YOGYAKARTA, Kabarnusa24.com || Suasana di acara forum ilmiah yang awalnya berjalan kondusif dan dihadiri mahasiswa berbagai kampus tersebut mulai memanas setelah para narasumber selesai memaparkan materi mereka di atas panggung sekitar pukul 20.30 WIB, Senin (15/06/26).
Mantan aktivis yang kini menjabat Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko pada sesi itu sempat melontarkan ajakan kepada para peserta. Untuk menyampaikan kritik secara langsung di dalam ruang diskusi, bukan di media sosial.
Situasi memanas ketika sejumlah mahasiswa melontarkan kritik tajam mengenai kelayakan ketiga pejabat tersebut dalam membahas tema Pancasila, di tengah tumpukan persoalan bangsa yang dinilai belum selesai.
Perdebatan sengit pecah hingga puluhan mahasiswa merangsek naik ke atas panggung untuk membentangkan spanduk protes bertulis UGM Menolak Pengkhianat Reformas hingga UGM Menolak Penjilat Rezim.
Situasi di dalam gedung semakin tidak terkendali saat massa mulai aksi lempar gelas air mineral ke arah narasumber di area forum, yang memaksa jalannya diskusi dihentikan seketika.
Untuk menghindari eskalasi massa yang semakin memuncak, panitia bersama petugas keamanan langsung mengevakuasi ketiga pejabat negara tersebut keluar dari Joglo GIK UGM.
Diungkapkan Ketua Serikat Mahasiswa UGM Mesa, menegaskan aksi tersebut terjadi karena para narasumber dinilai tidak bersedia menghadapi pertanyaan yang diajukan mahasiswa seputar persoalan agraria dan kebijakan pembangunan di masa pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Kejar-kejaran tadi karena mereka (para narasumber) menghindari mahasiswa. Kami tidak akan mengejar seandainya mereka menjawab satu pertanyaan saja dari kami, ‘Apakah mereka bersalah atau tidak’,” Ujarnya.
Masih dikatakan Mesa, bahwa mahasiswa hanya berusaha meminta kejelasan atas kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran melalui kabinetnya yang berdampak langsung terhadap perampasan tanah rakyat. Namun para pejabat justru melemparkan pertanyaan balik dan merasa tidak bersalah.
“Itu adalah konsekuensi pejabat publik. Kalau kami dianggap jahat, merusuh atau apa pun, sesungguhnya persoalan yang kami suarakan jauh lebih besar karena ada banyak rakyat yang tanahnya dirampas,” ujarnya.
Meskipun dihadang dengan ketat oleh barikade mahasiswa, rombongan pejabat tersebut akhirnya berhasil menembus kerumunan massa dengan pengawalan ketat kepolisian.







