DaerahSeni Budaya

Suara yang Tak Pernah Padam: Mengenang Mimi Hj. Dariyah, Maestro Tarling Indramayu

17
×

Suara yang Tak Pernah Padam: Mengenang Mimi Hj. Dariyah, Maestro Tarling Indramayu

Sebarkan artikel ini
Suara yang Tak Pernah Padam: Mengenang Mimi Hj. Dariyah, Maestro Tarling Indramayu

 

Indramayu, Kabarnusa24.com
Di sudut warung kopi pinggiran Indramayu, suara radio tua masih kerap memutar lagu-lagu tarling yang akrab di telinga masyarakat pesisir.

Dari gelombang yang kadang tersendat, terdengar lantunan suara khas yang penuh nasihat kehidupan.

“Pikir-pikir dingin sedurunge kawin, aja sampe kecewa sawise rumah tangga…”
Suara itu milik Mimi Hj. Dariyah, sosok perempuan yang menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan seni tarling Cirebonan-Indramayuan

Bagi generasi sekarang, nama-nama seperti Yoyo Suwaryo atau Ipang Supendi mungkin lebih populer sebagai legenda tarling. Namun jauh sebelum panggung-panggung besar melahirkan bintang-bintang itu, Mimi Dariyah telah lebih dulu menanam benih kejayaan seni pesisir melalui karya, perjuangan, dan dedikasinya.

Tumbuh Bersama Dunia Seni
Lahir pada 1 Agustus 1953, Dariyah kecil telah akrab dengan dunia pertunjukan sejak usia lima tahun. Ia tumbuh di lingkungan seni dan merupakan cicit dari Ki Musan, dalang wayang golek cepak legendaris asal Desa Tugu, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu.

Bagi Dariyah, seni bukan sekadar hiburan ataupun mata pencaharian, melainkan jalan hidup. Bersama sang suami, T. Makmun Ridwan, ia mendirikan Grup Tarling Cahaya Muda pada tahun 1969.

Dari kelompok inilah namanya mulai dikenal luas sebagai salah satu tokoh penting perkembangan tarling di wilayah Indramayu dan Cirebon.

Lagu-Lagu yang Dekat dengan Kehidupan Rakyat
Kekuatan utama Mimi Dariyah bukan hanya terletak pada warna vokalnya yang khas, tetapi juga pada kemampuannya menghadirkan cerita kehidupan masyarakat kecil ke dalam lagu dan drama tarling.

Sejumlah karya populernya seperti Cibulan, Manuk Dara Sepasang, hingga Sulaya Janji begitu membumi karena mengangkat persoalan rumah tangga, cinta, nasihat hidup, hingga kritik sosial dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami masyarakat.

Melalui lagu dan drama tarling, Mimi Dariyah berhasil menghadirkan cermin kehidupan wong cilik. Karyanya membuat penonton tertawa, tersentuh, bahkan merenung dalam waktu bersamaan.

Melahirkan Banyak Seniman Besar
Tak hanya dikenal sebagai penyanyi dan komponis, Mimi Dariyah juga merupakan sosok pembina dan guru bagi banyak seniman tarling.

Sejumlah nama besar seperti Yoyo Suwaryo, Aam Kaminah, hingga Dewi Kirana pernah merasakan didikan dan arahan darinya.

Ia dikenal sebagai seniman yang terbuka dan tidak pernah takut munculnya generasi baru. Sebaliknya, ia justru memberi ruang bagi para talenta muda untuk berkembang dan bersinar di panggung seni tradisional.
Mimpi Menjaga Tarling Tetap Hidup
Menjelang akhir hayatnya,

Mimi Dariyah sempat menyimpan kegelisahan melihat seni tarling mulai kehilangan tempat di hati generasi muda. Ia memiliki cita-cita mendirikan padepokan seni di samping rumahnya di kawasan Jatibarang Baru sebagai tempat belajar dan menjaga keberlangsungan tarling.

Namun mimpi itu belum sempat terwujud. Mimi Hj. Dariyah wafat pada 18 Oktober 2011.
Meski demikian, jejak cintanya terhadap seni tetap hidup. Sebagai bentuk penghormatan, jalan tempat tinggalnya kini dikenal masyarakat dengan nama Gang Dariyah.

Hari ini, Mimi Dariyah memang telah tiada. Namun suaranya masih hidup di kaset-kaset lama, radio desa, panggung hajatan, hingga platform digital yang terus memutar karya-karyanya.
Sebab seniman besar tidak benar-benar pergi.

Mereka tetap hidup dalam setiap lagu yang terus dinyanyikan oleh generasi setelahnya.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin