Religi

Kisah Inspiratif Abu Dzar al-Ghifari: Mengkritik Pejabat yang Menumpuk Kekayaan

2
×

Kisah Inspiratif Abu Dzar al-Ghifari: Mengkritik Pejabat yang Menumpuk Kekayaan

Sebarkan artikel ini
Kisah Inspiratif Abu Dzar al-Ghifari: Mengkritik Pejabat yang Menumpuk Kekayaan
Ilustrasi

Kabarnusa24.com,– Sahabat Nabi Saw ini bernama asli Jundab bin Junadah bin Sakan al-Ghifari. Ia lebih masyhur dengan panggilan Abu Dzar al-Ghifari. Julukan “al-Ghifari” menunjukkan asalnya dari suku Ghifar, sebuah kabilah yang sebelum datangnya Islam dikenal keras dan ditakuti karena kerap dikaitkan dengan dunia perampokan. Dari latar seperti itulah ia tumbuh, hingga kemudian menjadi sahabat Nabi yang dikenal karena kejujuran, keberanian, dan hidupnya yang sederhana.

Dalam perjalanan hidupnya, Abu Dzar RA dikenal sebagai pribadi yang sangat setia dan taat kepada Nabi Muhammad Saw. Ia mengikuti ajaran beliau dengan sepenuh hati. Kesetiaan itu tidak
berhenti setelah Rasulullah wafat. Ia tetap istiqamah menjaga nilai
nilai yang telah diajarkan. Hidupnya sederhana, ucapannya jujur,
dan sikapnya tegas dalam membela kebenaran.

Keteguhan itu tampak jelas pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Saat itu, sebagian pejabat mulai menyalahgunakan kekuasaan. Ada yang hidup bermewah-mewahan, dan ada pula yang memanfaatkan harta Baitul Mal untuk kepentingan pribadi. Melihat keadaan tersebut, Abu Dzar tidak tinggal diam. Ia berani bersuara dan mengkritik secara terbuka. Ia menegur para pejabat yang melampaui batas, karena baginya kekuasaan adalah amanah, bukan sarana untuk memperkaya diri.

Abu Dzar juga dikenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap
kaum dhuafa. Kepedulian itu bukan sekadar sikap sesaat, tetapi telah
menjadi prinsip hidupnya. Ia memilih hidup sederhana dan selalu membela kaum miskin dalam setiap keadaan. Nilai-nilai ini tetap ia
pegang teguh, bahkan ketika ia berada di Syam, tanpa mengalami
perubahan sedikit pun.

Namun, di negeri itu ia justru menyaksikan kenyataan yang bertolak belakang dengan keyakinannya. Penguasa setempat, Muawiyah bin Abi Sufyan, hidup dalam kemewahan. Kekuasaan dijalankan dengan dukungan kelompok tertentu yang memperoleh berbagai keistimewaan, sehingga kekayaan hanya berputar di kalangan terbatas. Keadaan ini jelas bertentangan dengan prinsip keadilan yang diyakini Abu Dzar RA. Karena itu, ia mulai menyuarakan kritik secara terbuka, meskipun sikapnya tersebut membuatnya dianggap mengganggu para penguasa.

Keteguhan sikap Abu Dzar al-Ghifari dalam menyuarakan kebenaran semakin tampak ketika kritik-kritiknya mulai menyentuh langsung para penguasa. Ia bahkan membuat Muawiyah bin Abi Sufyan, yang saat itu menjabat sebagai gubernur, merasa tersinggung karena kritiknya yang tajam. Tidak hanya itu, Abu Dzar juga menyoroti kelemahan pemerintahan Utsman bin Affan jika dibandingkan dengan kepemimpinan sebelumnya, khususnya pada masa Umar bin Al-Khattab yang dikenal tegas dan adil.

Ia secara terbuka mengkritik praktik penumpukan harta yang dilakukan oleh para pejabat di Damaskus, termasuk Muawiyah bin Abi Sufyan. Menurut Abu Dzar al-Ghifari, kekayaan tersebut sejatinya adalah milik umat (māl al-muslimīn) yang harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat, bukan disalahgunakan oleh penguasa. Ia menolak segala bentuk dalih yang mengatasnamakan agama untuk merampas hak masyarakat. Karena itu, dalam berbagai kesempatan, ia dengan lantang mengingatkan para hartawan agar peduli terhadap kaum miskin dan tidak menimbun harta secara
berlebihan.

Seruan-seruan ini tentu saja tidak menyenangkan bagi kalangan penguasa. Aktivitasnya dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan di Damaskus. Akibatnya, Muawiyah mengambil langkah dengan mengirim Abu Dzar kembali ke Madinah untuk menghadap khalifah. Namun, di Madinah pun Abu Dzar tetap konsisten dengan prinsipnya. Ia tidak berhenti menyampaikan kritik ketika melihat adanya kebijakan yang menurutnya tidak adil.

Suatu ketika, ketika diketahui bahwa sejumlah besar harta diberikan kepada kerabat dekat khalifah, Abu Dzar al-Ghifari kembali menyampaikan tegurannya. Ia mengingatkan tentang bahaya menimbun kekayaan dengan membacakan firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 34, yang berbunyi:

“Orang-orang yang menyimpan emas dan perak, tetapi tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih.” Teguran tersebut ia sampaikan secara terbuka, tanpa rasa takut terhadap konsekuensi yang mungkin ia hadapi.

Puncak keberaniannya terlihat ketika Muawiyah membangun istana megah yang dikenal sebagai Al-Khizra. Abu Dzar mengkritiknya  dengan tegas. Ia menyatakan bahwa jika istana itu dibangun menggunakan harta negara, maka hal itu merupakan penyalahgunaan. Namun, jika dibangun dari harta pribadi, maka itu
termasuk pemborosan (israf). Ucapannya disampaikan secara lugas dan tanpa kompromi, meskipun pada akhirnya tidak mendapatkan tanggapan dari Muawiyah.

Berbagai upaya dilakukan untuk meredam pengaruh Abu Dzar RA. Ia bahkan dipertemukan dengan para ahli agama agar pandangannya dapat diluruskan. Namun, hal itu tidak mengubah pendiriannya. Ia tetap konsisten dengan prinsip keadilan dan kesederhanaan. Bahkan ketika akses masyarakat kepadanya dibatasi, banyak orang tetap datang untuk mendengar nasihatnya.

Situasi ini akhirnya sampai kepada Utsman bin Affan. Abu Dzar kemudian dipanggil kembali ke Madinah. Ia sempat ditawari fasilitas hidup yang layak, termasuk hewan ternak untuk mencukupi kebutuhannya. Namun, dengan tegas ia menolak semua itu.

Baginya, kemewahan dunia bukanlah tujuan hidup. Keberanian dan keteguhan sikap Abu Dzar menjadi teladan sepanjang zaman. Ia menginspirasi banyak tokoh besar setelahnya, seperti Hasan al-Basri dan Ahmad bin Hanbal. Bahkan Ali bin Abi Thalib RA pernah menyatakan bahwa hampir tidak ada orang yang seteguh Abu Dzar dalam menyuarakan kebenaran tanpa takut terhadap tekanan dan tuduhan.

Hikmah dari kisah ini menunjukkan bahwa Abu Dzar al-Ghifari adalah sosok yang berakhlak mulia, jujur, dan cerdas dalam bersikap. Ia bukan pribadi yang “abu-abu” atau ragu dalam menentukan sikap. Sebaliknya, ia dikenal tegas dan konsisten dalam memegang kebenaran. Ketegasan itu tidak berarti keras atau kasar, melainkan keteguhan hati untuk tetap berada di jalan yang benar dalam situasi apa pun (Djayadi, 2019).

Dalam konteks kepemimpinan, Abu Dzar RA menjadi contoh nyata keberanian moral. Ia tidak segan mengkritik penguasa ketika melihat adanya penyimpangan dari nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Baginya, kekuasaan harus dijalankan dengan amanah, bukan dengan kesewenang-wenangan. Sikap ini ia pegang hingga akhir hayatnya. Bahkan terhadap Muawiyah bin Abi Sufyan sekalipun, ia tetap berani menyampaikan nasihat dan kritik demi menegakkan kebenaran.

 

Sumber: Kisah Inspiratif Ulama Melawan Korupsi dikutip dari buku Nyala Obor Integritas terbitan Kemenag RI

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin