Daerah

Tiga Bulan Tanpa Hujan, Warga Ranuyoso Kehabisan Air: 36 Ribu Liter Bantuan Mulai Didistribusikan

8
×

Tiga Bulan Tanpa Hujan, Warga Ranuyoso Kehabisan Air: 36 Ribu Liter Bantuan Mulai Didistribusikan

Sebarkan artikel ini
Tiga Bulan Tanpa Hujan, Warga Ranuyoso Kehabisan Air: 36 Ribu Liter Bantuan Mulai Didistribusikan

Tiga Bulan Tanpa Hujan, Warga Ranuyoso Kehabisan Air: 36 Ribu Liter Bantuan Mulai Didistribusikan

LUMAJANG,kabarnusa— Lebih dari tiga bulan tanpa hujan membuat warga sejumlah desa di Kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Warga yang selama ini mengandalkan air tadah hujan bahkan terpaksa membeli air ketika bantuan dropping pemerintah tidak mencukupi.

 

Kondisi itu salah satunya dialami warga Desa Penawungan. Persediaan air hujan yang selama ini menjadi andalan telah habis, sementara akses terhadap sumber air bersih di wilayah tersebut relatif sulit.

 

Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih mulai disalurkan. H. Muhamad Nur Purnamasidi, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, menyalurkan bantuan lebih dari 36.000 liter air bersih melalui Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah (LAZIS) PCNU Lumajang, Kamis (8/10/2026).

 

Bantuan tahap pertama itu didistribusikan secara terarah ke sejumlah titik di Kecamatan Ranuyoso, mulai dari tandon umum hingga fasilitas ibadah dan sosial.

 

Ketua Rumah Aspirasi Bang Pur di Lumajang, Pudoli Sandra, mengatakan penentuan lokasi distribusi dilakukan berdasarkan skala prioritas serta laporan dan aspirasi masyarakat yang masuk melalui Rumah Aspirasi Bang Pur.

 

“Kita menyalurkan air bersih ini melalui LAZISNU karena wilayah jangkauannya relatif jauh dan kapasitasnya lumayan besar,” ujar Pudoli.

 

Persediaan Air Hujan Warga Penawungan Habis

 

Desa Penawungan menjadi salah satu wilayah yang mendapat distribusi bantuan air bersih. Di desa tersebut, warga sejak lama mengandalkan air tadah hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

Namun, panjangnya musim kemarau membuat persediaan air yang mereka simpan semakin menipis hingga akhirnya habis.

 

Bagi warga, persoalan tersebut bukan sekadar kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan rumah tangga. Mereka harus mencari berbagai cara agar kebutuhan air sehari-hari tetap terpenuhi.

 

Sebagian warga menunggu dropping air bersih dari pemerintah. Namun, ketika pasokan tidak mencukupi, mereka terpaksa membeli air menggunakan uang sendiri.

 

“Terima kasih banyak, semoga bisa rutin. Soalnya persediaan air hujan kami sudah lama habis. Sementara akses air ke sini tidak ada,” kata Im, warga Desa Penawungan.

 

Ia mengatakan bantuan dropping air dari pemerintah selama ini menjadi salah satu sumber pasokan bagi masyarakat.

 

Namun, distribusi bantuan tidak selalu mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga.

 

“Selama ini, kami dapat air dari dropping bantuan pemerintah. Namun, terkadang kalau kurang, kami terpaksa membeli sendiri,” ujarnya.

 

Belasan Desa Terdampak Kekeringan

 

Persoalan krisis air bersih di Lumajang bukan hanya terjadi di Ranuyoso. Pada Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang melaporkan sedikitnya belasan desa yang tersebar di enam kecamatan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

 

Kemarau panjang dengan demikian tidak hanya berdampak terhadap tanaman dan sektor pertanian, tetapi juga mulai menekan kebutuhan dasar masyarakat.

 

Untuk tahap awal, bantuan air bersih yang disalurkan melalui LAZISNU tersebut menyasar sejumlah desa di Kecamatan Ranuyoso.

 

Wilayah yang menjadi sasaran distribusi antara lain Desa Meninjo, Desa Penawungan, Desa Wates Kulon, dan Desa Alun-Alun.

 

Distribusi air bersih ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga sekaligus meringankan beban masyarakat yang masih harus menghadapi panjangnya musim kemarau.(D.S)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin