Tokoh Lintas Agama di Lumajang Satu Suara: Pancasila Perekat NKRI
LUMAJANG, kabarnusa 24.Com— Di tengah keberagaman agama dan budaya yang menjadi wajah Indonesia, Pancasila kembali ditegaskan sebagai titik temu sekaligus perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pesan itu mengemuka dalam dialog kebangsaan yang menjadi bagian dari Kemah Moderasi Beragama di Kabupaten Lumajang, Jumat (2/10/2026).
Dialog digelar sekitar dua jam setelah Kemah Moderasi Beragama resmi dibuka Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lumajang, Dr Achmad Faisol Syaifillah, S.Ag., M.A., sekitar pukul 15.30 WIB.
Forum tersebut menghadirkan tokoh lintas agama, yakni Pdt Evgan dari Kristen, Ydha dari Katolik, Astono dari Hindu, serta Asir, perwakilan Islam sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lumajang.
Para narasumber menyampaikan pesan yang sama dari sudut pandang agama masing-masing: mencintai Indonesia berarti menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta menempatkan Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pdt Evgan menekankan bahwa kemajemukan Indonesia merupakan kenyataan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berbangsa. Masyarakat Indonesia hidup dalam keberagaman agama dan tersebar di ribuan pulau.
Kondisi tersebut, menurut dia, membutuhkan komitmen bersama untuk menjaga persatuan dan mencintai negara dalam bingkai NKRI.
“Indonesia memiliki penduduk yang beragama dan tersebar di ribuan kepulauan. Karena itu, komitmen mencintai bangsa dan negara serta menjaga persatuan menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya.
Pesan berbeda namun memiliki makna serupa disampaikan Astono, narasumber dari perwakilan Hindu. Ia menilai kecintaan terhadap sesama manusia tidak cukup hanya diwacanakan, tetapi perlu diwujudkan melalui kebiasaan dan budaya yang mampu mempertemukan masyarakat.
Salah satunya melalui budaya lokal.
Dalam forum tersebut, Astono bahkan mengajak peserta bernyanyi bersama dengan iringan gitar. Suasana dialog yang sebelumnya serius berubah menjadi lebih cair dan penuh kebersamaan.
Menurut Astono, kegiatan sederhana seperti bernyanyi bersama dapat menjadi sarana membangun kedekatan dan mengikis sekat perbedaan.
“Budaya lokal perlu terus digalakkan karena dari sanalah kebersamaan dan rasa mencintai sesama manusia dapat tumbuh,” katanya.
Sementara itu, Asir, perwakilan Islam sekaligus Ketua FKUB Kabupaten Lumajang, memberikan penekanan lebih jauh mengenai posisi Pancasila dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Ia menyebut Pancasila bukan ideologi yang hadir secara tiba-tiba. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya telah berakar dalam kehidupan dan budaya masyarakat Indonesia.
Menurut Asir, Pancasila menjadi kekuatan yang mampu mempertemukan masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang agama, suku, budaya, dan tradisi yang sangat beragam.
“Pancasila merupakan satu-satunya ideologi yang bersumber dari akar nilai dan budaya bangsa yang telah tumbuh sejak adanya bangsa Indonesia,” kata Asir.
Ia kemudian menggambarkan dinamika hubungan agama, negara, dan ideologi yang terjadi di sejumlah kawasan dunia.
Di Eropa Barat, kata dia, sejumlah negara yang sebelumnya kuat dengan karakter religius berkembang menjadi negara sekuler. Sementara di Eropa Timur, perubahan politik membawa sejumlah negara dari sistem yang berlandaskan nilai religius menuju sosialisme.
Perubahan ideologi dan sistem politik juga terjadi di China, yang menurut Asir mengalami transformasi dari masyarakat dengan akar tradisi keagamaan menuju sistem Komunis-Nasionalis.
Sementara di Timur Tengah, ia menyinggung perjalanan sejarah pemerintahan Islam yang mengalami perubahan dari satu bentuk kekuasaan ke bentuk lainnya.
“Indonesia memiliki pengalaman yang berbeda. Dari dahulu, sekarang, dan insyaallah sampai nanti, Indonesia tetap menjadi NKRI yang berdasarkan Pancasila,” ujarnya.
Bagi Asir, keberlangsungan Indonesia sebagai negara yang sangat majemuk tidak terlepas dari kemampuan bangsa menjaga nilai moderasi, toleransi, dan persatuan.
Karena itu, moderasi beragama tidak boleh berhenti sebagai slogan. Nilai tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dengan menghormati pemeluk agama lain, membangun dialog, serta menghindari sikap yang dapat memicu perpecahan.
Dialog lintas agama dalam Kemah Moderasi Beragama di Lumajang itu pun menjadi ruang penting untuk memperkuat komitmen kebangsaan.
Pesan yang muncul dari forum tersebut jelas: agama menjadi sumber nilai dalam kehidupan, sementara Pancasila menjadi titik temu seluruh elemen bangsa.
Di tengah perbedaan yang menjadi identitas Indonesia, persatuan tetap menjadi pilihan bersama.
Merawat keberagaman berarti merawat Indonesia. Dan menjaga Indonesia berarti menjaga Pancasila sebagai perekat NKRI.”( D.S )







