JAKARTA,– Sepucuk surat dibacakan di hadapan para tokoh bangsa, menteri, ulama, pejabat dan ribuan santri yang hadir dalam kegiatan Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Jumat (30/10/2026). Surat itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ungkapan kegelisahan seorang santri tentang masa depan pendidikan dan kesempatan meraih cita-cita.
Adalah Rahmat Latara, santri Lembaga Pendidikan Islam Pondok Karya Pembangunan Manado, Sulawesi Utara, yang menyampaikan surat berjudul Sepucuk Surat dari Santri untuk Bapak Presiden. Melalui surat tersebut, ia menyuarakan harapan agar pemerintah membuka kesempatan lebih luas bagi santri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Bagi Rahmat, persoalan melanjutkan pendidikan bukan semata-mata tentang kemampuan akademik. Ada persoalan lain yang kerap menjadi penghalang bagi santri dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, yakni biaya perkuliahan.
“Setiap malam menjelang tidur, saya selalu mengkhawatirkan masa depan saya di negeri ini. Saya bukan khawatir dengan kemampuan yang saya miliki, tetapi dengan sesuatu yang mungkin sederhana bagi sebagian orang, namun menjadi persoalan besar bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi: biaya perkuliahan,” tuturnya.
Kegelisahan itu semakin terasa ketika Rahmat mengingat percakapannya dengan seorang teman sebangku. Saat ditanya apakah akan melanjutkan kuliah setelah lulus dari pesantren, temannya justru memilih untuk langsung bekerja.
Alasannya sederhana. Ia tidak ingin membebani orang tuanya dengan biaya pendidikan tinggi.
“Untuk apa saya kuliah jika harus membebani biaya kepada orang tua? Lebih baik saya langsung bekerja, mendapatkan uang, dan bisa memberikannya kepada orang tua,” demikian jawaban temannya yang terus membekas dalam pikiran Rahmat.
Percakapan tersebut membuatnya bertanya-tanya. Apakah cita-cita menjadi dokter yang berilmu dan beragama, pemimpin bangsa yang bertakwa, atau guru yang ikhlas harus terhenti hanya karena keterbatasan biaya?
Bagi Rahmat, kesempatan memperoleh pendidikan tinggi semestinya tidak hanya menjadi milik mereka yang memiliki kemampuan ekonomi. Setiap santri yang mempunyai kemauan dan kemampuan belajar seharusnya memiliki peluang yang sama untuk meraih masa depan.
Rahmat mengapresiasi berbagai upaya pemerintah dalam membuka akses pendidikan bagi santri, salah satunya melalui program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB). Program ini menjadi salah satu jalan bagi santri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Namun, ia berharap kesempatan tersebut dapat diperluas agar menjangkau lebih banyak santri di seluruh Indonesia.
Dalam suratnya, Rahmat menyebut data tahun 2024 yang menunjukkan sekitar 800 peserta terpilih dari kurang lebih 8.000 pendaftar program BIB. Menurutnya, angka tersebut menjadi gambaran bahwa masih banyak santri yang membutuhkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
“Saya berharap kepada Bapak Presiden agar program ini dapat diperluas dan diperbanyak kuotanya bagi seluruh santri di Nusantara,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kemudahan akses informasi dan transparansi proses seleksi. Sebab, kesempatan memperoleh beasiswa tidak cukup hanya dengan menyediakan kuota. Santri juga membutuhkan fasilitas dan pendampingan agar dapat mengikuti seluruh tahapan seleksi.
Karena itu, Rahmat menyampaikan tiga usulan. Pertama, menambah kuota penerima Beasiswa Indonesia Bangkit dengan mempertimbangkan jumlah santri kelas akhir di seluruh Indonesia. Kedua, memperkuat monitoring proses penerimaan beasiswa, mulai dari pendaftaran hingga tahapan tes terakhir. Ketiga, menyediakan fasilitas komputer di lingkungan pesantren untuk memudahkan santri mengakses informasi dan mempersiapkan diri mengikuti seleksi.
Baginya, usulan tersebut bukan sekadar permintaan bantuan, melainkan upaya memastikan bahwa setiap santri memiliki kesempatan yang adil untuk mengembangkan potensi dirinya.
“Kami tidak mengemis perubahan besar kepada Bapak Presiden. Kami, para santri, hanya ingin memastikan bahwa jalan yang akan kami lalui tidak terhalang oleh angka-angka keterbatasan yang tersembunyi di balik kata efisiensi anggaran,” tegasnya.
Lebih jauh, Rahmat memandang pendidikan santri sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia. Santri tidak hanya diharapkan memiliki pengetahuan agama dan adab, tetapi juga mampu menguasai ilmu pengetahuan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Ia ingin agar kesempatan pendidikan yang lebih luas dapat melahirkan generasi santri yang kelak berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan, baik sebagai dokter, guru, pemimpin, maupun profesi lainnya.
“Ini bukan hanya tentang kami hari ini, tetapi juga tentang anak cucu kita di masa depan agar mereka bisa mendapatkan pendidikan terbaik sebagai bagian dari keberlanjutan bangsa,” ujarnya.
Di hadapan para hadirin, Rahmat berharap surat yang dibacakannya tidak berhenti sebagai pesan yang bergema di Masjid Istiqlal. Ia ingin kegelisahan para santri benar-benar sampai kepada Presiden dan menjadi perhatian pemerintah.
“Saya berharap pesan saya tidak hanya bergema di Masjid Istiqlal, tetapi juga dapat sampai ke Gedung Istana, tempat Bapak Presiden bekerja,” ucapnya.

Mendengarkan surat tersebut, Menteri Agama RI mengapresiasi pemikiran kritis Rahmat. Menurutnya, santri harus memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan dan kegelisahan tentang masa depan pendidikan.
“Baik, saya bangga. Ananda, walaupun berada di lingkungan pesantren, pemikirannya tetap kritis,” ujar Menag.
Menag juga menyampaikan bahwa pesantren saat ini mendapatkan perhatian dan penguatan dari pemerintah. Salah satunya melalui peningkatan kelembagaan dengan hadirnya Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama.
Selain penguatan kelembagaan, Menag mengungkapkan komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam mendukung peningkatan fasilitas pendidikan pesantren, termasuk penyediaan papan cerdas atau smartboard.
Ia menyampaikan bahwa Presiden telah menjanjikan pengadaan fasilitas tersebut bagi pesantren. Bahkan, menurut Menag, Presiden menginginkan pesantren mendapatkan perhatian khusus dalam pemenuhan fasilitas pembelajaran.
“Kalau untuk sekolah-sekolah pemberiannya dilakukan secara bertahap, pada periode pertama, kedua, dan ketiga, maka untuk pondok pesantren akan langsung diberikan tiga atau empat unit,” ungkapnya mengutip arahan Presiden.
“Jadi, saya kira apa yang ditanyakan Ananda tadi sudah dijawab langsung oleh Presiden beberapa minggu yang lalu. Kita berterima kasih kepada Bapak Presiden. Fasilitas yang diberikan di sekolah juga insyaallah akan diberikan kepada pondok pesantren,” lanjutnya.
Surat Rahmat menjadi pengingat bahwa di balik kehidupan pesantren, ada banyak anak muda yang menyimpan cita-cita besar sekaligus kegelisahan tentang masa depannya. Mereka memiliki semangat untuk belajar, tetapi tidak semuanya memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk melanjutkan pendidikan.
Dari Masjid Istiqlal, Rahmat menyampaikan satu harapan sederhana: jangan biarkan keterbatasan biaya menjadi alasan bagi seorang santri untuk berhenti bermimpi. Sebab, memberikan kesempatan pendidikan kepada santri bukan hanya membuka jalan bagi masa depan mereka, melainkan juga menyiapkan masa depan Indonesia.
(Red)