Oleh: Sutriachol Haris, Lc
Kabarnusa24.com,- Calon jemaah haji merasa ada keringanan ketika Pemerintah tetap berupaya dalam setiap tahun nya pada penekanan dan penurunan Biaya Perjalanan Ibadah Haji atau yang dulu dikenal dengan sebutan nama ONH Ongkos Naik Haji.
Niat berhaji bagi seluruh umat muslim tentunya ada kebanggaan tersendiri bagaimana tidak karena berhaji adalah merupakah dalam menyempurnakan rukun islam yang ke – 5.
Dimulai ketika berniat dan menyetorkan setoran tahap awal hingga keluarnya sampai mendapati no antrian kursi porsi kuota haji.
Sejalan nya waktu bertahap hingga selalu berharap waktu demi waktu agar dapat segera bisa berangkat ke tanah suci untuk berhaji, karena harus bersabar antrian tartib porsi kuota jamaah haji Indonesia hingga datang panggilan berhaji itu pada setiap tahun nya berputar silih berganti. Sehingga semoga tak ada lagi ruang di bumi pertiwi akan jual beli kasus kuota haji lagi.
Dalam peningkatan pelayanan bagi seluruh jemaah haji Indonesia Pemerintah terus berupaya agar tahapan – tahapan itu dapat dinikmati oleh jemaah haji Indonesia mulai dari keberangkatan, kedatangan, persiapan kesehatan menjelang Arafah Muzdalifah Mina, hingga kepulangan, dst.
Pelayanan masy’aril haram haji waktu demi waktu atau dari tahun ke tahun merupakan perioritas sekaligus tantangan dalam mewujudkan pelayanan tinggi super kualitas ekstra, baik pelayanan yang hamparannya datang dari Kerajaan Arab Saudi itu sendiri, maupun pelayanan modern yang bakal disuguhkan kepada para tetamu Allah itu oleh Pemerintah Indonesia terhadap para jemaah nya.
Jamaah haji lansia dan beresiko tinggi dari Indonesia beberapa tahun terakhir selalu pentas primadona hampir seperempat persen dari total jamaah haji reguler nya.
Bagaimana persiapan dan mental Pemerintah dalam mempersiapkan satu padu hal itu luar dalam nya, berhubung urusan haji yang baru saja menjelma transisi hingga meski punya keberanian dan super kebijakan dalam wujud langkah nyata khidmat cepat, tepat dan akurat.
Ketika bahwa sesungguhnya yang demikian itu niscaya terdapat pelajaran bagi Pemerintah yang terus ingin memperbaiki khidmah suci dalam pelayanan jemaah khususnya menjelang puncak haji pada titik – titik kerawanan, menegangkan sekaligus menggembirakan akan tiba hari – hari maklumat Armuzna.
Pemerintah dalam upaya segenap raga, ragam diplomasi dikerahkan, reformasi kontrak akad transportasi, perhotelan jemaah haji, dst. Dimana itu semua demi tartib terkait birokrasi bidang haji LN agar sukses nya penyelenggaraan ibadah haji NKRI bagi Rahmatan Lil-@lamin.
Apresiasi apabila langkah antisipasi Pemerintah RI dan Kerajaan Arab Saudi dalam membuat skema, teritorial dan sinkronisasi peta lalu lintas jemaah dan transportasinya dalam pelayanan mutu primadona khusus nya Muzdalifah ke Mina dan sebagian ke Makkah. Namun tetap pelayanan yang baik dan ekstra super ketat pada tatanan di tanah Arafah.
Pemerintah yang pemaaf lagi sejati tetap toleran meski Pemerintahan nya diberi ada dapat nilai 11 dari 100. Apalagi ketika Pemerintah 99 persen telah berupaya kuat dalam peningkatan mutu pelayanan dan pengawasan nya kepada tamu – tamu khusus panggilan undangan Allah dengan luas secara lugas, tegas dan maksimal.
Tanda sebuah pertolongan Allah itu hadir dan nampak pada pertolongan suatu Bangsa kepada jati diri rakyat nya akan apapun.
Jikalau tak bersikeras suatu Bangsa atau malas padahal Bangsa ini mampu maka itu pertanda tidak ada pertolongan dari-Nya.
Semoga Pemerintah via KHU di bimbing diberi pertolongan, kekuatan Allah dan taufik-Nya.
(Red)







