BeritaDaerahLingkunganPeristiwa

Ironi Kota Metropolitan: Jalan di Marelan Medan Hancur Bak ‘Empang’, Nyawa Ojol dan Tukang Becak Jadi Taruhan

7
×

Ironi Kota Metropolitan: Jalan di Marelan Medan Hancur Bak ‘Empang’, Nyawa Ojol dan Tukang Becak Jadi Taruhan

Sebarkan artikel ini
Ironi Kota Metropolitan: Jalan di Marelan Medan Hancur Bak 'Empang', Nyawa Ojol dan Tukang Becak Jadi Taruhan

Medan, Kabarnusa24.com – Status Medan sebagai kota metropolitan dan ibu kota Provinsi Sumatera Utara kembali tercoreng. Kali ini, sorotan tajam dan keluhan keras diarahkan pada kondisi infrastruktur di Kecamatan Medan Marelan yang jauh dari kata layak. Alih-alih sekadar berlubang, jalan raya di kawasan ini kini telah bermetamorfosis menjadi ‘empang’ yang setiap saat mengancam keselamatan warga.

Ironi Kota Metropolitan: Jalan di Marelan Medan Hancur Bak 'Empang', Nyawa Ojol dan Tukang Becak Jadi Taruhan

Berdasarkan rekaman video yang dikirimkan warga kepada awak media pada Senin (8/6/2026), kerusakan aspal di Marelan terlihat sangat parah dan memprihatinkan. Permukaan jalan terkelupas, hancur, dan menyisakan cekungan-cekungan besar yang membahayakan.

Kondisi ini berubah menjadi ‘jebakan maut’ saat hujan turun. Genangan air yang menutupi seluruh permukaan jalan menyembunyikan kedalaman lubang, membuat para pengendara tidak memiliki waktu untuk menghindar dan berpotensi menyebabkan kecelakaan fatal.

Dampak dari buruknya infrastruktur ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan telah merenggut korban. Tidak terhitung lagi berapa banyak korban jiwa maupun kerugian materiil yang jatuh akibat jalan yang jelas-jelas tidak memenuhi standar keselamatan ini.

Ironi Kota Metropolitan: Jalan di Marelan Medan Hancur Bak 'Empang', Nyawa Ojol dan Tukang Becak Jadi Taruhan

Ironisnya, kaum rentan di jalanan seperti pengemudi ojek online (ojol) dan abang becak bermotor menjadi kelompok yang paling sering menjadi korban. Bagi mereka, melewati jalan Marelan bukan sekadar perjalanan, melainkan pertaruhan nyawa demi mencari nafkah.

Kondisi semrawutnya jalan di Marelan ini memunculkan pertanyaan besar mengenai komitmen, prioritas, dan kinerja Pemerintah Kota (Pemkot) Medan beserta Dinas Pekerjaan Umum (PU). Di tengah gencarnya Pemkot mempromosikan Medan sebagai kota modern yang ramah investasi, realitas di lapangan menunjukkan ketimpangan yang sangat mencolok.

Masyarakat pun mempertanyakan efektivitas anggaran perbaikan jalan yang dikucurkan setiap tahunnya. Apakah anggaran tersebut hanya habis untuk proyek tambal sulam yang tidak bertahan lama, atau ada masalah dalam pengawasan kualitas aspal dan kontraktor pelaksana?

Warga kini tidak lagi membutuhkan janji manis, kajian teknis, atau peninjauan seremonial dari para pejabat. Mereka menuntut aksi nyata dan perbaikan menyeluruh (rekonstruksi), bukan sekadar tambal sulam yang akan kembali hancur dalam hitungan minggu.

Jika Pemkot Medan terus menutup mata dan membiarkan Marelan dalam kondisi terisolasi oleh kerusakan jalan, kawasan ini akan terus menjadi ladang bahaya bagi para pencari nafkah di jalanan. Sudah berapa nyawa lagi yang harus melayang sebelum ada pejabat yang tersentuh hati nuraninya untuk segera bertindak.

 

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin