BeritaDaerahNasionalOpiniReligi

AUM, SALURAN ENERGI DAN DOA-DOA YANG TERSIMPAN DALAM LUKISAN

14
×

AUM, SALURAN ENERGI DAN DOA-DOA YANG TERSIMPAN DALAM LUKISAN

Sebarkan artikel ini
AUM, SALURAN ENERGI DAN DOA-DOA YANG TERSIMPAN DALAM LUKISAN

AUM, SALURAN ENERGI DAN DOA-DOA YANG TERSIMPAN DALAM LUKISAN

*Bandung, 6 Mei 2026* – Awal Mei 2026, Bandung seperti menerima getaran yang berbeda dari biasanya. Di antara banyaknya pameran lukisan yang diselenggarakan di Bandung, pameran kali ini bukan sekadar pameran seni rupa, melainkan sebuah ruang tempat doa, meditasi, dan energi spiritual yang dipindahkan ke kanvas. Di Orbital Dago, Bandung, Rabu, 6 Mei 2026, seniman Bali *I Ketut Adi Candra* menggelar pameran tunggal yang dibuka oleh *Heri Dim*, bertajuk _AUM di Tengah Realitas Hybrid_, sebuah peristiwa seni yang menghadirkan lukisan bukan hanya sebagai objek visual, tetapi juga sebagai saluran energi batin.

Pameran ini menjadi perkenalan pertama Adi Candra kepada publik Bandung, hadir dengan bahasa rupa yang matang, spiritualitas yang pekat, dan pengalaman hidup yang telah melewati fase gelap sekaligus transformasi personal.

_“AUM, atau Om dalam bahasa Sanskerta, adalah penyempurna pengucapan menuju ke atas, menuju semesta, menuju Ketuhanan,”_ ujar I Ketut Adi Candra dalam pembukaan pameran. Kalimat itu menjadi semacam pintu masuk untuk memahami seluruh tubuh karya yang dipamerkan.

Lahir di Gianyar, Bali, tahun 1973 dan menamatkan pendidikan di ISI Denpasar pada 1998, Adi Candra menjalani dua dunia sekaligus: sebagai pelukis dan _jero mangku_ atau pemangku adat. Dalam dirinya, seni dan spiritualitas tidak berjalan terpisah. Ia melukis sekaligus menjalani laku batin.

AUM, SALURAN ENERGI DAN DOA-DOA YANG TERSIMPAN DALAM LUKISAN

Kurator *Bambang Barnas* menyebut kehidupan Adi Candra berada di tengah “realitas hybrid”, sebuah ruang tempat tradisi, modernitas, kapitalisme, dan spiritualitas bertemu sekaligus saling bergesekan. Sebelum menjadi _jero mangku_ pada 2017, Adi Candra mengakui hidupnya pernah “berantakan”, mudah marah, dan mengalami penderitaan batin. Namun perjumpaannya dengan jalan spiritual perlahan mengubah arah hidupnya. Dalam catatan personalnya, Adi Candra mengisahkan bagaimana ia mengalami masa kelam dan frustrasi pada 2007. Titik balik terjadi ketika ia bertemu seorang guru spiritual pada 2016 yang memberinya waktu satu setengah tahun untuk “bangun” dan menata ulang hidupnya. Dari sana ia mendalami meditasi, yoga, hipnoterapi, sekaligus semakin tekun melukis. Karena itu, bagi Adi Candra, melukis bukan aktivitas artistik biasa.

_“Melukis bukan sekadar mengoleskan cat. Ini adalah wahana pembebasan spirit, kekuatan doa, dan hasil meditasi,”_ katanya.

Kalimat tersebut terasa nyata ketika berhadapan langsung dengan karya-karyanya. Di atas bidang kanvas, sapuan abstrak yang liar bertemu dengan aksara Bali, _rerajahan_, simbol sesaji, dan jejak-jejak visual ritual. Semuanya tampak samar sekaligus kuat, seperti mantra yang tidak diucapkan keras tetapi bergaung lama di kepala.

Dalam teks kuratorial dijelaskan bahwa Adi Candra memandang melukis sebagai perpaduan antara _Laku Dharma_ yang sakral dan _Laku Profesi_ yang profan. Melukis adalah _yadnya_, persembahan. Prosesnya disertai doa dan niat suci, sementara seniman menempatkan dirinya sebagai saluran energi kreatif Tuhan.

Konsep _AUM_ sendiri menjadi inti dari seluruh pameran. Dalam tradisi Hindu, _AUM_ merupakan suara kosmik primordial, mantra tertinggi yang melambangkan _Brahman_ atau realitas tertinggi. Bunyi _A-U-M_ merepresentasikan _Trimurti_: _Brahma_ sebagai pencipta, _Wisnu_ sebagai pemelihara, dan _Siwa_ sebagai pelebur.

Adi Candra menjelaskan bahwa _AUM_ berasal dari pengolahan aksara suci yang dalam tradisi Bali berkaitan dengan _panca aksara_ hingga menjadi satu bunyi tunggal: _AUM_ atau _OM_. Bunyi itu dipercaya mengandung getaran spiritual ketika diucapkan dengan kesadaran penuh. Energi spiritual itu kemudian diterjemahkan ke dalam lukisan-lukisannya yang banyak mengambil inspirasi dari Tantra. Bagi Adi Candra, energi Tantra adalah energi yang dimunculkan melalui meditasi dan kesadaran batin. Maka lukisan-lukisannya tidak hanya berbicara soal bentuk dan warna, melainkan tentang vibrasi, tentang ruh yang ingin dihadirkan ke ruang visual.

_“Lukisannya menampilkan kekuatan dari aksara dan rajah itu sendiri,”_ demikian catatan yang menyertai proses kreatifnya.

Menariknya, pameran ini juga memperlihatkan bagaimana batas antara sakral dan profan di Bali hari ini menjadi cair. Bambang Barnas mengutip fenomena ketika tarian sakral _pendet_ bisa tampil di hotel berbintang sebagai bagian dari industri pariwisata. Dalam konteks itu, karya-karya Adi Candra menjadi semacam cermin kebudayaan Bali kontemporer: spiritualitas tetap hidup, tetapi berjalan berdampingan dengan modernitas. Tiga komponen utama dihadirkan dalam pameran ini yaitu: lukisan abstrak, gambar ornamen dan simbol ritual, serta _sanggah_ atau tempat sesaji. Ketiganya seperti membentuk ekosistem spiritual tersendiri di ruang pamer. Penonton tidak hanya melihat karya, tetapi juga diajak memasuki atmosfer meditatif yang diciptakan sang seniman.

AUM, SALURAN ENERGI DAN DOA-DOA YANG TERSIMPAN DALAM LUKISAN

Dalam pembukaan pameran, Heri Dim turut memberi refleksi menarik mengenai gagasan pembebasan dalam seni nonfiguratif. Menurutnya, manusia justru tidak akan menemukan kebebasan total dengan mengejar kebebasan tanpa batas. Pembebasan bisa ditemukan ketika seseorang memasuki ruang keterikatan yang dijalani dengan sepenuh kesadaran, seperti laku puasa. Pernyataan itu terasa beresonansi dengan perjalanan Adi Candra sendiri. Ia menemukan kebebasan justru ketika menerima “keterikatan” spiritual sebagai _jero mangku_. Dan dari ruang itulah karya-karyanya lahir: abstrak, meditatif, penuh simbol, tetapi tetap membumi.

Kurator Bambang Barnas bahkan melihat kecenderungan penting dalam seni rupa kontemporer Indonesia hari ini, ketika seni nonfiguratif kembali dipahami sebagai wahana pembebasan diri. Ia menghubungkan praktik Adi Candra dengan sejumlah seniman lain yang menjadikan lukisan sebagai ruang kontemplasi, bukan sekadar eksplorasi bentuk. Di tengah dunia seni rupa yang sering sibuk mengejar pasar, sensasi visual, atau tren medium baru, karya-karya I Ketut Adi Candra justru bergerak ke arah sebaliknya: masuk ke dalam diri. Ia melukis seperti seseorang sedang berdoa. Setiap sapuan tampak seperti upaya menghubungkan tubuh manusia dengan sesuatu yang lebih besar dan tak terlihat.

Mungkin di situlah letak kekuatan pameran ini. Bahwa di balik lapisan tekstur, aksara, dan abstraksi yang tampak liar, tersimpan sesuatu yang sunyi: energi, mantra, dan doa-doa yang tidak pernah selesai diucapkan.

Penulis:

Ndaru Bektari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin