TAPANULI TENGAH —Kabarnusa24.com)Banjir kembali menerjang kawasan Bona Lumban, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, pada Sabtu (26/9/2026). Bencana yang kembali merendam kawasan tersebut membuat warga mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan banjir yang hingga kini belum kunjung tuntas.
Persoalan banjir di Bona Lumban bukanlah kejadian baru. Warga mengaku sudah cukup lama menunggu adanya penanganan sungai secara permanen. Namun, setiap kali hujan deras dan debit air meningkat, ancaman banjir kembali menghantui masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Jika persoalan sungai sudah lama diketahui, mengapa penanganannya belum juga menghasilkan solusi yang benar-benar mampu mencegah banjir berulang?
Pantauan awak media di lokasi menunjukkan adanya alat berat yang melakukan pekerjaan di sekitar sungai. Material pasir digunakan untuk membuat tanggul atau bendungan sebagai upaya menahan aliran air. Namun, pekerjaan tersebut kembali dipertanyakan karena tanggul yang dibuat disebut warga mudah rusak dan hanyut ketika banjir datang.
Warga berinisial FG mengatakan masyarakat sudah lelah menghadapi persoalan yang terus berulang. Menurutnya, warga bukan hanya membutuhkan bantuan ketika banjir datang, tetapi membutuhkan penanganan sungai yang mampu memberikan rasa aman dalam jangka panjang.
Hal senada disampaikan warga berinisial JK. Ia mempertanyakan efektivitas pekerjaan yang dilakukan apabila tanggul yang dibangun kembali hanyut saat diterjang derasnya arus sungai. Kondisi tersebut menurut warga membuat masyarakat bertanya-tanya mengenai manfaat pekerjaan yang telah dilakukan.
Sorotan semakin tajam karena pekerjaan di lokasi disebut menggunakan anggaran pemerintah. Warga mempertanyakan apakah penggunaan anggaran tersebut telah memberikan hasil yang sebanding dengan kebutuhan masyarakat. Apabila pekerjaan kembali rusak setiap kali banjir, publik tentu berhak meminta penjelasan mengenai perencanaan dan kualitas pekerjaan tersebut.
Pertanyaan lain yang muncul adalah berapa besar anggaran yang telah digunakan untuk penanganan sungai Bona Lumban, siapa pihak yang mengerjakan, bagaimana spesifikasi teknisnya, serta apakah pekerjaan tersebut telah melalui perencanaan berdasarkan kondisi dan karakter sungai di lapangan.
Di tengah keresahan itu, muncul pula dugaan dari sebagian warga bahwa persoalan banjir seolah dibiarkan terus berulang sehingga bantuan kembali datang setiap kali bencana terjadi. Dugaan tersebut masih merupakan pernyataan warga dan belum dapat dibuktikan secara independen, sehingga diperlukan klarifikasi dan data dari pemerintah maupun pihak terkait.
Terlepas dari dugaan tersebut, satu hal yang menjadi persoalan nyata adalah banjir kembali terjadi dan masyarakat kembali merasakan dampaknya. Warga tidak seharusnya terus-menerus berada dalam siklus yang sama: banjir datang, bantuan disalurkan, tanggul dibangun, kemudian rusak dan persoalan kembali terulang.
Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya hadir setelah bencana terjadi. Penanganan seharusnya diarahkan pada solusi jangka panjang, termasuk kajian kondisi sungai, penguatan tebing, normalisasi apabila memang diperlukan, serta pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang sesuai dengan kondisi teknis di lapangan.
Publik juga meminta pemerintah membuka informasi secara transparan mengenai penggunaan anggaran penanganan sungai tersebut. Keterbukaan mengenai nilai anggaran, sumber dana, pelaksana pekerjaan, spesifikasi teknis, progres pekerjaan, hingga hasil pengawasan penting agar masyarakat mengetahui ke mana uang rakyat digunakan.
Jika pekerjaan yang dilakukan ternyata memang bersifat sementara, pemerintah perlu menjelaskan alasan dan dasar teknisnya kepada masyarakat. Jangan sampai pekerjaan yang menggunakan uang negara hanya menghasilkan tanggul yang bertahan sementara, sementara ketika banjir datang masyarakat kembali menjadi pihak yang menanggung kerugian.
Kini warga Bona Lumban menunggu jawaban dan tindakan nyata pemerintah. Mereka tidak sekadar membutuhkan bantuan setelah banjir, tetapi membutuhkan solusi permanen agar banjir tidak terus menjadi ancaman tahunan. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah dan pihak terkait diharapkan segera memberikan penjelasan sekaligus memastikan penanganan sungai dilakukan secara serius, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
(Hasanuddingulo)







