Opini

Kebangkrutan Program MBG Akibat Oknum Pemimpin Hingga Pengelola SPPG (BGN-Mitra) Dzhalim

25
×

Kebangkrutan Program MBG Akibat Oknum Pemimpin Hingga Pengelola SPPG (BGN-Mitra) Dzhalim

Sebarkan artikel ini
Kebangkrutan Program MBG Akibat Oknum Pemimpin Hingga Pengelola SPPG (BGN-Mitra) Dzhalim

Oleh : Sutriachol Haris, L.C., Jurnalis Kabiro Tanggerang Media One line Kabarnusa24.com

TANGGERANG,- Moratorium titik dapur baru di NKRI prioritas di pemerintahan baru BGN, hal ini patut mendapatkan apresiasi. Dan titik dapur SPPG yang telah ada dan beroperasi seyogyanya mawas diri.

Mengingat titah juklak dan juknis dalam dasar implementasi evaluasi tata kelola pembukaan titik dapur yang menjadi titik krusial seperti halnya bila di Kemenag lalu yakni kasus jual beli kuota haji.

Manajemen organisasi BGN hingga SDM bahkan mesti total perbaikan atau reformasi birokrasi menyeluruh.

BGN sebagai wujud ibu di tubuh badan yang baru sudah sepantasnya bebersih totalitas moratorium atas nama kemaslahatan umum bukan pengabadian kerusakan – kerusakan yang nyata dibuat oleh segelintir oknum dan siluman.

Utamanya pada internal hingga pengawasan eksternal mencakupi pengusaha bahkan BGN dan stakeholder kudu menghindari pertumpahan bertumpuk jual beli meriahnya titik dapur baru.

Problem solving bebersih dan sadari ibu sebagai wadah baru jangan sampai busuk bau. Sedari dini sang ibu kudu dengan ATT dan audit investigasi total mulai dari akar rumput KaSPPG hingga eselon 1 di tubuh ibu itu.

Ibu adalah simbol bagi kekuatan baik pada level keluarga bahkan ibu adalah simbol negara sejak yang bernama kasih sayang atau rahim itu menjelma rahmatan lil alamin bagi seluruh anak – anaknya dan bangsanya.

Dalam klausul pada titik dapur baru level kebijakan misalnya yang dapat menghasilkan artikulasi bagi sebuah yang bernama kebajikan dan hingga menelurkan kearifan, artinya adalah moratorium titik dapur SPPG baru amat tepat.

Penghematan efisiensi di tubuh ibu emang perlu ibu, tapi yang lebih tepat bahasanya ialah gunakanlah anggaran tepat dan jangan takut akan jalankan program. Garis besarnya adalah jalankan sesuai koridor dan semua dengan tak aur – auran. tepat guna wujud anggaran dan sebuah demi program nyata Presiden, setara ultimatumnya bahwa MBG tak boleh jadi sarana memperkaya oknum.

Ibu, lakukan sidaklah ke SPPG bersinergi, berkolaborasi, bersama Kejagung karena dalam sidak akan ada terbangun sifat sidik perlahan -lahan. Waspadai oknum Kejaksaan Daerah mencoba ada yang menyentuh dengan bermain bersama Mitra.

Dalam pandangan anak bangsa atas wujud penglihatan apapun bila yang bernama “hak” patut tumbuh kembangkan, namun dalam skala pandangan absolut atas kebatilan kudu memohon kemampuan untuk dapat menjauhinya.

Ya Allah tunjukanlah kepada ibu di tubuhnya akan kebenaran sebagai kebenaran dan anugerahkanlah ia atas kemampuan untuk istiqomah dapat mengikutinya mempertahankan dapur – dapur SPPG yang sudah baik jadi lebih baik.

Begitu pula ya rabbana tunjukanlah kepada ibu, bahkan pula kepada kami, semua, bilamana kebatilan sebagai kebatilan dan anugerahkanlah pada kami semua, BGN dan Mitranya kemampuan untuk bisa dan dapat menjauhinya.

Dahulu di era SBY pada tahun 2010 an dalam bahasa gaul modern zaman now kata semangat anak muda sekarang kala itu sejarah mencatat terjadi moratorium CPNS.

Sebagaimana hingga sekarang dapat kita perlahan lihat saksikan hal tersebut agak lebih baik walau maaf masih ada saja terjadi di sebagian daerah ajang bisnis untuk jadi P3K misalnya.

Maaf sekali penulis dapat kutip dari Presiden Prabowo Subianto ketika pidato di Sentul belum lama ini pada Rabu, (03/05/26) yakni bahasa “agak”. Artinya “agak” mungkin mendingan dari yang jelek. Walau setiap upaya tak boleh paksa kudu berdasar atas kemampuan disini negara wajib hadir menciptakan jalani eksistensi “spektakuler” program yang berkelanjutan dan tak boleh bernegara ada kata “Agak”.

Semoga dengan moratorium di tubuh BGN dapat membantu bersama negara Prabowo hidup Indonesia emas nyata berdaulat adil sejahtera makmur sentosa. Baldatun tayibatun warabun ghofur.

(Red)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin