Nasional

Buntut Demo 27 Agustus Malam Mencekam, Pengamat : Deteksi Diduga Provokasi Terselubung Pembenturan Ormas vs Masyarakat Sipil

9
×

Buntut Demo 27 Agustus Malam Mencekam, Pengamat : Deteksi Diduga Provokasi Terselubung Pembenturan Ormas vs Masyarakat Sipil

Sebarkan artikel ini
Buntut Demo 27 Agustus Malam Mencekam, Pengamat : Deteksi Diduga Provokasi Terselubung Pembenturan Ormas vs Masyarakat Sipil
Foto : Ilustrasi

JAKARTA, KABARNUSA24.COM
Gelombang unjuk rasa masif yang digelar ratusan elemen masyarakat sipil di depan Gedung DPR/MPR dan DPD RI pada Kamis (27/08/26) berakhir dengan bentrokan horizontal antar kelompok pada malam harinya.

Pengamat Kebijakan Publik dan Sosial Politik Ley Bolon mengecam keras insiden ini. Mereka mendeteksi diduga adanya indikasi kuat skenario “adu domba” terstruktur yang sengaja membenturkan kelompok Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) dengan massa aksi sipil guna mengalihkan substansi tuntutan rakyat.

Rentetan kerusuhan ini pecah setelah massa dari berbagai aliansi termasuk Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Aliansi Masyarakat Depok Bersatu (AMDB), Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM), dan Relawan Madura Pengawal Program Presiden Prabowo (RMP4) menyuarakan rapor merah pemerintah.

Mereka membawa isu krusial mulai dari desakan pengesahan RUU Perampasan Aset, hukuman mati koruptor, hingga jeritan mahalnya harga kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja.

Ley Bolon menilai eskalasi kekerasan yang meluas hingga dini hari bukan merupakan benturan spontan. Menurutnya, ada pola klasik pembiaran dan infiltrasi untuk menciptakan stigma bahwa gerakan sipil anti-korupsi bersifat anarkis.

“Kita harus melihat ini secara jernih. Ketika elemen sipil menuntut isu struktural seperti RUU Perampasan Aset, tiba-tiba muncul gesekan di lapangan dengan ormas tertentu. Ini adalah indikasi kuat adanya aktor intelektual yang memainkan strategi devide et impera (adu domba). Tujuannya jelas mendelegitimasi substansi tuntutan rakyat dengan narasi kerusuhan,” tegas Ley Bolon saat diwawancarai wartawan pada Jumat (28/08/26) pagi.

Malam Hari Mencekam : Pembakaran Armada Ormas dan Pos Polisi

Bentrokan yang menjalar dari kawasan Senayan hingga Slipi tersebut menyisakan kerusakan fasilitas publik yang masif.

Amukan massa yang tak terkendali berujung pada pembakaran lima unit armada truk yang diduga terafiliasi dengan Ormas. Tidak hanya kendaraan, massa yang tersulut emosi juga membakar habis Pos Polantas yang berada tepat di bawah Flyover Slipi.

Pantauan di lokasi pada Jumat (28/08/26) pagi menunjukkan pemandangan yang menghitam. Bangunan pos polisi tampak hangus dengan kaca-kaca yang hancur berserakan.

Petugas gabungan mulai mengevakuasi bangkai truk dan membersihkan material sisa pembakaran yang sempat melumpuhkan urat nadi transportasi Ibu Kota akibat penutupan ruas tol dan jalur protokol semalam.

Pengamat : Kegagalan Antisipasi Aparat Keamanan

Ley Bolon menilai Aparat Penegak Hukum gagal melakukan deteksi dini demi mencegah benturan antarkelompok di ruang publik. Pihak keamanan dituding lambat memisahkan faksi massa yang sejak sore sudah menunjukkan tensi tinggi.

“Aparat seharusnya sudah memetakan potensi konflik sejak awal ketika ada empat aliansi besar masuk ke Jakarta.
Membiarkan ormas dan massa aksi sipil berada dalam satu barikade tanpa batasan yang ketat hingga malam hari adalah kelalaian fatal. Situasi chaos ini sengaja dipelihara oleh aktor di balik layar untuk menciptakan pembenaran terhadap tindakan represif ke depan,” lanjut pengamat.

Hingga Jumat siang, situasi lalu lintas di kawasan Slipi dan Gatot Subroto dilaporkan berangsur normal setelah rekayasa arus dihentikan bertahap.

Namun, pengamat mendesak Komnas HAM dan institusi independen untuk segera mengusut tuntas dalang di balik mobilisasi kelompok yang memicu bentrokan horizontal ini agar tidak menjadi preseden buruk yang merusak iklim demokrasi nasional.(Rizky Tile)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin