Daerah

GIPI Jabar Gelar Coffe Morning: Masa Depan Ekonomi Bandung Bergantung pada Kualitas Sektor Jasa dan Pariwisata

6
×

GIPI Jabar Gelar Coffe Morning: Masa Depan Ekonomi Bandung Bergantung pada Kualitas Sektor Jasa dan Pariwisata

Sebarkan artikel ini
GIPI Jabar Gelar Coffe Morning: Masa Depan Ekonomi Bandung Bergantung pada Kualitas Sektor Jasa dan Pariwisata

BANDUNG – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa struktur ekonomi Kota Bandung telah mencapai titik balik. Kota ini tidak lagi bisa bersaing di sektor manufaktur seperti masa lalu, melainkan harus bertumpu sepenuhnya pada kekuatan sektor jasa dan pariwisata untuk menjamin keberlanjutan ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Farhan dalam forum Coffee Morning Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Jawa Barat yang digelar di STIEPAR Yapari, Kamis (12/2/2026).

Perubahan Wajah Ekonomi Kota

Menurut Farhan, Bandung saat ini berada di persimpangan pembangunan. Pergeseran dari agroindustri ke tekstil, hingga kini menjadi pusat jasa, pendidikan, dan rekreasi, telah membentuk watak Bandung sebagai kota kosmopolitan.

“Bandung sejak awal dirancang sebagai kota kosmopolitan berbasis industri, bukan kota kerajaan tradisional,” ujar Farhan. Namun, ia mengingatkan bahwa menjual panorama dan pusat belanja saja tidak lagi cukup. “Skill pelayanan harus naik kelas. Daya saing kita dengan destinasi nasional lainnya akan sangat ditentukan oleh mutu pelayanan,” tambahnya.

Tantangan Sinkronisasi Data dan Nomenklatur

Ketua GIPI Jawa Barat, Herman, menyambut baik visi tersebut namun menekankan pentingnya akurasi data dalam pengambilan kebijakan. Masalah perbedaan angka kunjungan dan okupansi antara BPS, Dinas Pariwisata, dan pelaku usaha seringkali menghambat strategi pengembangan.

“Forum ini ruang untuk menyamakan persepsi. Kita butuh keseragaman data agar kebijakan tepat sasaran,” kata Herman di hadapan para pelaku hotel, restoran, dan biro perjalanan.

Menanggapi birokrasi, Farhan berencana melakukan penataan ulang nomenklatur pada tahun depan. Ia mengusulkan pemisahan sektor kebudayaan agar lebih mandiri, terutama dalam menjaga identitas arsitektur kolonial Bandung yang mulai tergerus komersialisasi.

Rencana Strategis dan Pemulihan Ekonomi

Pemerintah Kota Bandung juga mengungkap beberapa poin krusial dalam peta jalan pariwisata ke depan:

Revisi Teras Cihampelas: Kawasan ini akan dikembalikan pada karakter aslinya sebagai pusat perdagangan dengan tetap mempertahankan penghijauan kota.

Pergeseran Segmen Pasar: Fokus akan diarahkan ke segmen menengah-atas melalui medical tourism (wisata kesehatan), wisata edukasi berbasis kampus, serta sport tourism melalui optimalisasi Stadion Siliwangi dan GBLA.

Jaring Pengaman Sosial: Mendorong perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja pariwisata di sektor informal dan gig economy yang rentan terhadap krisis.

Menuju Pertumbuhan Pra-Pandemi

Sebagai catatan, sebelum pandemi, sektor pariwisata menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga Rp1,2 triliun dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 8%. Setelah sempat terkontraksi ke angka minus 3%, saat ini ekonomi Bandung mulai pulih di angka 5,85%.

“Pariwisata bukan kepentingan satu pihak. Ia kebutuhan bersama yang mesti dibangun secara berkelanjutan agar Bandung menghadirkan pengalaman kelas tinggi tanpa kehilangan identitasnya,” tutup Farhan.

Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Iendra Sofyan, Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati, serta pemangku kepentingan industri pariwisata lainnya.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin