Nasional

Kuliah Umum STPN, Menteri ATR/BPN Nusron Tekankan Tradisi Dialektika Berpikir Tak Boleh Mati di Politeknik Agraria

7
×

Kuliah Umum STPN, Menteri ATR/BPN Nusron Tekankan Tradisi Dialektika Berpikir Tak Boleh Mati di Politeknik Agraria

Sebarkan artikel ini
Kuliah Umum STPN, Menteri ATR/BPN Nusron Tekankan Tradisi Dialektika Berpikir Tak Boleh Mati di Politeknik Agraria
Foto : Dok.ATR/BPN

SLEMAN, KABARNUSA24.COM
Suasana akademis yang dinamis dan terbuka menyelimuti Kuliah Umum di Politeknik Agraria STPN, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, serta pengamat sosial dan filsuf Rocky Gerung sebagai pembicara utama, dihadiri ratusan Taruna/i dan jajaran pejabat Kementerian ATR/BPN.

Dalam sambutannya, Menteri Nusron Wahid secara tegas menekankan pentingnya menjaga tradisi dialektika berpikir di lingkungan akademik, meskipun kampus ini berstatus sekolah semi-kedinasan.

Menurutnya, keberagaman pandangan dan pertukaran gagasan justru menjadi kekayaan intelektual yang harus terus dipelihara.

“Tradisi dialektika berpikir tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya kritik dan kritis terhadap negara, termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” ujar Menteri Nusron di hadapan para Taruna/i.


Kuliah Umum STPN, Menteri ATR/BPN Nusron Tekankan Tradisi Dialektika Berpikir Tak Boleh Mati di Politeknik Agraria
Foto : Dok.ATR/BPN

Menteri Nusron menjelaskan bahwa perbedaan pemikiran justru memperkaya wawasan, selama setiap pihak diberikan ruang yang setara untuk menyampaikan dan mempertukarkan gagasannya. Ia menggunakan analogi yang dikenal sebagai “filsafat apel” untuk menggambarkan perbedaan antara pertukaran benda dan pertukaran pemikiran.

“Kalau ada dua orang, saya dan Rocky, masing-masing punya satu apel, lalu kita tukarkan, maka masing-masing tetap hanya memiliki satu buah apel. Hasilnya sama, tidak bertambah,” jelas Menteri Nusron.

Namun hal yang berbeda terjadi ketika yang dipertukarkan adalah pemikiran. “Tetapi kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda. Itulah kelebihannya kita saling memperkaya cara pandang,” tambahnya.

Ia berharap tradisi kuliah umum dan kebebasan bertukar pikiran di Politeknik Agraria STPN dapat terus berjalan sebagai ruang terbuka bagi seluruh civitas akademika. “Berbagi pendapat itu akan menjadikan kita kaya akan pandangan dan kaya akan wawasan. Jangan takut berbeda pendapat, karena di situlah kemajuan berpikir dimulai,” tegasnya.

Kuliah umum tersebut mengusung tema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan”. Selain Menteri Nusron, Rocky Gerung hadir sebagai pembicara kedua yang memaparkan pandangan filosofisnya mengenai pentingnya perdebatan dalam proses keilmuan.

Rocky Gerung menegaskan bahwa sebuah pemikiran tidak akan berkembang jika tidak pernah diuji dengan bantahan. “Pikiran itu, kalau tidak ada yang membantah, ia menjadi doa. Doa tidak boleh dibantah, tetapi pikiran harus bisa dibantah. Itulah perbedaannya,” ungkapnya tajam.

Di hadapan para Taruna/i, Rocky juga menjelaskan pendekatan filosofis yang digunakannya untuk mengajak peserta kembali menelusuri akar dari berbagai konsep dasar. “Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofis untuk membongkar akarnya, supaya muncul konsep-konsep yang radikal dalam artian mendasar,” ujarnya.

“Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Begitu juga kita membongkar pikiran, supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu inti dari pendekatan yang saya bawa hari ini,” pungkasnya.

Dalam paparannya, Rocky Gerung menyampaikan tiga pemaknaan mendasar mengenai pengelolaan tanah di Indonesia. Pertama, bagi masyarakat adat, tanah memiliki nilai magis dan sakral karena berkaitan erat dengan kehidupan serta warisan leluhur.

Kedua, bagi negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui pengaturan, perundang-undangan, dan tata kelola yang menjamin manfaat seluas-luasnya bagi rakyat.

Ketiga, bagi korporasi, tanah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai bisnis dan ekonomi, namun tetap harus sejalan dengan dua pemaknaan sebelumnya.

Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta lebih dari 500 Taruna/i Politeknik Agraria STPN.

Melalui dialog terbuka ini, diharapkan lahir pemikiran-pemikiran baru yang memperkuat tata kelola pertanahan yang adil dan berkeadilan sosial.(Rizky Tile)

Penulis

  • Admin

    Profil Pempred kabarnusa24.com

     

    Kuliah Umum STPN, Menteri ATR/BPN Nusron Tekankan Tradisi Dialektika Berpikir Tak Boleh Mati di Politeknik Agraria
    Foto: SUHAEB RIZAL M
    PEMIMPIN REDAKSI KABARNUSA24.COM

    Nama: SUHAEB RIZAL M

    Kelahiran : BEKASI

    Tanggal lahir : 23 Oktober 1979

    Nama Media : KABARNUSA24.COM

    PERUSAHAAN : PT. Internusa Media Group

    Jabatan : PEMIMPIN REDAKSI

    Alamat Redaksi : Jl. Pertamina Gas No. 44 Karangbahagia Bekasi

    Email: [email protected]

    Pengalaman Jurnalis : global news, Indometro.id, kabarnusa24.com

    Jenjang Wartawan : KOMPETENSI WARTAWAN MUDA (SERTIPIKAT DEWAN PERS)

    Visi : Mewujudkan Pemberitaan Yang Berimbang dengan Semangat Kemitraan

    Misi:

    1. Membantu Masyarakat Luas dalam dunia informasi On line yang Benar dan Akurat

    2. Membantu Pemerintah dalam Mensosialisasikan Program Kerja dalam Pengawalan Sosial Kontrol

    3. Menciptakan Kondusifitas Nasional melalui media

     

    Moto Pribadi :

    Jujur, benar, berani

    (Kejujuran akan membawamu kepada kebenaran yang pada titik nadirmu berteriak perjuangkan dengan keberanian)

    Semboyan:

    "Penaku bukan penamu, melejit menggema aungkan kepribadian yang mencerdaskan nusantara"

     

     

     

Jurnalist: Dewi Apriatin