Bukan Sekadar Karnaval, Klakah Bawa “Asmara Putri Kirana” dan Pesan Inovasi Pelayanan ke Panggung Lumajang
LUMAJANG, kabarnusa 24.com— Kisah cinta antara putri kerajaan dan kesatria dari kalangan biasa akan menjadi warna berbeda dalam Karnaval Kabupaten Lumajang 2026. Kecamatan Klakah membawa lakon “Asmara Putri Kirana” cerita tentang cinta yang harus melewati batas status sosial, pergolakan, dan berbagai rintangan.
Konsep tersebut tidak sekadar ditampilkan sebagai pertunjukan seni. Kecamatan Klakah menjadikan karnaval sebagai panggung untuk memperkenalkan budaya dan sejarah daerah sekaligus menyampaikan inovasi pelayanan publik kepada masyarakat.
Sekretaris Kecamatan Klakah Luqman Afifudin, S.KM., MPH., mengatakan keikutsertaan Klakah merupakan hasil kolaborasi pemerintah kecamatan dengan 12 desa yang ada di wilayah tersebut.
“Untuk tahun 2026 ini, Kecamatan Klakah ikut berpartisipasi dalam Karnaval Kabupaten Lumajang. Ini merupakan hasil kolaborasi antara kecamatan dengan desa. Jumlah desa kami ada 12 desa,” ujar Luqman.
Cinta Putri Kerajaan dan Kesatria
Menurut Luqman, tema “Asmara Putri Kirana” sengaja dipilih untuk mengangkat cerita yang sarat dengan nilai perjuangan.
Kisah tersebut menggambarkan romansa Putri Kirana, seorang putri kerajaan, dengan seorang kesatria yang bukan berasal dari lingkungan kerajaan. Hubungan mereka kemudian menghadapi berbagai tantangan dan pergolakan.
“Ceritanya tentang romansa antara Putri Kirana, putri kerajaan, dengan seorang kesatria yang bukan dari kalangan kerajaan. Tantangan dan pergolakan menjadi penghambat sekaligus ujian bagi cinta mereka,” kata Luqman.
Kisah itu kemudian diterjemahkan ke dalam pertunjukan yang melibatkan para pelaku seni dari daerah.
Kecamatan Klakah menggandeng “Sanggar Kusuma”, sanggar seni yang selama ini membina anak-anak dan memiliki pengalaman tampil dalam berbagai kegiatan, baik di Klakah maupun di luar daerah.
Rombongan juga mendapat dukungan dari pemerintah desa. Keterlibatan desa menjadi bagian penting dalam membangun penampilan yang merepresentasikan Kecamatan Klakah secara bersama-sama.
Desa Punya Panggung Sendiri
Menariknya, sejumlah desa juga membawa kreativitas masing-masing. Penampilan tari yang ditampilkan desa bukan sepenuhnya merupakan arahan dari pemerintah kecamatan, melainkan muncul dari inisiatif desa.
“Itu inisiatif dari desa sendiri. Mereka langsung menampilkan tari. Jadi bukan diatur oleh kecamatan, tetapi memang dari desa masing-masing,” ujar Luqman.
Kolaborasi tersebut membuat Karnaval Lumajang 2026 menjadi ruang bagi desa untuk menunjukkan identitas dan kreativitas mereka.
Dari Budaya ke Pelayanan Publik
Klakah juga tidak hanya membawa kesenian. Di balik mobil hias yang ditampilkan, terdapat pesan mengenai inovasi pelayanan publik.
Inovasi tersebut diberi nama “Ajem Pedas” singkatan dari “Antar Jemput Dokumen untuk Penyandang Disabilitas”.
Melalui inovasi itu, pemerintah Kecamatan Klakah ingin menunjukkan bahwa pelayanan publik harus dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
“Di mobil hias kami juga kami sampaikan terkait inovasi pelayanan masyarakat yang ada di kecamatan, namanya Ajem Pedas, Antar Jemput Dokumen untuk Penyandang Disabilitas,” kata Luqman.
Bagi Kecamatan Klakah, keterlibatan dalam karnaval bukan hanya soal kemeriahan. Ada dua pesan yang ingin dibawa: “menjaga ingatan masyarakat terhadap budaya dan sejarah, sekaligus memperkenalkan inovasi pelayanan pemerintah kepada publik.”
Rombongan Kecamatan Klakah dijadwalkan tampil sebagai “peserta nomor 03” dalam Karnaval Kabupaten Lumajang 2026.
Melalui “Asmara Putri Kirana”, Klakah ingin membuktikan bahwa panggung karnaval dapat menjadi ruang bertemunya seni, sejarah, kreativitas desa, dan pelayanan publik—semuanya dalam satu pertunjukan.
“Yang kami harapkan, ini menjadi kesempatan bagi Kecamatan Klakah untuk mengenalkan budaya dan sejarah sekaligus inovasi yang kami miliki kepada masyarakat,” ujar Luqman.(D.S)







