JAKARTA, Kabarnusa24.com || Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berkomitmen memperkuat struktur industri nasional yang berkelanjutan, salah satunya melalui pengelolaan kemasan pascakonsumsi.
Langkah strategis ini sekaligus menjadi bentuk dukungan nyata terhadap implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan tetap mengedepankan keseimbangan aspek ekonomi, sosial, dan kelestarian lingkungan.
Sejalan dengan komitmen tersebut, PT Lami Packaging Indonesia bersama PT Frisian Flag Indonesia menginisiasi peluncuran Program Used Beverage Carton (UBC) Collection di Kabupaten Serang, Banten, Kamis (11/06/26).

Program ini diproyeksikan mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan dan pemanfaatan kembali kemasan karton pascakonsumsi sebagai motor penggerak ekonomi sirkular di sektor manufaktur.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa akselerasi industri susu nasional tidak boleh hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi dan pemenuhan bahan baku, tetapi wajib diiringi dengan pengelolaan dampak lingkungan yang bertanggung jawab.
“Program UBC Collection ini merupakan contoh konkret dari penerapan ekonomi sirkular dan Extended Producer Responsibility (EPR). Di sini, produsen tidak hanya mengambil peran dalam menyuplai produk berkualitas bagi masyarakat, melainkan juga ikut bertanggung jawab mengelola kemasan pascakonsumsinya agar masuk kembali ke dalam rantai nilai industri,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (13/06/26).
Menperin optimistis bahwa Program MBG akan menjadi growth driver baru bagi industri makanan dan minuman, khususnya industri pengolahan susu. Peningkatan serapan produk diproyeksikan bakal memacu investasi baru, meningkatkan utilisasi kapasitas produksi, serta memperkuat industri pendukung di sektor hulu hingga hilir, termasuk industri kemasan.
Namun, Menperin memberikan catatan kritis bahwa lonjakan konsumsi susu wajib diantisipasi dengan sistem manajemen limbah kemasan yang efektif. “Kita harus memastikan bahwa multiplier effect dari Program MBG ini tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan melalui zero waste konsep,” imbuhnya.
Oleh karena itu, Kemenperin mendorong terciptanya sinergi multipihak (pentahelix) yang solid antara industri pengolahan susu, industri kemasan, pemerintah daerah, institusi pendidikan, hingga komunitas pengelola sampah guna membangun ekosistem sirkular yang terintegrasi.
Sebagai langkah awal, Program UBC Collection ini melibatkan sejumlah sekolah di Kecamatan Cikande, Banten. Edukasi sejak dini diberikan agar para siswa terbiasa memilah dan mengumpulkan sampah kemasan karton secara mandiri. Langkah ini tidak hanya membangun green lifestyle sejak usia sekolah, tetapi juga mengamankan rantai pasok bahan baku daur ulang (secondary raw materials) bagi industri domestik.
Pada kesempatan terpisah, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, memberikan apresiasi tinggi atas investasi PT Lami Packaging Indonesia sebagai produsen kemasan aseptik lokal pertama di Indonesia.
“Kehadiran produsen kemasan domestik seperti PT Lami Packaging tidak hanya memperkuat rantai pasok industri makanan dan minuman nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing sektor pengolahan susu dan mempercepat kemandirian industri nasional dari ketergantungan impor,” ungkap Putu.
Kemenperin memastikan akan terus mengawal implementasi prinsip Industri Hijau di seluruh sektor manufaktur. Melalui kolaborasi lintas sektor seperti Program UBC Collection ini, Kemenperin optimistis target pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pengurangan emisi karbon, dan pencapaian visi Indonesia Emas 2045 dapat berjalan beriringan.(Rizky Tile)







