Indramayu, Kabarnusa24.com
Fenomena penyapu koin di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat kembali menjadi sorotan publik, terutama menjelang arus mudik Lebaran. Aktivitas ini banyak ditemui di wilayah Sewoharjo, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang hingga Jembatan Sewo, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu.
Keberadaan para penyapu koin kerap menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi, aktivitas ini dianggap sebagai bagian dari tradisi yang sudah berlangsung lama. Namun di sisi lain, dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan karena berpotensi memicu kecelakaan serta menyebabkan kemacetan.
Para penyapu koin biasanya berdiri di bahu jalan sambil membawa sapu lidi bertangkai panjang. Mereka menunggu pengendara yang melintas melempar uang recehan atau bahkan uang kertas, lalu dengan cepat menyapu uang tersebut ke pinggir jalan. Aksi saling berebut koin ini kerap membuat situasi lalu lintas menjadi tidak kondusif.
Berdasarkan penelusuran, asal usul fenomena penyapu koin di wilayah Subang–Indramayu tidak lepas dari tradisi sosial-budaya yang berkembang di sekitar Jembatan Sewo, jalur penghubung penting antara kedua daerah tersebut.
Tradisi ini diyakini berakar dari legenda lokal tentang Saedah dan Saeni, kakak beradik yang konon berubah menjadi buaya putih setelah menceburkan diri ke sungai di sekitar jembatan. Kisah tersebut kemudian melahirkan nuansa mistis yang masih dipercaya sebagian masyarakat.
Kepercayaan itu berkembang menjadi kebiasaan melempar koin sebagai bentuk sedekah atau penghormatan kepada “penunggu” sungai, dengan harapan para pengendara diberi keselamatan saat melintasi jalur Pantura yang dikenal rawan kecelakaan.
Tradisi “tawur duit” ini terus berlangsung hingga kini, meski telah mengalami pergeseran makna seiring waktu.
Dari Tradisi ke Peluang Ekonomi
Awalnya hanya sebatas ritual atau kepercayaan, kini fenomena tersebut berkembang menjadi aktivitas ekonomi bagi sebagian masyarakat. Para penyapu koin berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga lansia, yang mayoritas berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah.
Dengan memanfaatkan momen tertentu, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran, jumlah penyapu koin meningkat drastis. Bahkan ratusan orang dapat berjejer di sepanjang jalan dekat Jembatan Sewo untuk mengais rezeki dari uang yang dilempar pengendara.
Sapu lidi dengan tangkai panjang menjadi alat utama untuk mengumpulkan uang tanpa harus terlalu lama berada di tengah jalan yang padat kendaraan.
Meski dianggap sebagai sumber penghasilan, aktivitas ini memiliki risiko tinggi. Selain membahayakan keselamatan para penyapu koin, praktik tersebut juga dapat mengganggu pengguna jalan lain.
Lonjakan jumlah penyapu koin saat musim mudik semakin memperbesar potensi kecelakaan dan kemacetan di jalur Pantura yang memang sudah padat.
Fenomena ini pun terus menjadi perhatian berbagai pihak, terutama terkait upaya penertiban dan edukasi kepada masyarakat, agar tradisi yang ada tidak berujung pada risiko keselamatan.







