Bukan Merosot, IPSI Lumajang Siapkan Strategi Baru: Bidik Emas di Semua Kelas
LUMAJANG, kabarnusa 24.com— Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Lumajang menepis anggapan bahwa prestasi pencak silat daerah tersebut tengah mengalami kemerosotan. Padatnya agenda pertandingan dan efisiensi anggaran justru disebut menjadi alasan utama konsentrasi atlet terbagi.
Bendahara sekaligus Ketua IPSI Kabupaten Lumajang, Eka Tri Oktavia, S.Pd., mengatakan penilaian terhadap prestasi pencak silat tidak bisa hanya dilihat dari satu ajang, termasuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
“Kalau dikatakan merosot, sebenarnya tidak. Pertama memang ada efisiensi anggaran. Kemudian banyak event yang waktunya bersamaan. Jadi mungkin yang disoroti hanya Porprov, padahal selain Porprov masih ada event-event lainnya,” ujar Eka.
Menurutnya, banyaknya kompetisi dalam waktu yang berdekatan membuat atlet dan perguruan harus membagi konsentrasi. Karena itu, IPSI Lumajang memilih melakukan evaluasi dan mengubah pola pembinaan dengan lebih fokus pada atlet yang benar-benar memiliki potensi untuk naik ke level provinsi maupun nasional.
“Ke depan kami harus fokus. Kami prioritaskan atlet-atlet yang memang siap dibawa ke tingkat yang lebih tinggi. Jadi tidak asal,” katanya.
Salah satu instrumen yang akan digunakan adalah Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab). Ajang tersebut tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga menjadi sarana untuk memetakan dan menyaring atlet potensial yang nantinya dapat diproyeksikan ke tingkat provinsi hingga nasional.
“Semaksimal mungkin. Yang jelas pemerintah daerah harus mendukung,” kata Eka.
Target Tak Main-Main: Emas di Semua Kategori
IPSI Lumajang tidak ingin sekadar mempertahankan prestasi. Organisasi tersebut memasang target agresif dalam pembinaan atlet ke depan.
Eka mengatakan IPSI menargetkan setiap kategori kelas memiliki atlet yang mampu meraih prestasi tertinggi.
“Target dari IPSI, kami ingin dari semua kategori kelas harus ada pencapaian emas,” ujarnya.
Target tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi sistem pembinaan atlet di Lumajang. Seleksi yang lebih ketat dan fokus pada atlet potensial dinilai penting agar sumber daya yang tersedia tidak terpecah terlalu jauh.
Mberot Jadi Senjata Budaya Lumajang
Di luar arena pertandingan, IPSI Lumajang juga mendorong mberot sebagai bagian dari identitas budaya daerah. Eka menyebut mberot memiliki akar kuat di Lumajang dan saat ini kembali mendapatkan perhatian, terutama dari kalangan generasi muda.
“Mberot ini kan lahirnya di Lumajang. Sekarang sedang tren dan disenangi anak-anak. Mberot juga menjadi simbol kebersamaan,” katanya.
Semangat kebersamaan itu, menurut Eka, tercermin dalam penyelenggaraan Kejurkab yang membuka ruang bagi berbagai perguruan pencak silat.
Meski merupakan Kejur PO, peserta tidak hanya berasal dari satu perguruan. Perguruan lain, termasuk PSHT dan Pagar Nusa, turut mendapatkan ruang untuk berpartisipasi.
“Walaupun ini sifatnya Kejur PO, kami juga membuka peluang untuk saudara-saudara dari perguruan yang lain,” ucapnya.
Bagi IPSI, keterlibatan lintas perguruan menjadi modal penting untuk memperkuat ekosistem pencak silat di Lumajang sekaligus menjaga semangat persaudaraan.
100 Tahun Mberot: Lumajang Ingin Gelar Perayaan Berskala Nasional
Ambisi lebih besar disiapkan ketika mberot memasuki usia 100 tahun. Eka ingin momentum tersebut tidak dirayakan secara biasa, melainkan dikemas sebagai perhelatan budaya berskala nasional.
Karena mberot disebut memiliki akar sejarah di Lumajang, ia menilai daerah tersebut memiliki tanggung jawab besar untuk membuat perayaan 100 tahun mberot semeriah mungkin.
“Karena lahirnya di Lumajang, maka wajib hukumnya harus spektakuler,” tegas Eka.
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, IPSI berencana mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, TNI, Polri dan organisasi perangkat daerah terkait.
“Insyaallah nanti kami mengajak seluruh stakeholder, mulai dari Polri, TNI, pemerintah daerah dan dinas terkait untuk bekerja sama mendukung kebudayaan asli Lumajang. Termasuk mberot sebagai budaya asli Lumajang,” katanya.
Eka bahkan membayangkan peringatan satu abad mberot dapat menjadi panggung yang mempertemukan pelaku budaya dan masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia.
“Harapan saya harus spektakuler. Seluruh Indonesia akan hadir dan itu sifatnya wajib,” ujarnya.
Tidak berhenti di tingkat nasional, IPSI Lumajang juga membuka peluang menghadirkan tamu atau peserta dari luar negeri.
“Kalau memungkinkan, yang dari luar negeri pun nanti akan dihadirkan,” kata Eka.
Momentum satu abad tersebut diharapkan bukan hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga menjadi titik balik untuk memperkuat posisi mberot sebagai identitas budaya Lumajang.
Bagi IPSI, olahraga pencak silat dan kebudayaan memiliki ruang yang sama untuk dikembangkan: prestasi dikejar, tradisi dijaga, dan identitas Lumajang dibawa ke panggung yang lebih luas.(D.S)







