Nasional

Kemenperin : Ekspor Indonesia ke Armenia Melesat 83 Persen, Kedua Negara Rintis Kerja Sama Industri Baru di INNOPROM 2026

4
×

Kemenperin : Ekspor Indonesia ke Armenia Melesat 83 Persen, Kedua Negara Rintis Kerja Sama Industri Baru di INNOPROM 2026

Sebarkan artikel ini
Kemenperin : Ekspor Indonesia ke Armenia Melesat 83 Persen, Kedua Negara Rintis Kerja Sama Industri Baru di INNOPROM 2026
Foto : Dok.Ist/Kemenperin

JAKARTA, Kabarnusa24.com
Indonesia dan Armenia memperkuat kemitraan industri melalui pertemuan bilateral antara Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita dengan Menteri Ekonomi dan Perdagangan Republik Armenia H.E. Gevorg Papoyan, di sela pembukaan resmi INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia.

“Pada Tahun 2026, kita menandai 34 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Armenia sejak dijalin pada 22 September 1992, sebuah tonggak penting yang mencerminkan komitmen bersama untuk terus memperkuat kerja sama ekonomi dan industri kedua negara. Saya meyakini semangat kemitraan yang telah terbangun selama lebih dari tiga dekade tersebut akan terus terjaga dan semakin berkembang, sehingga dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dan memberikan manfaat bagi kedua negara,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Ekaterinburg, saat pertemuan bilateral dengan negara Armenia.

Menperin menyampaikan, hubungan kerja sama kedua negara terus menunjukkan perkembangan yang positif. Total perdagangan Indonesia-Armenia pada 2025 mencapai USD26,7 juta, dengan tren peningkatan rata-rata 70,64 persen per tahun selama periode 2021-2025, seluruhnya ditopang sektor non-migas. Ekspor Indonesia ke Armenia mencapai USD26,2 juta pada 2025, dengan tren kenaikan sebesar 83,63 persen per tahun.

Komoditas utama ekspor Indonesia ke Armenia antara lain kopi, teh, rempah-rempah, mesin dan peralatan mekanik, produk minyak sawit, kakao, sabun, karet, serat optik, instrumen musik, serta produk kulit.

Sementara itu, impor Indonesia dari Armenia yang masih terbatas dipandang sebagai peluang, mengingat keunggulan komparatif Armenia pada produk aluminium, mesin dan peralatan mekanik, peralatan listrik, tembakau, serta pakaian jadi.

Struktur perdagangan yang saling melengkapi ini dinilai menjadi landasan yang kuat bagi perluasan kerja sama industri, investasi, dan pengembangan rantai pasok kedua negara ke depan.

“Indonesia memandang Armenia bukan hanya sebagai mitra bilateral, melainkan juga sebagai pintu strategis menuju kawasan CIS yang dinamis melalui keanggotaannya dalam Eurasian Economic (EAEU), yang turut memberikan nilai tambah signifikan bagi pengembangan kerja sama industri kedua negara ke depan,” kata Menperin.

Momentum kerja sama ini turut didukung oleh Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) yang ditandatangani pada 21 Desember 2025 di St. Petersburg. Perjanjian tersebut membuka akses pasar ke kawasan Eurasia dengan populasi hampir 180 juta jiwa, dengan lebih dari 85 persen nilai perdagangan memperoleh preferensi tarif.

Sebagai wujud komitmen memperkuat landasan kerja sama industri kedua negara, Kementerian Perindustrian telah menyampaikan rancangan Memorandum of Understanding on Industrial Cooperation kepada Pemerintah Armenia melalui jalur diplomatik.

Rancangan MoU tersebut mengusulkan ruang lingkup kerja sama yang mencakup pertukaran informasi dan pemahaman standar teknis serta regulasi industri, penguatan kerja sama bisnis, alih teknologi, dan keterkaitan rantai pasok industri, penyelenggaraan dialog dan forum bisnis bersama, pengembangan kawasan industri, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia.

Kementerian Perindustrian berharap rancangan MoU tersebut dapat segera memperoleh tanggapan positif dari pihak Armenia sehingga proses finalisasi dapat segera dimulai.

Pertemuan bilateral dengan Armenia merupakan bagian dari rangkaian pertemuan bilateral Menperin pada hari pertama INNOPROM 2026, yang turut mencakup pertemuan dengan sejumlah negara lain.

INNOPROM 2026 sendiri diikuti hampir 900 peserta pameran dari lebih dari 50 negara pada area seluas 50.000 meter persegi, menjadikannya pameran industri terbesar di kawasan Eurasia.

Bagi Indonesia, keikutsertaan sebagai Partner Country pada INNOPROM 2026 turut menjadi momentum strategis untuk memperkuat branding industri nasional di pasar Eurasia, membuka peluang investasi dan alih teknologi, serta menjalin kemitraan industri baru, termasuk dengan Armenia.

Kementerian Perindustrian berharap inisiasi MoU serta pembahasan berbagai peluang kerja sama ini dapat segera ditindaklanjuti melalui saluran-saluran resmi, sehingga membawa manfaat nyata bagi penguatan industri kedua negara.(Rizky Tile)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin