Daerah

MPLS Ramah Anak di SMAN 1 Pasirian SMAPAS ) Bangun Karakter Unggul Tanpa Perploncoan

7
×

MPLS Ramah Anak di SMAN 1 Pasirian SMAPAS ) Bangun Karakter Unggul Tanpa Perploncoan

Sebarkan artikel ini
MPLS Ramah Anak di SMAN 1 Pasirian SMAPAS ) Bangun Karakter Unggul Tanpa Perploncoan

MPLS Ramah Anak di SMAN 1 Pasirian SMAPAS ) Bangun Karakter Unggul Tanpa Perploncoan

Lumajang, kabarnusa 24.Com.Senin,20/7/2026– Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 1 Pasirian, Kabupaten Lumajang, tidak sekadar menjadi ajang memperkenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru. Tahun ini, sekolah menempatkan pembentukan karakter, kedisiplinan, serta lingkungan belajar yang aman dan ramah anak sebagai fokus utama, sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan.

 

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Pasirian, Denof Ferry Santoso, S.Pd., menegaskan bahwa seluruh rangkaian MPLS dirancang untuk membantu peserta didik beradaptasi dari jenjang SMP menuju SMA dengan suasana yang nyaman dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

 

“Tujuan utama MPLS adalah mengenalkan lingkungan sekolah kepada siswa baru, mulai dari guru, tenaga kependidikan, fasilitas, hingga tata tertib sekolah. Selain itu, kami juga ingin membentuk karakter siswa agar siap memasuki dunia SMA dengan sikap disiplin, sopan santun, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

 

Menurut Denof, materi MPLS mengacu pada ketentuan pemerintah, termasuk pembentukan karakter melalui kebiasaan positif yang dikenal sebagai “Tujuh Kebiasaan Anak Hebat”, mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, belajar dengan disiplin, hingga membiasakan tidur tepat waktu.

 

Selain materi utama, sekolah juga memberikan pendidikan karakter melalui berbagai materi tambahan, seperti disiplin berlalu lintas, etika dalam kehidupan sehari-hari, hingga pentingnya menjaga keselamatan saat berkendara, termasuk penggunaan helm, kelengkapan kendaraan, dan kepatuhan terhadap aturan lalu lintas.

 

Denof menegaskan bahwa pelaksanaan MPLS di SMAN 1 Pasirian sepenuhnya menerapkan prinsip ramah anak. Tidak ada praktik perpeloncoan, bullying, kekerasan fisik maupun verbal yang selama ini identik dengan kegiatan pengenalan sekolah pada masa lalu.

 

“Sesuai arahan pemerintah, tidak boleh ada bullying, kekerasan, ataupun bentuk perploncoan. Anak-anak harus merasa aman dan nyaman selama MPLS. Seluruh peserta didik kami perlakukan sebagai anak sendiri yang harus dibimbing, bukan ditekan,” katanya.

 

Ia menjelaskan, sebelum MPLS dimulai seluruh panitia, termasuk guru dan pengurus OSIS, telah mengikuti pengarahan serta sosialisasi mengenai pelaksanaan MPLS yang sesuai regulasi. Bahkan pihak sekolah mengikuti rapat dan kegiatan daring bersama pemerintah sebagai bentuk penyamaan persepsi agar tidak terjadi pelanggaran selama kegiatan berlangsung.

 

Peran OSIS dalam MPLS pun dibatasi. Mereka hanya mendampingi peserta didik baru di kelas layaknya pendamping atau kakak asuh, sementara seluruh materi disampaikan oleh tim sekolah.

 

“Keterlibatan OSIS hanya sekitar 15 persen. Mereka mendampingi adik-adik kelas agar lebih mudah beradaptasi, bukan memberikan hukuman atau kegiatan yang bersifat intimidatif,” jelasnya.

 

Selama lima hari pelaksanaan MPLS, sekolah juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai instansi. Satuan Lalu Lintas Polres memberikan edukasi mengenai tertib berlalu lintas, Koramil menyampaikan materi pembinaan karakter dan kedisiplinan, sedangkan Polsek Pasirian memberikan wawasan kebangsaan kepada peserta didik baru.

 

Tak hanya itu, SMAN 1 Pasirian juga memperkuat pendidikan karakter melalui Program Sekolah Santri (PSS) yang telah berjalan secara rutin. Program tersebut dilaksanakan setiap Jumat setelah salat Jumat bekerja sama dengan pondok pesantren.

 

Melalui program tersebut, siswa dibimbing untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, memperkuat akhlak, membiasakan salat berjamaah, salat Dhuha, kajian keislaman, serta menanamkan sikap hormat kepada guru, orang tua, dan sesama.

 

“Program ini kami harapkan mampu membentuk karakter siswa yang religius, santun, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Alhamdulillah, perubahan perilaku siswa sudah mulai terlihat dari kebiasaan ibadah maupun sikap mereka sehari-hari,” ungkap Denof.

 

Selain pembinaan karakter, sekolah juga menerapkan kebijakan penggunaan telepon genggam secara ketat selama kegiatan belajar mengajar. Siswa tidak diperkenankan menggunakan ponsel saat pembelajaran berlangsung untuk menghindari distraksi, terutama penggunaan gim maupun media sosial.

 

“Selama proses belajar, HP disimpan. Jika ada kebutuhan mendesak, komunikasi dilakukan melalui wali kelas. Kebijakan ini kami terapkan agar siswa lebih fokus belajar dan tidak bergantung pada gawai,” katanya.

 

Denof berharap seluruh program yang dijalankan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat sesuai visi SMAN 1 Pasirian.

 

“Kami ingin mencetak lulusan yang unggul, terampil, berwawasan lingkungan, serta memiliki akhlak yang baik. Prestasi akademik memang penting, tetapi karakter, kesopanan kepada orang tua, guru, dan masyarakat adalah bekal utama bagi masa depan mereka,” pungkasnya.(D.S)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin