Indramayu, kabarnusa24.com
Setiap 7 Oktober, masyarakat Indramayu kembali disuguhi pemandangan khas berupa iring-iringan Kirab Tunggul Pataka.
Ratusan becak, barisan Paskibra, marching band, panji-panji hingga benda-benda pusaka diarak menyusuri jalan. Namun, di balik kemeriahan tersebut tersimpan pesan penting tentang bagaimana masyarakat Indramayu menjaga dan mewariskan ingatan sejarah daerahnya.
Kirab Tunggul Pataka mulai dilaksanakan pada 1977, setelah tanggal 7 Oktober 1527 ditetapkan sebagai Hari Jadi Indramayu melalui Sidang Pleno DPRD pada 24 Januari 1977.
Pada awal pelaksanaannya, kirab dilakukan dengan berjalan kaki dengan rute yang berbeda dari sekarang. Prosesi dimulai dari Kecamatan Sindang, yang dikenal sebagai salah satu pusat pemerintahan awal Indramayu, kemudian bergerak menuju Pendopo hingga berakhir di Gedung Dewan.
Setelah Gedung DPRD berpindah ke Jalan Jenderal Sudirman sekitar dekade 1980-an, rute kirab pun mengalami perubahan dan berkembang menjadi rute yang dikenal masyarakat hingga saat ini.
Lantas, apa sebenarnya makna Tunggul Pataka?
Tunggul merupakan tetenger atau panji yang memuat logo Kabupaten Indramayu. Sementara Pataka merujuk pada panji Gagak Winangsih, yang dikenal sebagai salah satu simbol awal daerah Indramayu.
Dengan demikian, Kirab Tunggul Pataka bukan sekadar prosesi memindahkan sebuah panji dari satu tempat ke tempat lainnya.
Kirab menjadi simbol perjalanan sejarah sekaligus momentum untuk mengingat kembali perjalanan panjang Indramayu dari masa ke masa.
Benda-benda pusaka yang turut dikirab juga memiliki makna tersendiri. Senjata peninggalan leluhur, termasuk tombak, diperlihatkan kepada masyarakat sebagai bagian dari warisan sejarah yang mengingatkan bahwa Indramayu memiliki perjalanan panjang sebelum berkembang menjadi daerah seperti sekarang.
Ada pula sisi lain yang menarik dari tradisi ini.
Sejak 2002, kirab mulai menggunakan becak sebagai kendaraan bagi para pejabat. Penggunaan becak bukan tanpa alasan. Pada masa itu, tukang becak masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indramayu.
Pelibatan mereka menjadi bentuk kepedulian pemerintah sekaligus upaya mempertahankan becak sebagai salah satu kendaraan tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Karena itu, ketika Kirab Tunggul Pataka melintas di jalan-jalan Indramayu setiap 7 Oktober, yang berjalan bukan sekadar sebuah rombongan.
Di dalamnya ada sejarah yang sedang diceritakan, pusaka yang sedang diperkenalkan, serta identitas daerah yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kirab Tunggul Pataka pada akhirnya bukan hanya tentang kemeriahan perayaan Hari Jadi Indramayu.
Lebih dari itu, kirab menjadi pengingat bahwa sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh masa depan, tetapi juga oleh sejarah dan warisan yang terus dijaga.







