Opini

Degradasi Moral Jadi Isyarat dan Tabiat Ketika Pejabat Mundur di Tengah Sekarat

9
×

Degradasi Moral Jadi Isyarat dan Tabiat Ketika Pejabat Mundur di Tengah Sekarat

Sebarkan artikel ini
Degradasi Moral Jadi Isyarat dan Tabiat Ketika Pejabat Mundur di Tengah Sekarat

Oleh : Sutriachol Haris, L.C.

Kabarnusa24.com,- Cerita nyata ketika manusia disentuh dengan rasa apes nya, Allah Jalla Wa’ala menyindir. Sekian banyak tabiat atau kebiasaan sebagian manusia yang sering kali hanya ingat kepada Allah dan berdoa dengan sangat khusyu’ hanya saat ketika sedang menghadapi kesulitan, ditimpa musibah dan sedang terkena penyakit, serta merasa kejepit karena ketahuan maling oleh manusia.

Tabiat manusia ketika melakukan atau berbuat kesalahan bagaimana tak ada manusia lain yang tahu. Bila manusia ketahuan malingnya hanya bahwa Allah tahu dan melihat kebanyakan manusia bablas. Itulah orang yang sesungguhnya belum mengenal hakikat dirinya sendiri. Ia lari hanya sesaat yang dikejar adalah sebatas nafsu dan syahwat.

Betapa bodohnya manusia ketika dirinya melampiaskan akan hanya pada nafsu saja yang sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan. Yang baik ikuti gertakan jiwa semata dilandasi titah gerakan akan hati dan berbuat bekerja hanya karena Allah dan untuk Allah, mungkin saja bila itu tak akan lost masih ada kontrol.

Tak sedikit mereka banyak yang menyekutukan Allah dengan sangat ingkar bahkan melupakan Allah saat ketika Allah merubah kesulitan tersebut menjadi kenikmatan.

Tabiat yang acapkali dengan kecerdasan kudu dibaca oleh setiap kita, banyak para pejabat dimundurkan secara organisatoris agar dalam pencaharian rasa amannya dari jeratan hukum yang bakal memilukan menjerat lebih dalam lagi.

Tak ingin menyebut akan nama dari sekian banyak orang dan partai di Indonesia dengan politik culas ketika para elit pejabatnya rusak terindikasi korupsi dan lainnya begitu banyak pula mereka pejabat tersebut yang ingin mencari berharap bakal aman tak tersentuh oleh hukum sejak mulai di mimitian kudu mundur dari partai. Sebuah dinamika sikon politik dipertontonkan tak mendidik.

Tidak menuntut kemungkinan esok terjadi reshufle di Kabinet. Bagi mereka yang tengah menjabat Menteri misalnya namun disisi lain partai pula menyiapkan gantinya dari orang partainya. Anehnya yang diduga salah atau yang harusnya berurusan dengan hukum misalnya tak sedikit dari mereka yang aman – aman saja karena berlindung diketiak yang bernama kekuatan partai dibalik dekatnya dengan yang bernama politik kekuasaan. Kekuasaan nomor satu ketuhanan yang maha esa entah nomor sekian baginya.

Mundur dari banyak pejabat di Indonesia jauh dari sikap yang bernama sikap kemuliaan yang berksatria apalagi sebagai contoh panutan. Kalau sudah panutan artinya sikap yang kudu ditiru karena suri tauladannya. Panutan mencakupi sikap rasa takwa dan sifat mulia di dalamnya.

Ada yang baik dan betapa pula banyak pejabat yang bermental rusak dan dari mereka masih saja dituntun untuk agar mundur perlahan dari fungsi tugas secara orhanisasi baik di Kementerian atau Lembaga dan lainnya. ujung – ujungnya dipastikan cari aman dan tentu seolah anggapan azas praduga tak bersalah memang harus.

Belum jitu nya lembaga peradilan di Indonesia demi ruang hukum yang masih banyak memberi celah karena masih sedikit SDM – APH baik Kepolisian, Kejaksaan dan KPK sekalipun mereka yang berintegritas dan yang memiliki kapabilitas lagi punya kritetia lurus pemberani masih dalam hitungan jari.

Pejabat pusat mesti galakan kembali titik tambang ilegal walau ada pejabat daerah yang gencar tutup tambang ilegal di suatu tempat seperti di Jabar namun kenyataannya banyak pengusaha berlari terbirit ke wilayah Jateng dan Banten dimana masih menggiurkan lahan tambang empuk menjanjikan kongkalingkong pengusaha dan oknum pejabat cingcai. Satgas PKH perlu jalan bareng bersamaan bentukan satgas khusus tambang ilegal dimana sangat merusak Sumber Daya Alam di banyak wilayah Indonesia. Disini pejabat mesti pantang mundur cinta bela negara.

Dimana karena yang akan selalu jadi korban jelas rakyat, akibat pembangunan jalan yang tak kunjung beres misal di Kab. Tangerang. Dari Kedaton Cikupa ke Pasar Kemis hingga ke Polsek Ps. Kemis dari lima tahun lebih yang lalu berapa ruas jalan sampai hari ini terus acak – acakan. Empat ruas jalan tersebut yang acak kadut karena Pemkab nya yang tak punya nyali dan tak konsen dalam membangun. Selain di ruang terbuka banyak wilayak Kab. Tangerang tumpukan bejibun limbah tak ber-izin lagi merusak ruang lingkup kumuh lingkungan.

Rakyat kudu awasi bahwa mundurnya para pejabat secara estafet dan dimundurkannya mereka kena apes nya mereka, bahwa mereka akan bawa aroma busuk dan tabiat buruk bagi regenerasi moral anak bangsa.

Isyarat atau petunjuk dari para atasan mereka dari banyak pejabat masih satu sama lain bergotong royong cari aman, ketika sedang dan atau akan berbuat sesutupun mereka sudah pikirkan akan kuat nya jejaring mereka ketika diantara mereka dapat saling melindungi satu sama lain.

Pejabat yang terindikasi korup lagi tak punya malu baiknya mereka bukan saja mundur dari apa yang tengah mereka emban akan jabatan tersebut tapi juga seyogyanya mundur dari jabatan dengan berterusterang dan mempersilakan akan siapapun APH yang akan bertugas dengan legowo siap dapat memeriksanya.

Tak sedikit para pejabat menangis kencang merengek menemui atasan – atasannya ketika anak buahnya yang telah ketangkap dan tak sedikit terjadi deal – deal diantara kekuatan kekuasaan dibenturkan dengan deal yang tak terpuji dalam konsekwensi hukum dan kebenaran.

Orang ketika merasa beriman ia akan cenderung diam dan merenung atas apa yang diyakininya itu. Tapi orang ketika merugi dan akan disentuh hukum tak sedikit dari elit pejabat yang terus berupaya agar lolos dari jeratan celah hukumnya. Maka gaji yang patut bagi APH tak selamanya membersamai suatu perjalanan hukum yang dinamis dan humanis lagi berani atas apa yang mesti dijalani.

Sikap berani bagi mereka yang di KPK dan Kejaksaan adalah itu sangat penting bagaimana tidak mereka para koruptor saja memulai keberanian mereka mau korup dan sengaja maling.

Keberanian adalah modal dan kekuatan utama bangsa ketika para pejabatnya akan melahirkan dan menelurkan yang bernama melakukan kebijakan arah bangsa yang berdaulat dan menjunjung tinggi nilai, norma dan etika hukum tanpa kata kompromi.

Aktualisasi bagi mereka pejabat yang kapasitas berilmu dalam membawa sikap yang pemberani adalah bukan omon – omon dunia dalam berita tapi harus jadi berani dan fakta nyata.

Apabila orang disentuh Tuhan agar ingat kembali kepadaNya dengan kesempitan lalu ia memanggilNya inilah tabiat manusia agak wajar walau tak diajar tapi ketika ia jatuh dan mundur karena melupakan sejatinya yang membawa nafas luasnya dengan kuasa menjabat dan semua sepertinya dari mereka banyak yang berkata ini adalah karena sebuah upayaku, jerih karena besarnya akan nama sebuah orhanisasiku, dengan rasa tanpa kesadaran. Dan inilah hakikat sebenarnya betapa besarnya akan arti sebuah kisah kedurhakaan.

Generasi muda mudi penerus bangsa wajib belajar betapa masih ada dan banyak pejabat yang merasa sekarat dan barulah mundur karena seolah kena getah dari kedurhakaan bukan pujian apalagi bagian yang merupakan tauladan.

Sekarat mendesak hanya demi penyelamatan diri dan kelompoknya lalu alih ia seolah pilih mundur. Regenerasi kepemimpinan pada struktur apapun orhanisasi bangsa ini nyaris masih seperti di hutan. Siapa yang kuat dia yang menang. Siapa yang lebih bertanduk dia pula yang duduk.

Ini amat jelas yang bernama disebut bukan fitnahan dan bukan pula pujian tapi hakikat kenyataan.

Ada titah yang paling berharga esensinya tentang apa itu soal pejabat. Satu hal yang selamanya tak akan disesali oleh Presiden dan pejabat yaitu akhlak mulia dan baik serta amanah yang senantiasa mengimplementasikan terhadap seluasnya khidmah yang berhikmah untuk sosial masyarakat, meskipun sebahagian rakyat mengkritik atau membalas dengan perlakuan buruk.

Hijrah sang pejabat. Perpindahannya dari rumah para pejabat yang sebagian sejak dimulai pindah dari rumah pribadi ke rumah dinas, dan dari rumah dinas mereka ada yang ke rumah sakit. Lalu banyak pula dari mereka bergegas dari rumah ke rumah tersebut itu berakhir tak sedikit masuk ke dalam rumah tahanan. Wana’udzubillah .

(Red)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin