Daerah

Tumpak Sewu Diserbu Wisatawan Asing, Pajak Pariwisata Lumajang Tembus Rp240 Juta Sebulan

4
×

Tumpak Sewu Diserbu Wisatawan Asing, Pajak Pariwisata Lumajang Tembus Rp240 Juta Sebulan

Sebarkan artikel ini
Tumpak Sewu Diserbu Wisatawan Asing, Pajak Pariwisata Lumajang Tembus Rp240 Juta Sebulan
oplus_2

Tumpak Sewu Diserbu Wisatawan Asing, Pajak Pariwisata Lumajang Tembus Rp240 Juta Sebulan

LUMAJANG,kabarnusa24.com — Tumpak Sewu tak lagi sekadar menjadi ikon wisata Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Air terjun yang berada di kawasan Pronojiwo itu kini menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah, dengan kunjungan wisatawan asing mencapai ratusan orang setiap hari dan penerimaan pajak wisata disebut menembus Rp240 juta per bulan.

Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan, geliat pariwisata tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta transformasi digital yang terus didorong pemerintah daerah.

Menurut Indah, sektor pariwisata menjadi salah satu instrumen penting untuk menciptakan pergerakan ekonomi baru di tengah masyarakat.

“Ketika wisata berkembang, pasti akan muncul pergerakan ekonomi yang lain. Ada parkir, ada jasa ojek, ada jasa guide, ada UKM-UKM oleh-oleh yang tentu itu akan berdampak sekali terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Indah.

Tumpak Sewu jadi magnet wisatawan asing

Indah menyebut Tumpak Sewu kini telah naik kelas dan menjadi destinasi wisata yang menarik perhatian wisatawan mancanegara.

Pada hari kerja atau “weekday”, jumlah wisatawan asing yang datang disebut mencapai sekitar 600 hingga 700 orang per hari.

“50 persennya dari negara China dan mereka luar biasa mengagumi betul Tumpak Sewu dan wisata-wisata di sekitarnya,” ujar Indah.

Sementara pada akhir pekan, jumlah wisatawan domestik yang datang ke kawasan tersebut disebut mencapai lebih dari 1.000 orang.

Peningkatan kunjungan wisatawan itu juga mulai memberikan dampak terhadap penerimaan daerah.

Indah mengatakan, penerimaan pajak dari sektor wisata Tumpak Sewu kini mencapai sekitar Rp240 juta dalam sebulan.

Angka tersebut, kata dia, mengalami peningkatan signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya.

“Ketika saya sebulan menjadi bupati, saya cek masih Rp1 juta sebulan dari pajak wisata Tumpak Sewu saja. Kemudian kita perbaiki tata kelolanya, kita perbaiki manajemennya, dan kemarin sudah Rp240 juta sebulan,” kata Indah.

Ia berharap penerimaan tersebut terus meningkat seiring semakin banyaknya wisatawan yang datang ke Lumajang.

Dari undangan manten ke destinasi wisata

Indah mengatakan, perubahan citra Lumajang sebagai daerah tujuan wisata mulai terasa.

Jika sebelumnya orang datang ke Lumajang lebih banyak karena urusan keluarga atau menghadiri acara tertentu, kini wisatawan datang secara khusus untuk menikmati panorama alam.

“Kalau dulu orang ke Lumajang itu kadang hanya untuk undangan manten. Diundang saudaranya, anaknya dikhitankan, itu saja,” ujarnya.

“Sekarang saya senang karena banyak sekali yang datang hanya untuk melihat keindahan panorama, keindahan wisata alam yang ada di Kabupaten Lumajang,” imbuhnya.

Pemerintah Kabupaten Lumajang, lanjut Indah, akan terus mendukung pengembangan Tumpak Sewu sebagai destinasi wisata kelas dunia sekaligus menyiapkan destinasi-destinasi baru.

Ekonomi Lumajang tumbuh 5,89 persen

Di sisi lain, Indah mengatakan perekonomian Kabupaten Lumajang masih ditopang sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan.

Salah satu komoditas yang menjadi kekuatan daerah adalah kayu sengon atau albasia.

Menurut dia, Lumajang memiliki lebih dari 100 industri kayu dan sebagian produksinya telah dipasarkan ke luar negeri.

“Produksi kayu albasia kita punya lebih dari 100 industri kayu, sebagian ekspor. Ini juga salah satunya penyumbang PDRB,” katanya.

Indah menyebut pertumbuhan ekonomi Lumajang pada triwulan I mencapai 5,89 persen.

Ia berharap kondisi tersebut dapat terus dipertahankan meski terdapat tekanan ekonomi, termasuk kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Mudah-mudahan meskipun BBM naik, ini tidak menjadi penghalang untuk terus kita bisa mendorong pertumbuhan ekonomi semakin tinggi dan merata,” katanya.

Bagi Indah, pertumbuhan ekonomi tidak hanya soal angka. Pemerintah harus memastikan manfaat pertumbuhan tersebut dapat dirasakan masyarakat secara langsung.

“Supaya semuanya menikmati kesejahteraan masyarakat, keadilan ekonomi masyarakat yang benar-benar dirasakan secara riil,” ujarnya.

UMKM didorong masuk ekosistem digital

Selain pariwisata, Pemerintah Kabupaten Lumajang juga mendorong UMKM untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Indah mengatakan jumlah UMKM di Lumajang sangat besar sehingga digitalisasi transaksi menjadi penting untuk memperluas akses dan memberikan kemudahan bagi masyarakat.

“Makanya ini penting sekali untuk didorong. Kita support supaya mereka kemudian bertransaksi secara digital,” katanya.

Penggunaan QRIS, menurut Indah, mulai dilakukan oleh pelaku UMKM di Lumajang.

Digitalisasi juga diterapkan dalam pelayanan pemerintah daerah, termasuk transaksi pajak dan retribusi.

Ia mengapresiasi dukungan perbankan, khususnya Bank Jatim, dalam mendorong elektronifikasi transaksi pemerintah daerah.

“Bank Jatim banyak membantu untuk perpajakan, retribusi, dan ini terus akan kita kembangkan,” ujarnya.

“Masyarakat ingin pemerintah hadir”

Indah menilai perkembangan teknologi juga mengubah ekspektasi masyarakat terhadap pemerintah.

Masyarakat, kata dia, kini menginginkan pelayanan yang cepat dan mudah.

“Karena sekarang ini masyarakat maunya cepat, mudah. Mereka tidak mau tahu. Pokoknya kalau ada macet, pasti WhatsApp ke saya,” ujar Indah disambut tawa.

Ia pun mengingatkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), kepala dinas, dan camat agar menempatkan pelayanan masyarakat sebagai prioritas utama.

“Saya selalu sampaikan kepada seluruh OPD, kepala dinas, Pak Camat, bahwa kita ini adalah pelayan. Melayani masyarakat,” katanya.

Menurut Indah, pejabat pemerintah tidak boleh lagi membangun jarak dengan masyarakat.

“Masyarakat itu ingin pejabat itu sama dengan mereka. Bahkan kalau bisa lebih rekoso,” ucapnya.

Ia lantas menceritakan pengalamannya ketika hendak mengunggah makanan sederhana di media sosial.

Menurut dia, masyarakat bisa memberikan respons yang tidak terduga ketika melihat gaya hidup pejabat.

“Kalau lauknya hanya tempe, pecel sama tempe, mau posting sudah tidak berani. Sebab pasti ada yang komentar, ‘Enak Bupatine mangan pecel karo tempe, aku mangan sego karo kerupuk tok’,” tuturnya.

Bagi Indah, cerita tersebut menjadi pengingat bahwa pemerintah harus peka terhadap kondisi masyarakat.

“Masyarakat kita itu sekali lagi minta pemerintah hadir untuk melayani mereka. Titik. Itu saja, mereka tidak minta apa-apa,” tegasnya.

Revitalisasi ruang publik ikut gerakkan UMKM

Selain mengembangkan pariwisata alam, Pemkab Lumajang juga membenahi ruang publik di pusat kota.

Indah mengatakan revitalisasi Alun-Alun Lumajang, termasuk pembangunan “jogging track” dan fasilitas pendukung, membuat kawasan tersebut semakin ramai dikunjungi masyarakat.

Aktivitas warga tersebut ikut memberikan ruang bagi UMKM untuk berkembang.

“Ketika alun-alun ini direnovasi, direhab dengan jogging track yang nyaman, dengan fasilitas yang memadai, luar biasa. Alun-alun ini mulai pagi, siang, sore, malam terus ramai dan UKM-nya bertumbuh,” katanya.

Pemkab Lumajang juga berencana menata kawasan pusat kota dengan memperlebar trotoar.

Ruang publik tersebut diharapkan dapat menjadi tempat masyarakat berolahraga, berjalan-jalan, hingga menikmati suasana kota.

Indah menilai kebutuhan masyarakat terhadap ruang rekreasi dan hiburan juga menjadi peluang ekonomi baru.

“Mudah-mudahan ekonomi semakin bertumbuh dengan baik,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Indah menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia yang telah menggelar kegiatan di Kabupaten Lumajang.

Ia berharap kegiatan yang melibatkan UMKM dan masyarakat tersebut terus memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah.

“Mudah-mudahan di zaman digital ini kita terus bisa memenuhi hak-hak dan harapan masyarakat,” kata Indah.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin