BANDUNG — Perhelatan pameran perhiasan berskala nasional yang berlangsung di Kotal Bandung mendapat respons positif dan dukungan penuh dari Pemerintah Kota. Wali Kota Bandung, Erwin secara terbuka menyampaikan apresiasinya dan meminta agar agenda strategis ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
Menurutnya, Kehadiran pameran ini dinilai memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta multiplier effect yang masif bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Kembang, katanya.

Dalam kesempatanya sekjen asosiasi pengusaha emas dan permata Indonesia (APEPI) Iskandar Husein menyampaikan bahwa kegiatan ini sudah melalui persiapan matang oleh panitia dengan memakan waktu hingga satu bulan penuh sebelum pembukaan, mulai dari pembangunan infrastruktur booth yang megah hingga keterlibatan ratusan tenaga kerja dengan skala besar dari pameran ini, ditambah dengan sektor penunjang seperti jasa pengamanan serta pelaku industri kuliner, hingga akomodasi perhotelan ikut merasakan dampak langsung.
Mengingat para tamu dan pembeli potensial datang dari berbagai penjuru Indonesia bahkan luar negeri dengan rata-rata masa tinggal (length of stay) berkisar antara dua hingga empat hari, tingkat okupansi hotel di sekitar lokasi pameran pun melonjak signifikan.
”Apresiasi dari Pak Wali Kota Bandung merupakan kehormatan besar bagi kami. Beliau sangat mendukung dan meminta agar pameran ini terus berjalan secara rutin. Dampaknya sangat terasa pada PAD kota, mulai dari hotel-hotel yang penuh hingga perputaran di sektor kuliner karena tamu yang datang bertahan hingga empat hari di sini,” ujar Iskandar selepas menerima kehadiran Walikota Bandung Erwin di Sudirman Grand Ballroom, Kamis 11 juni 2026.
Meskipun tidak menargetkan volume transaksi yang sebesar-besarnya, pihak asosiasi menekankan bahwa esensi utama dari pameran ini melampaui angka penjualan semata. Ajang ini dirancang sebagai platform promosi bersama sekaligus media edukasi bagi masyarakat luas, tambahnya.
Dalam event ini, Pengunjung diberikan pemahaman langsung mengenai cara memilih perhiasan yang aman, baik, serta memiliki kualitas yang terstandarisasi. Sebagai daya tarik tambahan, pameran menghadirkan ribuan koleksi desain eksklusif yang dibawa oleh para perajin dan pengusaha dari seluruh Indonesia.
” Kesempatan langka ini dimanfaatkan oleh para kolektor dan pencinta perhiasan untuk melengkapi koleksi mereka, ditambah dengan berbagai program apresiasi belanja berupa hadiah langsung yang hanya tersedia selama periode pameran berlangsung, ujar Iskandar Husin.
Pameran kali ini diikuti oleh sedikitnya 60 pengusaha perhiasan terkemuka yang bernaung di bawah asosiasi APEPI. Di luar jumlah tersebut, pameran juga melibatkan para penyedia infrastruktur dan mesin peralatan produksi perhiasan. Kehadiran sektor hilir teknologi ini dinilai sangat krusial bagi pengembangan kapasitas pengrajin lokal, baik yang berbasis material perak, tembaga, maupun logam mulia.
Melalui modernisasi alat bantu produksi yang dipamerkan, para pengrajin daerah dapat melihat langsung teknologi tepat guna yang mampu meningkatkan presisi dan kualitas akhir produk mereka. Dengan harga peralatan pendukung yang relatif terjangkau, inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri para pelaku UMKM kreatif dalam memasarkan produk hasil desain mandiri ke pasar global yang lebih kompetitif.
Di tengah dinamika pelaksanaan pameran, pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat dan gejolak ekonomi makro turut menjadi perhatian para pelaku usaha. Menanggapi situasi tersebut, Ketua Umum APEPI Jefri Tumewa menjelaskan bahwa komoditas emas dalam sepekan terakhir tengah berada dalam fase konsolidasi harga yang wajar akibat tarik-menarik sentimen global.

Ketidakpastian geopolitik global saat ini memicu tingginya angka inflasi di berbagai belahan dunia. Guna meredam laju inflasi tersebut, sejumlah bank sentral memilih kebijakan moneter ketat dengan mempertahankan suku bunga tinggi, yang secara historis menjadi sentimen negatif bagi daya tarik emas non-yielding (tidak memberikan imbal hasil langsung)
Dirinya menjelaskan, Langkah beberapa bank sentral yang melepas cadangan devisa atau emas mereka untuk stimulus ekonomi domestik turut memberikan tekanan jangka pendek terhadap harga komoditas ini, ungkapnya.
Lanjut disampaikan Jefry, kendati demikian, pasar tetap tertopang oleh aksi korporasi bank sentral negara lain yang justru terus memanfaatkan momentum penurunan harga untuk menambah akumulasi cadangan emas mereka sebagai aset lindung nilai (hedging).
” Jadi dengan situasi sekarang ini di mana geopolitik dan geo ekonomi yang kurang baik emas tetap menjadi alat untuk investasi yang paling baik. Di mana pameran ini untuk menemukan siklus ekonomi secara global di Indonesia,” pungkasnya.







