Korea Selatan, Kabarnusa24.com – Di tengah kemeriahan Busan International Dance Festival (BIDF) 2026 5-9 Juni 2026, sebuah momen hangat terjadi sesaat sebelum pertunjukan delegasi Indonesia yang menampilkan Tari Saman dari Gayo, Aceh.
Seorang perempuan paruh baya dengan senyum ramah tampak tertarik pada selembar kain adat Gayo yang dikenakan penyair Aceh, Fikar W. Eda. Perempuan itu adalah Sagong Kyung, penyair sekaligus tokoh budaya terkemuka Korea Selatan yang selama ini dikenal memiliki kecintaan mendalam terhadap Indonesia.
Pandangan Sagong Kyung tertuju pada Upuh Ulen-Ulen, kain adat kebanggaan masyarakat Gayo yang dikenakan Fikar saat membacakan puisi bersama Tim Saman Gayo.
Dengan penuh hormat, Fikar kemudian memasangkan Upuh Ulen-Ulen ke pundak Sagong Kyung.
Bagi masyarakat Gayo, Upuh Ulen-Ulen bukan sekadar kain. Ia adalah simbol kehormatan, persaudaraan, dan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun. Ketika kain itu dikenakan oleh seorang tokoh budaya Korea Selatan, seakan ada jembatan budaya yang menghubungkan dua bangsa melalui rasa hormat dan apresiasi.
Sagong Kyung bukan sosok asing bagi hubungan budaya Indonesia dan Korea Selatan. Ia merupakan Direktur Indonesia Korea Culture and Study (IKCS) yang selama bertahun-tahun aktif membangun kerja sama kebudayaan antara kedua negara.
Tak hanya menulis puisi, Ibu Sagong juga peneliti batik yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian wastra Nusantara.
Karena itu, ketika Sagong Kyung tersenyum bahagia mengenakan Upuh Ulen-Ulen di Busan, momen tersebut terasa lebih dari sekadar sesi foto. Ia menjadi simbol pertemuan dua kebudayaan yang saling menghargai, sekaligus penanda bahwa seni dan tradisi mampu melampaui batas bahasa maupun negara.
Di Busan, melalui selembar kain adat Gayo, persahabatan Indonesia dan Korea Selatan kembali menemukan cerita indahnya.***||








