Kabarnusa24.com- Pemenang Film Indonesia Terpuji, Produser film Sore: Istri dari Masa Depan, Suryana Paramita pada Festival Film Bandung ke-38 2025 di Gedung Budaya Sabilulungan, Kabupaten Bandung, Jumat (31/10/2025). Festival Film Bandung (FFB) merupakan penghargaan dan apresiasi atas karya dan pencapaian kepada insan perfilman nasional, nominasi yang diumumkan, termasuk kategori film layar lebar, serial web, sinetron.*
Film “Sore: Istri dari Masa Depan” meraih predikaf Film Terpuji pada Festival Film Bandung (FFB) ke-38. Selain sebagai Film Terpuji, film garapan sutradara Yandy Laurens dan produksi Cerita Films tersebut juga membawa pulang piala untuk kategori Pemeran Utama Wanita Terpuji yang diraih Sheila Dara dan Penata Musik Terpuji oleh Ofel Obaja Setiawan.
Ofel yang mewakili tim film “Sore: Istri dari Masa Depan” mengatakan, rasanya luar biasa melihat reaksi dan apresiasi untuk film tersebut. Mereka bahkan tak menyangka bisa meraih lebih dari 3 juta penonton serta menjadi nominasi dan memenangi penghargaan di berbagai festival film.
Ketua Bidang Pengamatan FFB 2025 Rosyid E Abby menjelaskan, film “Sore: Istri dari Masa Depan” menawarkan kebaruan cerita. Kendati sederhana, tapi eksekusi yang disajikan sangat apik. Misalnya, dari akting para pemainnya, sinematografi, dan musiknya.
“Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan” juga memantik diskusi penonton. Kemudian, Yandy sebagai sineas juga menunjukkan eksplorasi karena berani berbeda dengan karya-karya dia sebelumnya,” ungkap Rosyid.
Menurut Rosyid, “Sore: Istri dari Masa Depan” menunjukkan keberanian sineas Indonesia menantang batas-batas genre dengan menggabungkan romansa dan sains. Kecenderungan ini memperlihatkan bahwa sinema Indonesia mulai meninggalkan pola cerita linier realistis menuju narasi eksperimental dan multigenre. Hal ini menjadi kemajuan signifikan dalam memaknai sinema sebagai ruang ekspresi ide.
Selain “Sore: Istri dari Masa Depan”, film lain yang memboyong penghargaan pada FFB ke-38 adalah “Komang” melalui Pemeran Utama Wanita Terpuji yang diraih Aurora Ribero. Lalu, Sutradara Terpuji, yaitu Naya Anindita.
Aurora mengaku tidak menyangka karena mendapat penghargaan di FFB lagi. Sebelumnya, dia juga meraih penghargaan yang sama lewat film “Like & Share”.
“Film Indonesia sangat berkembang pesat. Aku merasa, sekarang banyak film yang berani menyuarakan banyak isu, yang mungkin dulu takut untuk dibicarakan. Film adalah refleksi untuk diri aku sendiri, jadi aku selalu mencari yang menantang, fresh, dan relate dengan banyak hal,” kata Aurora.
Dari film “Pengepungan di Bukit Duri”, aktor Morgan Oey mendapat piala FFB 2025 sebagai Pemeran Utama Pria Terpuji. Bagi Morgan, film “Pengepungan di Bukit Duri” yang digarap sutradara Joko Anwar menjadi proyek penting untuk karier keaktorannya.
“Sebagai minoritas, saya merasa relate dengan cerita di film ini. Ada trauma-trauma yang harus dihadapi. Jadi, selama syuting, saya banyak diskusi dengan Bang Joko. Anak muda terkadang lupa sama sejarah, lewat film ini, semoga sejarah itu bisa terus diingat,” ujar Morgan.
Pada FFB 2025 aktor Mathias Muchus meraih Lifetime Achievement Award atas dedikasi di dunia film dan seni peran. Kemudian, film “Jumbo” juga mendapatkan Penghargaan Khusus Film Animasi Inspiratif.
Rosyid menyebutkan, tahun 2025 menjadi salah satu fase menarik dalam perjalanan sinema Indonesia. Setelah ledakan jumlah produksi di 2024 yang mencapai lebih dari 150 judul, tahun ini memperlihatkan bukan hanya kuantitas yang meningkat, tetapi juga keragaman tema dan eksplorasi genre yang menandai kematangan baru perfilman nasional.
Tema “Bineka Film Indonesia” yang diusung FFB ke-38 bukan sekadar simbol perayaan dan seremonial, apalagi rutinitas. Akan tetapi, cermin nyata dari lanskap film nasional yang kian berwarna.
FFB 2025 mengamati 203 judul film Indonesia yang tayang di bioskop dan platform streaming atau over the top (OTT). Periode pengamatan berlangsung sejak 1 September 2024 sampai 31 Agustus 2025.
Menurut Rosyid, genre horor masih menjadi tulang punggung industri film Indonesia di 2025. Hampir setiap bulan, satu atau dua film horor baru tayang di bioskop.
Tahun ini, bukan sekadar jumlahnya, melainkan evolusi arah tematik film horor. Beberapa tahun lalu, horor lokal cenderung mengandalkan jump scare dan legenda hantu urban, kini mulai muncul pendekatan baru, yaitu yang sarat muatan sosial, spiritual, dan politik.
“Fenomena ini memperlihatkan bahwa horor Indonesia mulai beranjak dari hiburan murahan menuju ruang tafsir moral dan psikologis. Ia menjadi medium untuk mengolah mitologi lokal sekaligus memproyeksikan keresahan sosial modern,” ucap Rosyid.**







