DaerahPolitik

Dedi Mulyadi Tanggapi Pernyataan Panji Gumilang: “Aing” Bukan Kata Kasar, Melainkan Simbol Kesetaraan

6
×

Dedi Mulyadi Tanggapi Pernyataan Panji Gumilang: “Aing” Bukan Kata Kasar, Melainkan Simbol Kesetaraan

Sebarkan artikel ini
Dedi Mulyadi Tanggapi Pernyataan Panji Gumilang: "Aing" Bukan Kata Kasar, Melainkan Simbol Kesetaraan

 

Indramayu, kabarnusa24.com

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi pernyataan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Zaytun, Panji Gumilang, yang belakangan viral terkait penggunaan kata “aing” yang kerap dianggap sebagai ungkapan kasar.

Menurut Dedi Mulyadi, kata “aing” dalam budaya Sunda memiliki makna yang jauh lebih dalam dan tidak dapat serta-merta dimaknai sebagai bentuk kesombongan atau penghinaan.

“Buat Bapak Panji Gumilang, saya sangat mengapresiasi apa yang Bapak sampaikan. Perlu diketahui bahwa kalimat aing itu bukan kalimat kesombongan, tetapi kalimat kesetaraan,” ujar Dedi Mulyadi.

Dedi menjelaskan, pada masa Kerajaan Sunda, masyarakat tidak mengenal sistem kasta maupun tingkatan sosial antarmanusia. Karena itu, penggunaan kata “aing” mencerminkan prinsip kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia menuturkan bahwa kata tersebut sejak lama populer digunakan di wilayah Banten. Hal itu berkaitan dengan sejarah Kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan Pajajaran (kini Bogor) dengan wilayah kekuasaan yang membentang hingga Banten, sebelum kemudian berdiri Kesultanan Banten setelah masuknya pengaruh Islam.

Selain itu, Dedi menyebut penggunaan kata “aing” juga memiliki jejak dalam sejarah penyebaran Islam di Tatar Sunda. Ia mencontohkan sosok Baing Yusuf, seorang tokoh penyebar agama Islam di wilayah Purwakarta dan sekitarnya.

Menurut Dedi, sebutan “Baing” merupakan singkatan dari “Bapak Aing”, yang mencerminkan kedekatan hubungan antara pemimpin spiritual dengan umatnya.

“Baing itu adalah Bapak Aing. Artinya, itu menjadi cermin penyatuan antara pemimpin dan rakyat, sehingga umat merasa memiliki guru sekaligus pemimpin spiritual,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dedi menerangkan bahwa konsep undak usuk basa atau tingkatan bahasa dalam budaya Sunda berkembang setelah wilayah Tatar Sunda, khususnya Priangan, berada di bawah pengaruh Kerajaan Mataram.

Sejak saat itu, muncul ragam bahasa seperti aing, abdi, sim kuring, hingga jisim kuring, yang digunakan sesuai dengan situasi dan lawan bicara.

Dedi juga membandingkan kata “aing” dengan istilah “kula” atau “kulo” dalam bahasa Jawa. Menurutnya, kedua kata tersebut sama-sama merepresentasikan hubungan manusia dengan Sang Pencipta serta mencerminkan nilai kesederajatan dalam budaya masing-masing.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin