Indramayu, kabarnusa24.com Antusiasme masyarakat terhadap program Sekolah Maung di wilayah Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, terbilang sangat tinggi. Namun, dari ribuan pendaftar yang mengikuti seleksi, lebih dari seribu siswa dinyatakan tidak lolos.
Kepala KCD Wilayah IX Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dewi Nurhulaela, menjelaskan bahwa di wilayah kerjanya terdapat tiga sekolah yang ditetapkan sebagai Sekolah Maung, yakni SMAN 1 Sindang Kabupaten Indramayu, SMAN 1 Majalengka, dan SMKN 1 Majalengka.
“Antusias peserta yang mendaftar Sekolah Maung sangat tinggi,” ujar Dewi, Senin (8/6/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun, di SMAN 1 Sindang Indramayu terdapat 661 pendaftar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 384 siswa dinyatakan lulus, sementara 277 siswa tidak lolos seleksi.
Sementara itu, di SMAN 1 Majalengka terdapat 745 pendaftar. Sebanyak 384 siswa diterima dan 361 siswa lainnya dinyatakan tidak lulus.
Adapun di SMKN 1 Majalengka, jumlah pendaftar mencapai 1.135 siswa. Dari total tersebut, sebanyak 768 siswa diterima, sedangkan 367 siswa tidak lolos seleksi.
Dengan demikian, total peserta yang tidak lolos seleksi Sekolah Maung di wilayah kerja KCD Wilayah IX Jawa Barat mencapai 1.005 siswa.
Meski demikian, Dewi memastikan para siswa yang belum berhasil diterima di Sekolah Maung masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan melalui jalur sekolah reguler.
“Siswa yang tidak lulus dalam pendaftaran Sekolah Maung bisa mendaftar ke sekolah reguler,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA/SMK Tahun 2026 masih berlangsung dan akan ditutup pada Selasa (9/6/2026) pukul 21.00 WIB.
Sebagai informasi, Sekolah Maung merupakan program transformasi sekolah negeri unggulan yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Program ini diperuntukkan bagi siswa berprestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
Pada pelaksanaan SPMB 2026, penerimaan peserta didik Sekolah Maung dilakukan melalui jalur prestasi sebagai mekanisme utama seleksi. Karena itu, sekolah ini tidak lagi menerapkan jalur zonasi sebagaimana yang berlaku pada sekolah reguler.







