِّ الظُّرُوْفِ. فَلَوْ أُلْقِيَ الْعَبْدُ فِيْ بَحْرٍ زَاخِرٍ وَهُوَ مَكْتُوْفٌ، فَاللُّطْفُ مِنْهُ الْخَفِيُّ وَمِنْهُ الظَّاهِرُ الْمَكْشُوْفُ. يُوْنُسُ وَأَيُّوْبُ وَيُوْسُفُ، هُمُ الْكَوَاكِبُ وَشَمْسُهُمْ أَحْمَدُ عَلَى حُبِّ الْإِلٰهِ عُكُوْفٌ، فَإِنَّ هَوَى الْمُحِبِّ عَلَى مُرَادِ حَبِيْبِهِ مَعْطُوْفٌ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ شَهَادَةَ حَرِيْصٍ مَلْهُوْفٍ عَلَى أَنْ يَمُوْتَ عَلَيْهَا وَلَوْ ضَرْبًا بِالسُّيُوْفِ؛ شَهَادَةً تَحْمِيْنَا مِنَ الشُّرُوْرِ وَسُوْءِ الْحُتُوْفِ، وَتَسْلُكُ بِنَا طَرِيْقَ الْمَعْرُوْفِ، وَنَنْجُوْ بِهَا مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَالْهَوْلِ الْمَخُوْفِ؛ شَهَادَةً تُحَقِّقُ لَنَا مِنَ اللّٰهِ وَعْدًا غَيْرَ مَخْلُوْفٍ، وَتُظِلُّنَا بِظِلِّ الْعَرْشِ حَيْثُ الْكُلُّ بَيْنَ يَدَيِ الْحَقِّ مَوْقُوْفٌ
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَوْصُوْفُ نُورًا كَضَوْءِ الشَّمْسِ مِنْ غَيْرِ سُحُبٍ أَوْ كُسُوْفٍ ، بِعَبِيْرِ أَنْفَاسٍ عَبِقَتْ بِهَا جُدْرَانُ مَكَّةَ وَالسُّقُوْفُ. لَوْ عَلِمَ جَدُّهُ حِيْنَ كَانَ بِالْبَيْتِ يَطُوْفُ, مُسْتَبْشِرًا بِهِ كَمْ رَغِمَتْ بِمَبْعَثِهِ أُنُوْفٌ، لَظَلَّ يَلْهَجُ بِالثَّنَاءِ بِغَيْرِ مَلَلٍ أَوْ وُقُوفٍ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ فِيْ سُوْرَةِ الْفَتْحِ مَوْصُوْفٌ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ مَنْ زَانَ الْوُجُوْدَ بِشَخْصِهِ، وَزَانَ الْقُلُوْبَ بِوَصْفِهِ، وَزَانَ الْعُقُوْلَ بِصِدْقِهِ، وَبِمِثْلِ طِيْبِهِ أَبَدًا لَمْ تَحْظَ الْأُنُوْفُ
أَمَّا بَعد، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: (وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ)
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah SWT,..
Mari kita bersyukur atas desah napas yang masih mengalir, atas detak jantung yang masih setia menemani, dan di atas segalanya, atas nikmat iman serta ketakwaan yang senantiasa menuntun langkah kita menuju rumah-Nya yang damai ini.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah luhur kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, teladan kelembutan hati yang risalahnya menjadi oase di tengah gersangnya jiwa manusia.
Hari ini, kita berada di pertengahan bulan Muharram nan mulia. Sebuah waktu di mana gempita dan kemeriahan Tahun Baru Islam perlahan mulai surut. Masjid-masjid yang tempo hari sesak oleh perhelatan doa bersama, kini mulai kembali pada ritme kesehariannya.
Di saat-saat senyap seperti inilah, esensi ketakwaan kita yang sesungguhnya sedang diuji. Apakah getaran spiritual dari perhelatan keagamaan kemarin membekas menjadi transformasi sosial, ataukah menguap begitu saja tanpa jejak?
Pertengahan Muharram ini bukanlah hari raya, melainkan sebuah “ujian sunyi”. Ia adalah momentum krusial untuk menguji istiqamah dan konsistensi. Ibarat seorang pelari maraton, sorak-sorai di garis start memang membakar semangat. Namun, kemenangan sejati tidak ditentukan di garis start, melainkan pada kemampuan pelari untuk mempertahankan napas dan langkah di kilometer-kilometer tengah, ketika sorak-sorai telah reda.
Demikianlah agama kita. Momentum keagamaan bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal untuk memperkuat struktur kehidupan kita.
Untuk memahaminya, mari kita renungkan sebuah analogi yang Allah SWT sendiri berikan dalam Alquran, yaitu “Analogi Pohon Kehidupan”.
Hadirin yang Dirahmati Allah,..
Allah SWT memberikan kita analogi yang sangat indah dan sempurna dalam surat Ibrahim ayat 24-25:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ. تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.”
Syeikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsirnya menguraikan makna yang mendalam mengenai ayat ini:
1. Akar yang teguh (ashluha tsabit) adalah keyakinan dan ritual ibadah yang mengakar kuat di dalam hati. Ia tersembunyi, tidak selalu dipuji orang, namun ia menyerap nutrisi keimanan langsung dari Allah SWT.
2. Batang yang menjulang (wa far’uha fis-sama’) adalah ukhuwah Islamiyah. Ia adalah penopang yang menghubungkan akar yang tersembunyi dengan dunia luar. Batang ini harus kokoh untuk menopang beban kehidupan, dan memerlukan perawatan terus-menerus, bukan hanya dibiarkan tumbuh liar.
3. Buah yang terus-menerus (tu’ti ukulaha kulla hin) adalah akhlak mulia dan interaksi sosial. Kesehatan akar dan kekuatan batang hanya bisa dibuktikan dari manisnya buah yang bisa dinikmati oleh orang lain.
Jika buah yang dihasilkan pahit dan beracun, seperti suka memfitnah, memutus silaturahim, atau sombong, maka ada yang sakit pada akar ibadah kita, betapapun rajin kita tampak di mata manusia.
Jamaah Jumat yang Berbahagia,..
Buah dari pohon keimanan ini haruslah kasih sayang. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah anugerah terbesar dari Allah.
Di masa Jahiliyah, orang bersatu atau bermusuhan berdasarkan nasab dan kesukuan. Allah menghapus fanatisme itu dan menggantinya dengan ikatan iman.
Oleh karena itu, mencintai sesama manusia bukan sekadar etika sosial biasa, ia adalah cermin kesempurnaan iman.
Rasulullah SAW menegaskan prinsip luhur ini dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu, sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
Hadirin yang Dimuliakan Allah,..
Teori pohon ini bukan sekadar konsep abstrak, lebih dari empat belas abad yang lalu, untuk melihat bagaimana “batang” dan “buah” ini tumbuh secara nyata.
Saat itu, euforia menyambut kedatangan Rasulullah SAW dan para sahabat Muhajirin baru saja mereda. Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai. Rasulullah SAW mempersaudarakan seorang sahabat Muhajirin bernama Abdurrahman bin ‘Auf dengan seorang sahabat Anshar bernama Sa’ad bin Rabi’.
Abdurrahman bin ‘Auf tiba di Madinah dengan tangan hampa. Ia meninggalkan seluruh harta dan kenyamanan di Makkah demi mempertahankan akarnya, yaitu iman.
Sementara itu, Sa’ad bin Rabi’ adalah tuan tanah yang makmur, dengan dua kebun kurma yang rimbun dan keluarga yang bahagia.
Dengan hati yang tulus, Sa’ad bin Rabi’ menawarkan separuh dari seluruh kekayaannya kepada Abdurrahman. Bahkan, dengan kemuliaan akhlak yang luar biasa, Sa’ad berkata, “Aku memiliki dua istri. Lihatlah mana yang paling engkau sukai, sebutkan namanya, akan kucerai agar engkau dapat menikahinya.”
Hadirin yang Dirahmati Allah,..
Tawaran itu adalah tawaran yang membuat langit pun mungkin terdiam. Itu adalah puncak dari ibarat “batang” persaudaraan yang kokoh, siap menopang saudara yang terjatuh.
Namun, apa jawaban Abdurrahman bin Auf?
Dengan senyum yang teduh dan penuh martabat, ia menjawab: “Semoga Allah memberkahi hartamu dan keluargamu. Aku tidak membutuhkan itu semua. Tunjukkan saja kepadaku, di mana letak pasar?”
Lihatlah, kalimat singkat ini adalah “buah” termanis dari pohon keimanan. Abdurrahman tidak ingin menjadi beban. Ia menolak ketergantungan, bukan karena sombong, tetapi karena ia memahami bahwa persaudaraan sejati bukanlah tentang menjadikan satu pihak sebagai peminta-minta dan pihak lain sebagai pemberi sedekah.
Persaudaraan sejati adalah tentang saling memulihkan martabat, saling menguatkan untuk berdiri di atas kaki sendiri, dan saling bahu-membahu dalam kebaikan.
Akhirnya, Sa’ad menunjukkan pasar. Abdurrahman pun berdagang. Dan dengan kejujuran dan kerja kerasnya, dalam waktu yang tidak lama, Allah melimpahkan keberkahan kepadanya.
Abdurrahman menjadi kaya, hingga pada suatu hari ia datang dengan membawa mahar yang sangat besar untuk menikah, membuktikan bahwa dari akar iman yang kuat, dan batang persaudaraan yang saling menopang, lahirlah buah kemandirian dan kemuliaan yang dinikmati oleh seluruh masyarakat Madinah.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,..
Kisah ini bukan sekadar dongeng masa lalu. Ia adalah cermin bagi kita di bulan Muharram ini.
Ketika kemeriahan awal tahun telah berlalu, apakah kita masih memiliki hati seperti Sa’ad bin Rabi’ yang rela berbagi?
Dan ketika kita berada dalam kesulitan, apakah kita memiliki semangat seperti Abdurrahman bin ‘Auf untuk tetap berkarya, bukan sekadar mengeluh atau saling menyalahkan?
Di era di mana jari-jari kita lebih mudah mengetik hujatan daripada memberi bantuan, di era di mana kita lebih cepat memviralkan aib tetangga daripada menjenguknya yang sakit, kisah Madinah ini menampar kita dengan lembut, bahwa persaudaraan tidak dibangun di atas mimbar seremonial, ia dibangun di pasar-pasar kehidupan, di teras-teras rumah tetangga, dan dalam diamnya tangan yang saling membantu tanpa mencari sorakan.
Allah SWT memperingatkan kita dalam surat Al-Anfal ayat 46:
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.”
Perselisihan dan polarisasi akan menghilangkan ruh kekuatan, semangat, dan keberkahan umat. Maka, di bulan Muharram ini, kita diingatkan oleh sabda Rasulullah SAW tentang esensi istiqamah. Beliau bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang paling konsisten terus-menerus, meskipun sedikit.”
Hadirin yang Dimuliakan Allah,..
Retorika yang indah tidak akan berarti tanpa tindakan nyata. Untuk menjadikan momentum ini sebagai akar penguat persaudaraan, mari kita praktikkan tiga tindakan konkret di lingkungan kita:
Pertama, menjenguk yang sakit sebagai “nutrisi kasih sayang”. Ingatlah metafora Rasulullah SAW yang berbunyi:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan turut merasakan.” (HR Bukhari & Muslim)
Kehadiran kita adalah obat yang menguatkan ikatan emosional. Maka sepatutnya kita memperhatikannya.
Kedua, menjaga lisan dan jari serta memangkas duri fitnah.
Di era ini, lisan juga berupa ketikan jari. Menjaga lisan berarti menahan diri dari ghibah, adu domba, dan hoaks. Jadikan jari kita sebagai perisai yang melindungi kehormatan saudara, bukan senjata yang mematahkan batang persaudaraan.
Ketiga, menghidupkan semangat gotong royong untuk memperkokoh “batang” keislaman.
Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ
“Bukanlah seorang mukmin, orang yang kenyang sedangkan tetangganya yang berada di sampingnya kelaparan.” (HR Al-Baihaqi)
Oleh karena itu, mari kita saling membantu, baik dalam menjaga kebersihan lingkungan maupun meringankan beban tetangga. Sebab ini adalah praktik ukhuwah yang paling nyata.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,..
Sebagai perenungan akhir, mari kita hayati kata-kata bijak Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar. Beliau mengatakan:
“Persaudaraan dalam Islam bukanlah sekadar slogan yang diucapkan di mimbar-mimbar, atau tepuk tangan di pertemuan-pertemuan. Persaudaraan adalah bukti nyata dalam kehidupan. Ia terasa ketika kita membela kehormatan saudara yang tidak hadir, membantu meringankan beban tetangga yang kesulitan, dan menahan lisan dari aib sesama. Di situlah letak ruh Islam yang sebenarnya.”
Marilah kita jadikan hari ini sebagai titik balik. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari hal yang terkecil, dan dari lingkungan terdekat kita dalam merawat dan menjaga kebaikan yang berkelanjutan.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ







