Indramayu, kabarnusa24.com
Dugaan ajaran menyimpang yang dikaitkan dengan seorang perempuan bernama Ibu Desi menghebohkan warga Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Setelah menjalani proses klarifikasi bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ibu Desi akhirnya angkat bicara dan membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Klarifikasi berlangsung di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kroya, Selasa (21/7/2026). Pertemuan tersebut digelar menyusul laporan dari sejumlah tokoh masyarakat kepada MUI terkait aktivitas kelompok yang dipimpin Ibu Desi dan dinilai telah menimbulkan keresahan.
Ibu Desi menegaskan bahwa tuduhan mengenai adanya ajaran menyimpang tidak benar. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.
“Semua tuduhan tidak benar. Itu saja. Semua jangan ikut-ikutan. Semuanya enggak ada bukti. Tuduhan itu tidak benar. Semuanya sudah selesai,” kata Ibu Desi, dikutip dari iNews Indramayu, Selasa (21/7/2026).
Selain membantah dugaan ajaran menyimpang, Ibu Desi juga menepis isu yang menyebut ada jemaah yang menyerahkan uang sedekah hingga Rp40 juta kepada kelompoknya. Isu tersebut sebelumnya berkembang bersamaan dengan dugaan metode pengobatan yang dikaitkan dengannya.
“Oh enggak ada itu, bohong, bohong, bohong,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai pengakuan warga yang mengaku telah mengeluarkan uang hingga puluhan juta rupiah, Ibu Desi meminta pihak yang menudingnya menunjukkan bukti.
“Buktinya mana? Bukti cek Rp40 juta,” ucapnya.
Sebelumnya, dugaan tersebut disampaikan oleh tokoh masyarakat Kecamatan Kroya, Guruh Rahmatullah. Ia mengatakan aktivitas kelompok tersebut telah menjadi perhatian warga selama kurang lebih sembilan bulan.
Menurut Guruh, persoalan bermula ketika seseorang yang diduga merupakan pengikut Ibu Desi mendatangi rumah kerabatnya dan menawarkan metode pengobatan melalui kegiatan silaturahmi.
“Awalnya ada salah satu orang yang diduga merupakan pengikutnya datang ke rumah bibi saya. Kemudian dia mengajak dengan alasan untuk pengobatan. Katanya pengobatannya cukup dengan bersilaturahmi. Kami sendiri tidak tahu metode pengobatannya seperti apa, tetapi yang kami ketahui hanya cukup bersilaturahmi dan dijanjikan bisa sembuh,” ujar Guruh.
Guruh menuturkan, seiring berjalannya waktu warga mulai menemukan sejumlah kejanggalan. Kekhawatiran masyarakat semakin meningkat setelah informasi mengenai aktivitas kelompok tersebut ramai diperbincangkan di media sosial.
“Lama-kelamaan kami melihat ada banyak kejanggalan. Yang kami khawatirkan adalah masyarakat menjadi salah memahami ajaran agama. Kami takut terjadi kesesatan di tengah masyarakat,” katanya.
Hingga saat ini, proses klarifikasi telah dilakukan oleh MUI bersama pihak terkait. Sementara itu, Ibu Desi tetap membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya dan menyatakan persoalan tersebut telah selesai menurut versinya.







