Oleh: Sutriachol Haris, L.C.
TANGGERANG,– Introspeksi sumber daya manusia dan evaluasi sistem dibutuhkan sebagai refleksi therapi dalam sebuah upaya proses berjalan sehingga rem yang standar pakemnya akan keselamatan yang lebih besar lagi amat diperlukan terutama dalam kemaslahatan dan kebermanfaatan demi akuntabilitas publik yang lebih baik terlebih kesemua – semua itu tak berlepas tepi dari APBN.
Moratorium titik SPPG baru memang lazim agar dapat berjalan lebih baik berkelanjutan dengan pondasi yang lebih kuat. Penghentian ini adalah rem mendadak sebagai bentuk ekspansi sementara atau panjang waktu dengan koridor dan kurun yang diperlukan berdasarkan kajian- kajian serta penemuan dan study kasus yang mendalam dengan dasar untuk memperbaiki pondasi pembenahan tata kelola serta evaluasi sistem komprehensif yang lugas tegas akuntabel dan transparan.
Rem mendadak memang kadangkala tak mengenakan dan standar ideal baiknya persiapan jauh – jauh lebih matang sehingga yang terjadi sekarang ini adalah bukan seperti sedang meletakan standar ganda dimana maju kena mundur kena. Berhenti nya tak boleh seperti tahu bulat digoreng dadakan menyetop distribusi MBG saat tak aktif masa libur sekolah kurang berapa hari saja.
Bagaimana keputusan tersebut jangan sampai menjelma arogansi dan aroma bau syahwat kebijakan non kebajikan, ini kudu disadari. Kebijakan dan kebajikan dua kata mulia sifat – sifat ke – Tuhanan sudah semestinya menjelma dan hadir dalam diri setiap kita, karena setiap diri kita adalah pemimpin. Terakhir periode libur ini berapa banyak anak TK dan B3 yang nangis dan rindu ingin MBG bukan makan sajian sang ibunya. Apalagi saran Hotman Paris Hutapea MBG diganti uang gizi, analisa ngawur.
Sejatinya kebijakan diambil harus berdasar tuntunan narasi sumber nurani (istafti qalbaka) meminta pandangan suara fatwa hati yang ada dalam pada setiap jiwa, karena semua itu perlu menjelma bersifat sosialisasi terlebih dahulu. Artinya untuk libur sekolah yang akan datang diterapkan dan dimulai sosialisanya dari sekarang. Bukan mendadak hajar tak wajar saja. Niat baik program baik kebijakan baik dan hasil output pun sehingga bisa lebih baik tanpa ada yang luka dalam kearifan kebijakan prosesnya karena itu semua adalah syaraf dan nadi dari amanah UUD 1945 sesungguhnya.
Mundur selangkah untuk dapat melompat lebih jauh kedepan adalah keniscayaan dan metafora tentang strategi jeda dan refleksi total bagi BGN. Hanya adakala nya titik-titik wajib sosialisasi kudu dibarengi diawalannya. Ingat di MPR-RI itu isi subtansi titahnya dalam isu redaksi kerakyatan dan kebermaslahatan dalam framing wadah pancasila semua rukun dan lazim adanya sosialisasi.
Bagi pandangan ahli sufi betul tak boleh ada kata jeda hanya untuk dapat selalu bisa mengingatnya Dia sang maha pencipta dalam setiap hembusan napas tak boleh ada jeda. Dalam filosofis ahli sufi pun berdosa bukan saja tengah melakukan mega korupsi atau maksiat. Namun baginya sebab diakibatkan lalai melupakan mengingat Allah, ayat dan asmaNya walau sedetik saja.
Persiapan kuda – kuda diperlukan lebih kuat maka langkah selangkah mundur kebelakang memang perlu untuk mencapai titik capaian seribu langkah kedepan. Dalam falsafah yang diajarkan Prof. Nurcholish Majid misalnya juga demikian yakni lebih baik mundur satu langkah kebelakang daripada maju seribu langkah terus kedepan namun berantakan seperti
mungkin secara umum yang terjadi pada ini negeri.
Pusat konsentrasi masyarakat digital, gadget ini tak mudah gegabah disetir penguasa misalnya mengalihkan giring isu apapun yang dengan mudah oleh masyarakat dapat dibaca. Namun energi bangsa jauh dari sebuah kata efektif. Untuk mendengar saja titah ilahi akan aspirasi dan tak melulu dibalas tandingan.
Legalisme otokratik menghalalkan menabrak berbagai cara adalah melanggar hukum titah konstitusi, diantaranya mengesampingkan jelmaan bentuk sosialisasi tanpa alasan, termasuk alasan efisiensi dan lainnya. Sejatinya sebagai negara besar terus belajar lagi berbenah serta mengedepankan jatidiri dengan kuda – kuda yang kuat sebagai negara yang kaya energi sumber daya mineral lagi bersuku bangsa SDM lebih unggul dari generasi semua elemen unsur anak bangsa dalam bingkai “@khlakul Karim@h”.







