Religi

Konsep Amal Shaleh dalam Kehidupan Muslim

9
×

Konsep Amal Shaleh dalam Kehidupan Muslim

Sebarkan artikel ini
Konsep Amal Shaleh dalam Kehidupan Muslim

Kabarnusa24.com,– Dalam khutbah pertama setiba di Yastrib (Madinah) pada peristiwa hijrah dari Makkah pada abad ke 7 Masehi, Nabi Muhammad Saw antara lain menegaskan:

“Barangsiapa dapat melindungi wajahnya dari api neraka, sekalipun hanya dengan sebutir kurma, lakukanlah. Kalau itu pun tidak ada, maka dengan tutur kata yang baik. Sebab dengan demikian, kebaikan itu mendapat balasan sepuluh kali lipat.”

Pesan bersejarah yang disampaikan oleh Rasulullah itu dinukilkan oleh Muhammad Husain Haekal dalam karya monumentalnya Sejarah Hidup Muhammad terjemahan Ali Audah (1972).

Dalam kesempatan lain Nabi menyebut beberapa contoh amal shaleh yang pahala jariyahnya tidak akan terputus setelah seorang muslim meninggal dunia:

“Amal shaleh yang akan menyusul seorang mukmin setelah meninggal dunia ialah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak shaleh yang ditinggalkan, mushaf Al-Qur’an yang dia wariskan, masjid yang dia bangun, rumah singgah bagi musafir yang dia dirikan, sungai (irigasi) yang dia alirkan, dan sedekah yang dia keluarkan ketika sehat dan masih hidup.” (H.R. Ibnu Majah dan Baihaqi)

Sesuai makna hadis di atas, amal jariyah dalam lingkup kepentingan keagamaan dan kepentingan kemanusiaan memiliki posisi sejajar dalam agama. Hadis lain menerangkan:

“Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, terputuslah amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Islam mengintegrasikan seluruh dimensi kehidupan manusia berlandaskan tauhid dan ibadah kepada Allah Swt. Grand Syaikh Universitas Al-Azhar Cairo di masanya, Prof. Dr. Syaikh Mahmoud Syaltout, dalam buku Tuntunan Islam (Jilid 1) menjelaskan bahwa kebaikan dalam beramal memiliki dua unsur yaitu:

Pertama, unsur yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, yaitu ketika manusia beribadah dengan khusyuk sehingga memperoleh ketenteraman batin dan kekuatan dalam menghadapi kehidupan.

Kedua, unsur yang menghubungkan manusia dengan sesamanya, yaitu amal shaleh yang mempersatukan dalam suka dan duka sehingga tumbuh kasih sayang, kepedulian, dan semangat tolong-menolong.

Syaikh Mahmoud Syaltout lebih lanjut mengungkapkan bahwa dalam Islam terdapat dua bentuk janji yang wajib ditunaikan, yakni janji antara hamba dengan Tuhannya berupa kewajiban dan hukum-hukum agama, serta janji antarsesama manusia berupa akad dan kewajiban sosial, baik yang bersifat khusus maupun umum.

Prinsip-prinsip relasi kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan ditegaskan dalam Al-Quran dalam hal balasan atau rewards kepada orang-orang yang beramal shaleh  semasa hidupnya. Allah berfirman,

“Barangsiapa mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, selama ia benar-benar beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.” (QS An-Nisa [4]: 124).

Prof. Dr. Muhammad al-Bahi menuturkan dalam bukunya Islam Dalam Kehidupan Umatnya bahwa orang yang tujuan hidupnya mencari keridhaan Allah pasti akan berbuat untuk kepentingan sesama hidup. Orang yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri belum sepenuhnya merasakan keindahan akidah Islamiyah.

Pengertian dan ruang lingkup amal shaleh dalam Islam mencakup kemaslahatan individu dan sosial, dunia dan akhirat, fisik material dan mental spiritual. Dalam ayat Al Quran diungkapkan,

“Barangsiapa yang datang kehadapan Tuhan dengan (membawa) satu kebajikan, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat. Barangsiapa datang dengan (membawa) satu kejahatan, maka tiada ia dibalasi lebih dari kejahatan (yang sama). Dan ia takkan dizalimi sedikit pun.”  (Q.S. Al An’am [6]: 160).       

Seorang muslim idealnya menjadi pembuka kebajikan di mana saja dan dalam peran apa pun. Bahkan sebuah ungkapan menyatakan, sedekah terbaik seorang pejabat adalah kebijakannya, dan sebaliknya dosa terberat seorang pejabat adalah kebijakan yang tidak adil dan menyusahkan rakyatnya.

Nabi bersabda, “Sesungguhnya kebajikan itu bagai khazanah (tempat penyimpanan) yang mempunyai kunci. Berbahagialah orang yang dijadikan Allah kunci pembuka kebajikan, penutup kejahatan, dan celakalah orang menjadi kunci pembuka kejahatan, penutup kebajikan.” (H.R. Ibnu Majah).

Setiap muslim dianjurkan agar menanam kebajikan yang akan mengantarkan seseorang pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Sangat tepat Muhammad Quthub, sebagaimana dikutip Prof. K.H. Zainal Abidin Ahmad dalam Khutbah Pembangunan & Perjuangan menyatakan, “Jalan untuk dunia dan jalan untuk akhirat hanya satu itu juga. Apa yang dinamakan ibadat untuk akhirat dan apa yang dinamakan kerja/usaha untuk dunia, sebenarnya adalah sama dan satu juga, yang semuanya dinamakan dengan istilah amal shaleh.”

Wallahu a’lam bisshawab.

Sumber: Mimbar Agama Kemenag

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin