Opini

Guru adalah Murabbi Tak Pantas Menteri Agama Hinakan

4
×

Guru adalah Murabbi Tak Pantas Menteri Agama Hinakan

Sebarkan artikel ini
Guru adalah Murabbi Tak Pantas Menteri Agama Hinakan

Oleh : H Sutriachol Abdul Haris, Lc (Mantu KH. Abdul Aziz Muslim, sang Perintis MTQ Indonesia)

Kabarnusa24.com,- Dalam perspektif islam guru terkenal dan dikenal dengan “Murabbi” satu kata yang sangat dekat dengan kata “Rabbun” azasi nilai ketuhanan atau tentang “Tuhan” perkata kalimat ini yang tak bisa dipisahkan namun juga tak dapat disatukan dengan kata “Rabbun” yang mengandung makna ketuhanan. Artinya bahwa kedua – duanya mengandung sentuhan makna yang dititipkan nya oleh Sang Pencipta yang begitu amat sangat mulia.

Peran guru yang lebih luas dalam mengajar dan terus belajar dalam mendidik, membimbing, mengasuh yang membuat rasa agar tumbuh kembang pada murid bukan saja dalam aspek akan disiplin akan ilmu – ilmu dan pengetahuan, juga hal aspek lainnya seperti mental dan emosional serta nilai kokoh spritual. Lebih dari itu arti tarbiyah adalah disiplin pendidikan yang disampaikan sang pendidik atau murabbi. Dimana secara holistik guru adalah pengasuh dan pembimbing dalam membina niat dan asa cita belajar. menggapai bukan saja hanya membangun akan karakter murid tapi juga karakter bagi bangsa.

Ketika Menag RI, Prof KH. Nasaruddin Umar, mengatakan ; bahwa lebih kurangnya yang disalin dengan bahasa Tangerang “mau punya uang dagang bukan ngajar jadi guru” Kudu nya ada terusannya, jangan titik, mau berkah uangnya jadilah guru dan bila yang mau banyak uangnya jadilah pengusaha atau dagang. Walau hal itu disampaikannya oleh KH. Nasaruddin Umar, dan ia telah meminta maaf. Rabu, (3/09/25).

Jabatan Menag adalah jabatan strategis dan politis. Jabatan kue politik yang secara konstitusi hak dan prerogatif bagi semua pembantu Presiden yang diangkat sekaligus diberhentikan oleh Presiden. Sejatinya Menag memahami nalar akan Asta Cita Presiden nya. sebagaimana dalam menggapai cita rasa dan membina rasa cinta.

Akhir – akhir ini bangsa kita dibikin kejut oleh rasa yang tak berperasaan, atau rasa tak terkontrol, jika kadar melihat adalah bagian dari ilmu, kadar pendengaranpun adalah juga ilmu, kadar berpikir juga bagian aspek ilmu, bertindak dengan arif dan bijak juga ilmu. Maka Semua itu yang tak kalah esensinya adalah perasaan atau rasa. rarasaan inipun adalah bagian dari ilmu yang paling tinggi, bahkan hal ini boleh disamakan sederajat dengan ilmu tasawuf, buahnya akan cakupan seluruh disiplin ilmu.

Dalam Ilmu tasawuf misalnya yang mengajarkan ketika seseorang jangankan ia berbuat dosa yang diakibatkan oleh suatu atau satu kemaksiatan ketika ia merasa lalai saja tak mengingat sang pencipta nya maka ketika itu pula ia merasa berdosa. Apalagi bila harus menyakiti kepada guru sebagai pengasuh welas kasih ilmu Allah disengaja atau tidak tetaplah berdosa katena Menag adalah sang tauladan, melekat kepanjangan tangan tuhan dalam beragama, sosial dan bernegara.

(Red)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin