DaerahKesehatan

Warga Gunungsari Tri Atini Sempat Terpuruk Divonis Gagal Ginjal Stadium 5, Kini Bangkit dan Kembali Produktif

12
×

Warga Gunungsari Tri Atini Sempat Terpuruk Divonis Gagal Ginjal Stadium 5, Kini Bangkit dan Kembali Produktif

Sebarkan artikel ini
Warga Gunungsari Tri Atini Sempat Terpuruk Divonis Gagal Ginjal Stadium 5, Kini Bangkit dan Kembali Produktif

 

Indramayu, kabarnusa24.com

Langit seolah runtuh bagi Tri Atini (30), warga Desa Gunungsari, Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu, ketika dirinya harus menghadapi kenyataan pahit setelah didiagnosis mengalami penyakit ginjal kronis stadium akhir.

Kisah itu bermula saat Tri bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan. Saat berada di negeri orang, ia mulai sering mengalami sakit hingga akhirnya diketahui mengalami gangguan pada ginjal.

Setelah kembali ke Indonesia, kondisi kesehatannya justru semakin memburuk. Pada 2024, dokter menyatakan Tri mengalami penyakit ginjal kronis stadium 5.

Vonis tersebut sempat membuat semangat hidup Tri runtuh. Tubuhnya semakin lemah, sejumlah keluhan kesehatan muncul, bahkan kehidupan rumah tangganya pun harus berakhir.

Di tengah kondisi tersebut, secercah harapan mulai muncul ketika Tri dipertemukan dengan Bripka Rusmanto, anggota kepolisian yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas Desa Singaraja, Polsek Indramayu. Pertemuan itu terjadi atas saran dari salah seorang saudaranya.

Di luar tugasnya sebagai polisi, Bripka Rusmanto memberikan pendampingan secara personal kepada Tri. Dengan pendekatan yang hangat, doa, serta dukungan psikologis, ia membantu Tri menghadapi kecemasan dan tekanan yang dirasakannya.

Bripka Rusmanto juga terus memberikan motivasi agar Tri tidak menyerah dan tetap menjalani pengobatan medis yang dianjurkan dokter.

Perlahan, kondisi Tri mulai menunjukkan perubahan. Kini ia sudah dapat kembali beraktivitas dengan lebih normal.

Meski masih harus menjalani cuci darah dua kali dalam sepekan, berbagai keluhan yang sebelumnya membuatnya tidak berdaya kini disebut jauh berkurang.

Semangat Tri untuk bangkit pun semakin terlihat. Ia mulai kembali produktif dengan merintis usaha kue sekaligus jasa titip (jastip) barang dari luar negeri.

“Saya bawa happy aja, Mas. Yang lalu nggak mau dijadikan beban pikiran,” ujar Tri.

Kisah Tri menjadi gambaran bahwa perjalanan menghadapi penyakit berat tidak selalu mudah. Namun, dukungan keluarga, kepedulian orang-orang di sekitar, semangat untuk bangkit, serta tetap menjalani penanganan medis dapat menjadi kekuatan bagi seseorang untuk menjalani kehidupan.

Kini, Tri memilih untuk tidak terus larut dalam masa lalu. Ia berusaha menikmati setiap proses, kembali produktif, dan menjalani hari-harinya dengan lebih optimistis.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin