BALI, Kabarnusa24.com
Indonesia kembali menegaskan kepemimpinannya dalam memperkuat kerja sama regional menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pencemaran kabut asap lintas batas melalui Pertemuan ke-27 Sub-Regional Ministerial Steering Committee (MSC) on Transboundary Haze Pollution di Bali.
Pertemuan yang dipimpin Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, ini dihadiri para menteri dan delegasi dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Timor-Leste, serta Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Sosial-Budaya ASEAN.
Didahului Pertemuan ke-27 Technical Working Group (TWG) pada 8 Juli 2026, forum ini meninjau implementasi ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP), memperkuat koordinasi regional, serta menyusun langkah antisipatif menghadapi meningkatnya risiko karhutla akibat perubahan iklim.
Membuka pertemuan, Menteri Jumhur menegaskan bahwa perubahan iklim menuntut negara-negara ASEAN memperkuat kesiapsiagaan dan kolaborasi dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan yang berpotensi memicu kabut asap lintas batas.
“Pertemuan ini berlangsung di tengah kondisi variabilitas iklim dan perubahan pola cuaca yang terus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah kawasan. Potensi pengaruh fenomena El Niño menjadi pengingat bagi ASEAN untuk tetap waspada dan terus memperkuat kesiapsiagaan, koordinasi, sistem peringatan dini, pemantauan, serta respons cepat,” ujar Menteri Jumhur.
Indonesia juga memaparkan berbagai langkah yang telah dilakukan dalam memperkuat pengendalian karhutla, antara lain melalui pengaktifan kembali Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla Tahun 2026 untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, pemantauan, dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
Langkah tersebut didukung penetapan status siaga darurat di lima provinsi rawan, patroli terpadu berbasis teknologi, peningkatan kesadaran masyarakat, serta operasi darat dan udara melalui water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Pada kesempatan tersebut, Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup KLH/BPLH, Rizal Irawan, menyampaikan perkembangan pembentukan ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control (ACCTHPC). Indonesia telah mencatat kemajuan dalam proses ratifikasi nasional, penyusunan dokumen operasional, serta penyiapan fasilitas kantor dan teknologi pemantauan.
Indonesia juga menyatakan kesiapan mendukung tahap awal operasionalisasi ACCTHPC, termasuk kemungkinan penunjukan Executive Director, dengan tetap menjunjung prinsip representasi yang adil di ASEAN.
Pertemuan turut menyampaikan apresiasi kepada Indonesia atas komitmennya dalam mempersiapkan pembentukan dan operasionalisasi ACCTHPC, serta kepada Viet Nam atas penyampaian instrumen persetujuan pembentukan pusat koordinasi tersebut.
Para delegasi juga menekankan pentingnya percepatan proses ratifikasi oleh seluruh negara anggota ASEAN agar ACCTHPC dapat segera beroperasi secara penuh dalam memperkuat pencegahan, pemantauan, pertukaran informasi, dan penanganan pencemaran kabut asap lintas batas.
Menteri Sumber Asli dan Kelestarian Alam Malaysia, Dato’ Sri Arthur Joseph Kurup, menekankan bahwa langkah-langkah pencegahan harus dilakukan secara cepat dan terkoordinasi untuk meminimalkan risiko kebakaran berskala besar.
“Langkah-langkah pencegahan yang dilakukan secara tepat waktu, termasuk penguatan pemantauan di lapangan, intervensi dini pada wilayah rawan kebakaran, serta penanganan cepat terhadap titik api yang mulai muncul, akan sangat penting untuk meminimalkan risiko kebakaran berskala besar yang dapat memicu terjadinya kabut asap lintas batas,” tutur Menteri Dato’ Sri Arthur.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Sosial-Budaya, San Lwin, mengingatkan bahwa perkembangan fenomena El Niño berpotensi menyebabkan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi, normal sehingga diperlukan aksi regional yang lebih kuat.
“Dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi El Niño saat ini, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal. Oleh karena itu, kami menyerukan langkah-langkah regional yang lebih kuat dan berkomitmen tinggi untuk menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan serta pencemaran kabut asap lintas batas,” tegas San Lwin.
Melalui Pertemuan ke-27 MSC dan TWG on Transboundary Haze Pollution, negara-negara ASEAN kembali menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat aksi kolektif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan serta pencemaran kabut asap lintas batas.
Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim, penguatan koordinasi regional, sistem peringatan dini, pemantauan, pertukaran informasi, dan respons cepat menjadi prioritas bersama guna mewujudkan kawasan ASEAN yang tangguh dan bebas kabut asap.(Rizky Tile)







