Opini

Cinta dan Kekerasan Ibarat Kelembutan Hati yang Berubah Arah

8
×

Cinta dan Kekerasan Ibarat Kelembutan Hati yang Berubah Arah

Sebarkan artikel ini
Cinta dan Kekerasan Ibarat Kelembutan Hati yang Berubah Arah
Ilustrasi

Oleh: Ahmad Yani, M.A. Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

JAKARTA,- Dalam beberapa hari terakhir ini, publik dikagetkan dengan peristiwa menghebohkan di Bandung Jawa Barat. Peristiwa penyekapan disertai dengan tindak kekerasan berat seorang pria terhadap kekasih yang dicintainya.

Cinta seharusnya menjadi ruang paling aman bagi jiwa. Ia menenangkan, menghidupkan, dan memuliakan manusia. Namun dalam kenyataan, tidak sedikit kekerasan justru lahir dari relasi yang mengatasnamakan cinta.

Di sinilah kita perlu bertanya dengan jujur mengapa kelembutan dan kasih sayang kadang bisa berubah total menjadi kekerasan dan kejahatan? Bagaimana mungkin sesuatu yang suci berubah menjadi luka? Lalu apakah ada yang salah dengan cinta?

Dalam khazanah ulama klasik, cinta (mahabbah) tidak pernah dilepaskan dari nilai ketundukan kepada Allah dan penghormatan terhadap sesama. Imam Ghazali menegaskan bahwa cinta sejati akan melahirkan kasih sayang (rahmah), bukan dominasi.

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menjelaskan bahwa cinta yang benar adalah yang mendorong seseorang untuk berbuat baik kepada yang dicintai, bukan menguasai atau menyakitinya.

Senada dengan itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Raudhatul Muhibbin membagi cinta menjadi yang terpuji dan tercela. Cinta yang terpuji mendekatkan pada kebaikan dan menjaga kehormatan, sedangkan cinta yang tercela melahirkan obsesi, kecemburuan berlebihan, bahkan tindakan agresif. Dalam konteks ini, kekerasan bukanlah buah cinta, melainkan tanda bahwa cinta telah tercampur oleh hawa nafsu dan ego.

Lebih dalam lagi, Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan bahwa keterikatan yang berlebihan pada selain Allah sering kali melahirkan penderitaan.

Ketika seseorang menjadikan manusia sebagai pusat segalanya, ia mudah jatuh pada rasa memiliki yang berlebihan dan dari sanalah potensi kekerasan muncul.

Perspektif psikologi modern memberikan penjelasan yang tak kalah penting. Sigmund Freud melihat adanya dorongan cinta (Eros) dan dorongan agresi (Thanatos) dalam diri manusia. Jika tidak dikelola, keduanya bisa melahirkan perilaku destruktif bahkan dalam hubungan yang intim.

Sementara itu, Erich Fromm menegaskan bahwa cinta bukan sekadar perasaan, melainkan kemampuan. Ia membutuhkan tanggung jawab, penghormatan, pengetahuan, dan kepedulian. Ketika cinta berubah menjadi hasrat memiliki, maka kontrol dan kekerasan mudah muncul.

Cinta adalah Rahmat

Pandangan para ulama dan psikolog di atas menemukan landasan yang sangat kuat dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak hanya mengajarkan cinta, tetapi juga mempraktikkannya dalam bentuk paling luhur, kasih sayang tanpa kekerasan. Beliau bersabda, yang artinya:

“Orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa cinta sejati berwujud rahmat. Kekerasan jelas bertentangan dengan sifat dasar ini. Nabi juga menegaskan:

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” (HR Tirmidzi)

Standar cinta dalam Islam bukan pada intensitas perasaan, tetapi pada kualitas perlakuan. Kekerasan dalam rumah tangga, dalam bentuk apa pun, adalah indikator rusaknya akhlak, bukan besarnya cinta.

Dalam hadis lain, Nabi bersabda, yang artinya:

“Janganlah salah seorang di antara kalian memukul istrinya seperti memukul budak, kemudian ia menggaulinya di akhir hari.” (HR Bukhari)

Ini adalah kritik keras terhadap paradoks cinta yang berubah menjadi kekerasan. Bukankah Nabi juga bersabda, yang artinya:

“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu menahan amarahnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam konteks relasi, kemampuan mengelola emosi adalah inti dari cinta yang dewasa. Kekerasan sering kali lahir dari ketidakmampuan mengendalikan amarah.

Bahkan dalam kondisi konflik sekalipun, Nabi tetap mencontohkan kelembutan. Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa beliau tidak pernah memukul istri-istrinya, meski mungkin mereka berbuat salah. Ini menjadi teladan bahwa cinta tidak pernah membutuhkan kekerasan untuk bertahan.

Jika kita menautkan pandangan ulama, psikologi, dan hadis Nabi, maka satu kesimpulan menjadi terang benderang bahwa kekerasan bukan bagian dari cinta, melainkan penyimpangan darinya.

Cinta yang sehat adalah cinta yang menghormati, bukan menguasai. Cinta yang menguatkan, bukan melukai, dan cinta yang menenangkan, bukan menakutkan.

Sebaliknya, ketika cinta dipenuhi rasa curiga berlebihan, keinginan mengontrol, atau ledakan emosi, maka yang bekerja bukan cinta, melainkan ego dan luka batin yang belum sembuh.

Di sinilah pentingnya membangun kesadaran spiritual dan kematangan psikologis. Cinta harus dituntun oleh iman, ditopang oleh akhlak, dan dikelola dengan kecerdasan emosi.

Pada akhirnya, cinta adalah amanah. Ia tidak cukup hanya dirasakan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap yang memuliakan. Sebab dalam ajaran Nabi SAW, cinta sejati selalu menghadirkan rahmat bukan luka.

(Red)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin