BANDUNG – Eksistensi organisasi mahasiswa, baik ekstra maupun intra kampus, kini berada di titik nadir.
Jika tidak segera melakukan evaluasi total secara internal, organisasi-organisasi besar yang selama ini mewarnai sejarah perubahan di Indonesia terancam mengalami “mati suri”.
Pernyataan tegas ini muncul sebagai refleksi agenda Diskusi Publik dan Konsolidasi Gerakan yang digelar oleh PC PMII Kota Bandung pada Minggu, 1 Februari 2026 di Teras Sunda Cibiru.
K.H. Wahyul Afif Al-Ghofiqi, Ketua PC PMII Kota Bandung periode 2003-2005, menyoroti fenomena mengkhawatirkan yang terjadi sepanjang tahun 2025.
Menurutnya, telah terjadi pergeseran patronase gerak di mana kelompok mahasiswa kini cenderung hanya menjadi pengikut (follower) dari gerakan para influencer dan aktivis senior.
“Mahasiswa saat ini sering terjebak dalam aksi reaktif setelah menonton apa yang sedang trending di TikTok, Instagram, atau X (Twitter). Jika ini terus berlanjut, gerakan mahasiswa akan kehilangan akar dialektika pemikirannya,” ujar sosok yang akrab disapa Kyai Mako tersebut.
Beliau menambahkan bahwa tanpa diskusi panjang yang mengelaborasi dasar pemikiran, gerakan mahasiswa hanya akan menjadi gerakan insidental yang dangkal dan mudah ditebak polanya.
Kritik ini merujuk pada kecenderungan mahasiswa yang hanya bereaksi terhadap isu hasil olahan pihak luar.
Polanya selalu sama: melihat isu viral (seperti kasus-kasus sosial kecil), lalu muncul kekecewaan yang berubah menjadi kemarahan sesaat, namun kemudian mereda dan diam tanpa ada upaya penyikapan lanjutan yang strategis.
Kegiatan bertajuk “Renaissance PMII Kota Bandung: Relegitimasi dan Transformasi” ini menjadi momentum bagi kepengurusan baru periode 2025-2026 di bawah kepemimpinan Wahyu Pratama (Ketua PC PMII Kota Bandung) dan Fitri Nurlaeli (Ketua KOPRI PC PMII Kota Bandung).
Melalui diskusi publik bertema “PMII di Persimpangan Zaman: Arah Baru dan Tantangan Gerakan”, para aktivis muda ini ditantang untuk merumuskan kembali strategi gerakan agar tidak lagi terjebak dalam arus algoritma media sosial, melainkan kembali menjadi pelopor pemikiran dan aksi yang berdasar pada kebutuhan nyata masyarakat.**ungkapnya







