Religi

Waspada Terhadap Istidraj, Hidup Terasa Mudah Tapi Hati Semakin Jauh

39
×

Waspada Terhadap Istidraj, Hidup Terasa Mudah Tapi Hati Semakin Jauh

Sebarkan artikel ini
Waspada Terhadap Istidraj, Hidup Terasa Mudah Tapi Hati Semakin Jauh
Ilustrasi

Oleh : Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur

Kabarnusa24.com,– Tidak setiap kenyamanan hidup bisa dianggap nikmat Allah, dan tidak semua kemudahan dapat dianggap sebagai tanda kasih sayang dari-Nya. Sebab ada beberapa pemberian yang justru datang sebagai ujian agar manusia lupa akan Tuhannya, tidak memiliki empati kepada sesama, dan semakin cinta dunia tanpa memedulikan aturan Penciptanya. Dan itulah istidraj, yaitu saat di mana segala hal terasa tercukupi tetapi semakin menjauhkan hati dari Sang Pemberi.

Salah satu ujian yang seringkali tidak disadari kita semua adalah ujian berupa nikmat dan kenyamanan hidup. Kita merasa senang dan nyaman dengan segala yang kita miliki, hingga lupa untuk bersyukur dan mendekatkan diri kepada-Nya. Akibatnya, hati kita cenderung menjadi keras dan sombong, karena merasa bahwa segala yang kita miliki adalah hasil dari kerja keras kita sendiri tanpa campur tangan Allah.

Inilah yang disebut dengan istidraj, yaitu ketika kita mendapatkan banyak karunia dan pemberian dari Allah, tetapi semua pemberian itu membuat kita semakin lalai dan mendustakan pemberian-Nya. Berkaitan dengan hal ini, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:

وَالَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ

Artinya, “Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (menuju kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui,” (QS. Al-A’raf: 182).

Ayat tersebut merupakan peringatan tegas dari Allah agar kita senantiasa berhati-hati terhadap istidraj. Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa istidraj datang dengan cara perlahan tanpa kita sadari, baik melalui kenyamanan hidup, kesehatan yang terus terjaga, serta nikmat yang semakin bertambah.

Semua itu diberikan agar manusia menyangka bahwa dirinya sedang dimuliakan dan diperlakukan istimewa oleh Allah, padahal sejatinya sedang digiring menuju kebinasaan tanpa ia sadari. Bahkan tidak jarang ia merasa lebih baik daripada orang-orang yang hidup sederhana dan penuh keterbatasan. Padahal justru di situlah letak bahayanya, yaitu ketika nikmat membuat seseorang lupa diri dan merasa aman dari murka Allah.

Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Syihabuddin Mahmud al-Alusi dalam kitab Tafsir Ruhul Ma’ani fi Tafsiril Qur’anil Adzim was Sab’il Matsani, jilid XV, halaman 41:

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: سَنَسْتَدْرِجُهُم، أَيْ سَنَسْتَنْزِلُهُمْ إِلَى الْعَذَابِ دَرَجَةً فَدَرَجَةً بِالْإِمْهَالِ وَإِدَامَةِ الصِّحَّةِ وَازْدِيَادِ النِّعْمَةِ. قَوْلُهُ تَعَالَى: مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ، أَنَّهُ اسْتِدْرَاجٌ بَلْ يَزْعُمُونَ أَنَّ ذَلِكَ إِيْثَارٌ لَهُمْ وَتَفَضُّلٌ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ مَعَ أَنَّهُ سَبَبٌ لِهَلَاكِهِم

Artinya, “Dan firman Allah Ta’ala: (Sanastadrijuhum – Kami biarkan mereka berangsur-angsur), yaitu Kami akan menurunkan mereka ke dalam azab setahap demi setahap dengan memberikan penangguhan, kelanjutan kesehatan, dan bertambahnya nikmat. Firman Allah Ta’ala: (min ḫaitsu lâ ya’lamûn – dari arah yang tidak mereka ketahui), bahwa itu adalah istidraj, bahkan mereka menyangka bahwa itu adalah pemberian keutamaan dan kelebihan atas orang-orang mukmin, padahal itu adalah sebab kebinasaan mereka.”

Lantas bagaimana cara kita mengetahui apakah suatu pemberian adalah istidraj?

Ketahuilah bahwa Rasulullah SAW pernah menjelaskan kepada kita semua, bahwa apabila seseorang terus-menerus diberikan apa yang ia sukai, sementara pada saat yang sama ia tetap tenggelam dalam kemaksiatan, meremehkan kewajiban, dan tidak ada perubahan menuju ketaatan, maka kondisi seperti itu patut dikhawatirkan sebagai istidraj. Nabi bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الْعَبْدَ مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

Artinya, “Jika kalian melihat Allah Azza wa Jalla memberikan seorang hamba apa yang ia sukai, sementara ia terus menerus melakukan maksiat, maka sesungguhnya itu adalah istidraj dari-Nya,” (HR. Al-Baihaqi).

Oleh karena itu, sungguh merugi dan tertipu orang yang merasa dirinya paling dicintai Allah hanya karena hartanya bertambah, usahanya lancar, atau jabatannya naik, sementara ketaatannya kepada Allah justru stagnan atau bahkan menurun.

Dan pada saat itulah pintu-pintu kenikmatan dunia dibukakan lebar-lebar. Rezeki dilapangkan, urusan dipermudah, kesenangan datang bertubi-tubi, hingga hati merasa aman dan yakin bahwa dirinya berada di jalan yang benar. Hingga ketika manusia benar-benar tenggelam dalam rasa puas dan lupa diri, barulah datang ketetapan Allah secara tiba-tiba berupa siksaan yang akan membuat mereka menyesal dan putus asa, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إذا فَرِحُواْ بِمَا أُوتُواْ أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإذا هُم مُّبْلِسُونَ

Artinya, “Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa,” (QS. Al-An’am: 44).

Oleh karena itu, mari jangan sampai tertipu dengan kenyamanan yang kita dapatkan. Jangan sampai nikmat yang kita terima justru menjauhkan kita dari Allah, jangan sampai kelapangan hidup membuat kita lalai dari kewajiban, dan jangan pula merasa aman dari murka-Nya hanya karena urusan dunia terasa dimudahkan.

Dan ketahuilah, bahwa ujian berupa kenyamanan jauh lebih berat daripada ujian berupa kesulitan. Karena ketika diuji dengan kesulitan, hati kita akan lebih mudah untuk kembali kepada Allah SWT. Kita akan berdoa, memohon pertolongan, merendahkan diri di hadapan-Nya, dan sadar bahwa kita lemah dan tidak berdaya tanpa pertolongan-Nya.

Namun ketika diuji dengan kenyamanan, hati kita cenderung menjadi keras dan sombong. Kita merasa bahwa segala yang kita miliki adalah hasil dari kerja keras kita sendiri, tanpa campur tangan Allah SWT, serta lupa bahwa semua nikmat yang kita rasakan adalah amanah yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Demikian Penjelasan tentang pentingnya kewaspadaan terhadap istidraj. Semoga dapat menyadarkan kita bahwa tidak setiap kenyamanan adalah nikmat, dan tidak setiap kemudahan merupakan tanda cinta Allah.

Semoga Allah SWT menjaga hati kita agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia, menjadikan setiap nikmat sebagai sarana untuk mendekat kepada-Nya, serta melindungi kita dari istidraj yang menyesatkan.

Sumber: Ulasan Isi materi khutbah Jumat-keislaman NU

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin