BEKASI,– Fenomena anak-anak yang berhenti mengaji kian sering terdengar di lingkungan masyarakat. Alasannya pun beragam, mulai dari alasan sekolah, tugas yang menumpuk, terlalu lama bermain HP, hingga kurangnya dukungan dari orang tua.
Hal tersebut menjadi perhatian serius dari Ust. Umar Fatoni, Anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Sukabungah, kecamatan Bojongmangu, kabupaten Bekasi.
Menurutnya, alasan-alasan tersebut jika dibiarkan akan menjadi pintu masuk lunturnya nilai-nilai agama pada generasi muda.
“Padahal, belajar agama adalah kebutuhan yang tidak bisa digantikan oleh pendidikan dunia,” tegas Ust. Umar Fatoni dalam pesan tertulisnya kepada media pada Selasa (29/9/2026).
Ia menyoroti, fenomena berhenti ngaji ini paling banyak terjadi ketika anak mulai masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Real, apalagi mulai masuk SMP. Padahal itu usia remaja yang paling rawan salah pergaulan,” ungkapnya.
Ust. Umar Fatoni menilai, banyak orang tua dan anak yang keliru menganggap bahwa mengaji sudah cukup setelah bisa membaca dan mengkhatamkan Al-Quran.
“Padahal masih banyak sekali ilmu agama yang belum dimengerti dan dipelajari,” lanjutnya.
Ia mengingatkan bahwa mengaji bukan hanya soal bisa membaca Al-Quran, tetapi tentang pembentukan akhlak, pemahaman aqidah, fiqih, dan benteng moral agar remaja tidak terjerumus dalam pergaulan bebas, kecanduan gadget, dan kenakalan remaja.
Dengan adanya fenomena ini, Ust. Umar Fatoni mengajak seluruh orang tua khususnya di Desa Sukabungah untuk tidak melepaskan anak-anak dari pendidikan agama.
“Jangan biarkan sekolah formal menjadi alasan untuk meninggalkan madrasah dan majelis. Justru di usia SMP, anak-anak paling membutuhkan pendampingan agama,” pungkasnya.
(Red)







