Daerah

Bukan Sekadar Pintar di Kelas, SMAN 1 Pasirian Cetak Puluhan Karya Guru dan Siswa Berbasis AI

4
×

Bukan Sekadar Pintar di Kelas, SMAN 1 Pasirian Cetak Puluhan Karya Guru dan Siswa Berbasis AI

Sebarkan artikel ini
Bukan Sekadar Pintar di Kelas, SMAN 1 Pasirian Cetak Puluhan Karya Guru dan Siswa Berbasis AI

Bukan Sekadar Pintar di Kelas, SMAN 1 Pasirian Cetak Puluhan Karya Guru dan Siswa Berbasis AI

LUMAJANG,Jatim mandiri — Budaya belajar di SMA Negeri 1 Pasirian (Smapas), Kabupaten Lumajang, mulai diarahkan tidak hanya untuk mengejar kemampuan akademik. Sekolah ini mendorong guru dan siswa berani menghasilkan karya, memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI), serta mengubah kemampuan literasi menjadi produk yang dapat digunakan dan dipublikasikan.

 

Hasilnya, sebanyak 48 modul ajar berbasis AI dan 48 media pembelajaran digital telah dihasilkan para guru. Dari kalangan siswa, lahir lebih dari 50 karya literasi, 50 artikel berita, serta lebih dari 10 siniar (podcast) yang mengangkat isu pendidikan, sosial, dan lingkungan.

 

Kepala SMAN 1 Pasirian, Hari Kurniawan, S.T., M.Pd., mengatakan perkembangan teknologi membuat dunia pendidikan tidak bisa lagi hanya berorientasi pada kemampuan siswa menyelesaikan soal.

 

Menurut dia, sekolah harus mampu membentuk generasi yang kreatif, produktif, dan memiliki keberanian untuk menghasilkan karya.

 

> “Pendidikan saat ini dituntut untuk melahirkan generasi yang kreatif, produktif, dan mampu menghasilkan karya, bukan hanya sekadar mencetak lulusan yang pandai mengerjakan soal,” ujar Hari.

 

Atas dasar itu, Smapas membangun budaya literasi yang tidak berhenti pada aktivitas membaca. Guru dan siswa didorong untuk melangkah lebih jauh, yakni mengolah pengetahuan menjadi gagasan, kemudian menuangkannya dalam bentuk karya.

 

Di lingkungan guru, misalnya, karya tidak lagi terbatas pada perangkat pembelajaran. Sejumlah guru telah menghasilkan buku ajar, buku cerita, buku referensi hingga komik digital yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran dan perkembangan zaman.

 

Dorong Guru Berinovasi

 

Upaya tersebut diwujudkan melalui sejumlah program unggulan. Salah satunya Gelis Al Smapas, atau Gerakan Literasi dan Inovasi Berbasis AI.

 

Program ini mendorong guru memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mengembangkan modul, bahan ajar digital, serta media pembelajaran interaktif.

 

Ada pula Gelas Kaca, singkatan dari Gerakan Literasi Siswa dan Karya Cipta. Program tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan ide, gagasan, dan kreativitas melalui karya tulis maupun artikel digital.

 

Sementara melalui program Satu Guru Satu Inovasi, setiap guru didorong melahirkan inovasi yang tidak hanya bermanfaat bagi proses pembelajaran di kelas, tetapi juga memiliki nilai kontekstual dan berpotensi diterapkan di sekolah lain.

 

Program itu diperkuat dengan Klinik Perangkat Ajar, kepenulisan, jurnalistik, Karya Ilmiah Remaja (KIR), serta pembiasaan literasi selama 15 menit.

 

Budaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Karya yang dihasilkan guru dan siswa tidak sekadar menjadi dokumen yang tersimpan di sekolah. Sebagian telah diterbitkan, ditempatkan di perpustakaan sekolah, dipasarkan melalui platform daring, hingga digunakan sebagai rujukan dalam pembelajaran.

 

Selain 48 modul ajar berbasis AI dan 48 media pembelajaran digital, siswa Smapas juga telah menghasilkan lebih dari 50 karya literasi dan lebih dari 50 artikel berita.

 

Mereka juga mengembangkan lebih dari 10 podcast yang membahas persoalan pendidikan, sosial, dan lingkungan.

 

Sementara tingkat partisipasi dalam pembiasaan literasi 15 menit telah mencapai 95 persen dari total siswa.

 

Membaca Saja Tidak Cukup

 

Bagi Hari, capaian tersebut menjadi bukti bahwa literasi tidak semestinya dimaknai sebatas kemampuan membaca. Literasi harus berujung pada kemampuan memahami, mengolah informasi, berpikir kritis, dan menghasilkan karya.

 

Ia menilai seseorang yang hanya membaca tanpa pernah mencoba menulis akan kehilangan pengalaman penting dalam memahami bagaimana sebuah gagasan diterima oleh pembaca.

 

Karena itu, sekolah perlu menyediakan ruang yang cukup bagi guru dan siswa untuk berkarya. Dukungan fasilitas teknologi, pendampingan, apresiasi, serta ruang publikasi menjadi bagian penting agar keberanian menghasilkan karya terus tumbuh.

 

Penguatan budaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Smapas mewujudkan visi sebagai lembaga pendidikan yang unggul, berakhlak mulia, dan berwawasan global.( D.S )

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin