SMAN 1 Lumajang Bidik 10 Besar Jawa Timur, Kelas Prestasi Digenjot untuk Cetak Siswa Berprestasi
LUMAJANG,kabarnusa24.Com — SMAN 1 Lumajang memasang target besar dalam tiga tahun ke depan. Sekolah tersebut membidik posisi 10 besar sekolah terbaik di Jawa Timur dengan mengandalkan penguatan budaya prestasi melalui program kelas prestasi.
Target itu tidak ditempuh dengan sekadar mengejar nilai akademik. Siswa yang memiliki potensi dipetakan berdasarkan minat dan kemampuan, kemudian diarahkan untuk menekuni bidang tertentu secara lebih spesifik, mulai dari olimpiade sains, humaniora, karya tulis ilmiah, hingga robotika.
Kepala SMAN 1 Lumajang Moh. Agus Wibisono, M.Pd mengatakan, program kelas prestasi akan terus dievaluasi agar pembinaannya semakin terarah dan mampu menghasilkan capaian yang berkelanjutan.
“Untuk program ini kita akan evaluasi secara rutin. Demi kelancaran dan kesuksesan program ini, saya mohon dukungan dari semua pihak, baik komite, alumni, warga sekolah maupun stakeholder yang lain,” kata Agus.
Menurut Agus, dukungan berbagai pihak diperlukan karena tujuan utama program tersebut bukan sekadar menambah jumlah piala, tetapi membangun kembali budaya berprestasi di lingkungan sekolah.
Ia mengungkapkan, ketika dirinya mulai memimpin SMAN 1 Lumajang, minat siswa untuk mengikuti kompetisi belum terlalu tinggi. Kondisi itu kemudian perlahan berubah setelah sekolah mengembangkan pembinaan yang lebih terarah.
“Tujuan dari program ini adalah anak-anak SMAN 1 ini terpoles menjadi anak-anak yang berprestasi. Pada saat awal saya masuk, anak-anak itu enggan ikut lomba-lomba. Sekarang sangat antusias,” ujarnya.
Perubahan tersebut, kata Agus, mulai terlihat dari semakin banyak siswa yang meminta rekomendasi untuk mengikuti kompetisi yang digelar berbagai perguruan tinggi.
Sejumlah prestasi tingkat nasional juga mulai diraih. Siswa SMAN 1 Lumajang tercatat mengikuti berbagai olimpiade yang diselenggarakan sejumlah kampus, antara lain Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Jember, dan perguruan tinggi lainnya.
“Sekarang anak-anak banyak yang minta rekomendasi untuk ikut kegiatan lomba-lomba kampus. Kemarin ada juara nasional di Unair,” katanya.
Agus juga menyebut capaian siswa dalam kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan Universitas Gadjah Mada. Dalam kompetisi tersebut, siswa SMAN 1 Lumajang disebut berhasil meraih enam piala dari enam kategori yang diikuti.
“Yang kemarin menjuarai di UGM, juara nasional, ada enam kategori dan anak-anak memboyong enam piala dari sana,” ungkapnya.
Prestasi tersebut tidak hanya berasal dari olimpiade mata pelajaran. Siswa juga diarahkan mengikuti kompetisi ekonomi, karya tulis ilmiah, hingga berbagai bidang lainnya.
Bagi Agus, capaian tersebut menunjukkan mulai tumbuhnya iklim kompetisi di lingkungan SMAN 1 Lumajang.
“Alhamdulillah, anak-anak sekarang sudah mulai terbangun dengan iklim prestasi yang sudah kita kembangkan di SMAN 1,” katanya.
Bukan Sekadar Kelas Unggulan
Agus menjelaskan, kelas prestasi tidak sekadar menjadi ruang bagi siswa dengan nilai akademik tinggi. Sekolah juga berupaya menemukan bidang yang paling sesuai dengan potensi dan minat masing-masing siswa.
Setelah melalui proses pemetaan, siswa diarahkan memilih bidang yang ingin ditekuni. Ada yang memilih olimpiade, karya tulis ilmiah maupun robotika.
“Anak-anak yang pintar ini kita poles. Polesannya tergantung dari passion mereka. Sesuai hasil pemetaan, mereka memilih olimpiade, KTI atau robotika,” jelasnya.
Siswa yang memilih olimpiade kemudian diarahkan pada mata pelajaran tertentu sesuai kompetisi yang akan diikuti. Dengan demikian, pembinaan dilakukan secara lebih spesifik dan tidak bersifat umum.
“Kalau sudah memilih olimpiade, otomatis diarahkan ke mata pelajaran apa yang mau diikuti. Perpaduan itu menyebabkan anak-anak terjurus sehingga dibina secara khusus,” ujarnya.
Menurut Agus, pola tersebut membuat spesialisasi siswa menjadi lebih jelas.
“Spesialisasinya sudah terarah menuju bidang-bidang yang akan dilombakan,” kata dia.
Komite: Target 10 Besar Jawa Timur
Ketua Komite SMAN 1 Lumajang Dr. M. Hariyadi Eko Romadhon, S.Sos., M.Si mengatakan, kelas prestasi merupakan bagian dari strategi sekolah untuk mengembangkan siswa yang memiliki potensi khusus.
Ia menegaskan, program tersebut bukan berarti menjadikan seluruh SMAN 1 Lumajang sebagai sekolah khusus prestasi. Kelas prestasi merupakan kelas yang diisi siswa berdasarkan hasil seleksi dan pemetaan kemampuan.
“Ini bukan sekolah prestasi, tetapi kelas prestasi. Sekolah melakukan uji kompetensi dan tes seleksi. Dari situ ditemukan siswa-siswi yang berbakat dan nilainya bagus, kemudian dimasukkan ke kelas khusus,” jelas Hariyadi.
Menurut dia, siswa dalam kelas tersebut mendapatkan pola pembinaan yang lebih terarah. Bidang yang dikembangkan antara lain sains dan humaniora, dengan orientasi pada berbagai kompetisi.
Karena pembinaannya spesifik, sekolah juga melibatkan tenaga ahli dari luar untuk memberikan penguatan sesuai bidang perlombaan.
“Karena mereka kelas khusus untuk prestasi, harus didatangkan expert dari luar yang memang khusus di bidang lomba, bidang sains dan sebagainya, seperti OSN,” ujarnya.
Dari program tersebut, komite bersama sekolah memasang target yang cukup konkret.
Hariyadi mengatakan, dalam tiga tahun mendatang SMAN 1 Lumajang ditargetkan masuk 10 besar sekolah terbaik di Jawa Timur.
“Saya bersama Pak Dr. Edi Fus selaku Ketua Kanca Smasa bersepakat menjadikan SMA Negeri 1 Lumajang dalam tiga tahun ke depan menjadi 10 terbaik di Jawa Timur,” tegasnya.
Target tersebut, menurut Hariyadi, dibuat secara bertahap dengan mempertimbangkan persaingan pendidikan di Jawa Timur.
“Kita tidak buru-buru tiga besar. Kita targetkan 10 besar karena banyak sekolah yang lebih unggul daripada SMAN 1. Ini tujuan kami,” katanya.
Komite dan Alumni Jadi Penopang
Program kelas prestasi juga mendapat dukungan dari orangtua, komite sekolah, dan alumni. Hariyadi mengatakan, banyak orangtua merasa bangga ketika anak mereka dinyatakan lolos seleksi dan masuk kelas prestasi.
Namun, keberadaan tenaga ahli dan kegiatan kompetisi tentu membutuhkan pembiayaan. Menurut Hariyadi, sekolah sempat menyampaikan adanya ancar-ancar biaya sekitar Rp250.000 untuk keberlanjutan program.
Ia menegaskan, angka tersebut bukan pungutan wajib kepada orangtua.
“Bukan berupa pungutan atau tarikan, tetapi ancar-ancar untuk keberlanjutan kelas ini,” ujarnya.
Komite juga memastikan faktor ekonomi tidak menjadi penghalang siswa untuk mengikuti program.
Hariyadi mengatakan, apabila ada orangtua yang tidak mampu, siswa tetap dipertahankan dalam kelas prestasi dan akan mendapat dukungan.
“Kalau ada orangtua yang tidak mampu, apakah anaknya akan dikeluarkan dari kelas itu? Tidak. Tetap anak itu sesuai seleksi kita support,” katanya.
Dukungan juga datang dari alumni. Salah satunya ketika siswa kelas prestasi mendapat kesempatan mengikuti kompetisi di Malaysia.
Ada siswa yang sempat terkendala biaya keberangkatan. Namun, komite dan alumni kemudian membantu agar siswa tersebut tetap dapat mengikuti kompetisi.
“Jangan sampai anak ini mundur karena tidak ada biaya. Akhirnya kita support,” ujar Hariyadi.
Dukungan tersebut menunjukkan bahwa program kelas prestasi tidak hanya menjadi agenda sekolah, tetapi melibatkan ekosistem pendidikan yang lebih luas.
Prestasi Akademik dan Nonakademik
Hariyadi mengatakan, target masuk 10 besar sekolah terbaik di Jawa Timur tidak mungkin dicapai hanya dengan mengandalkan nilai akademik.
Siswa juga harus memiliki rekam prestasi di bidang nonakademik. Karena itu, berbagai kompetisi menjadi salah satu jalur untuk membangun portofolio prestasi siswa.
“Anak-anak itu harus tidak hanya akademik saja. Nonakademik mereka juga harus bisa. Itu melalui olimpiade, melalui sains dan sebagainya,” ujarnya.
Menurut Hariyadi, semakin banyak prestasi yang diraih siswa akan memperkuat citra sekolah sekaligus membuka kesempatan lebih luas bagi lulusan ketika melanjutkan pendidikan.
Ia berharap siswa SMAN 1 Lumajang tidak hanya berorientasi melanjutkan pendidikan di Jawa Timur. Siswa juga didorong memiliki wawasan lebih luas dan berani membidik perguruan tinggi ternama di berbagai daerah.
“Anak-anak ini jangan hanya kuliahnya nanti di Jawa Timur saja. Mereka butuh pandangan yang luas. Di Jawa Barat dan Jawa Tengah juga banyak sekolah atau kampus yang bagus,” katanya.
Dengan penguatan kelas prestasi, dukungan komite dan alumni, serta peningkatan partisipasi siswa dalam kompetisi, SMAN 1 Lumajang kini mulai membangun kembali budaya prestasi sebagai bagian dari strategi menuju target tiga tahun ke depan.
Target 10 besar Jawa Timur pun menjadi pekerjaan rumah bersama yang akan diuji melalui capaian akademik, prestasi kompetisi, dan kemampuan siswa bersaing di tingkat yang lebih luas.(D.S)







