Religi

Jelang Bulan Ramadhan Pererat Tali Persaudaraan

8
×

Jelang Bulan Ramadhan Pererat Tali Persaudaraan

Sebarkan artikel ini
Jelang Bulan Ramadhan Pererat Tali Persaudaraan
Ilustrasi Jalin Persaudaraan

Oleh : Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali

Kabarnusa24.com,– Bulan Sya’ban memiliki kedudukan istimewa karena terletak di antara bulan Rajab dan Ramadhan, dua bulan yang penuh keberkahan. Di Indonesia, umat Islam memanfaatkan bulan ini sebagai momen berkumpul, berbagi sedekah makanan, dan mendoakan orang tua atau leluhur yang telah meninggal. Tradisi seperti sadranan, ruwahan, atau sekadar berkunjung ke saudara, teman, guru, dan orang tua menjadi cara untuk merayakan bulan ini sekaligus memperkuat ukhuwah.

Kegiatan mempererat tali silaturahim tersebut merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Menjaga hubungan persaudaraan bukan hanya membawa kebaikan di dunia, tetapi juga mendapatkan pahala dari Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 1;

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَصْلِحُوْا ذَاتَ بَيْنِكُمْۖ وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗٓ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Artinya, “Maka, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang mukmin.”

Kemudian Nabi Muhammad saw dalam beberapa hadits juga menyebutkan keutamaan silaturahim. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik ra:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزقِهِ ، وَيُنْسأَ لَهُ فِي أَثرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya, “Barangsiapa yang suka supaya diluaskan rezekinya dan diakhirkan ajalnya, maka hendaklah menyambung hubungan dengan kerabatnya (bersilaturahim),” (HR Imam Bukhari dan Muslim)

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam kitab Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib menyebutkan setidaknya 10 keutamaan silaturahim. Keutamaan ini semakin bertambah jika dilakukan kepada guru atau orang tua.

Salah satu manfaat penting dari silaturahim adalah mampu membahagiakan orang lain, sehingga kegiatan ini tidak hanya mempererat hubungan, tetapi juga membawa kebaikan dan keberkahan bagi semua pihak. Simak penjelasan berikut;

وَقَدْ وَرَدَ فِي الْخَبَرِ إنَّ أَفْضَلَ الْأَعْمَالِ إدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى الْمُؤْمِنِ

Artinya, “Telah tersebut dalam sebuah hadits, ‘Salah satu amal paling utama adalah idkhalus surur atau memasukkan kebahagiaan ke dalam hati orang yang beriman.’” (Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib, (Beirut: Darul Fikr, 2007 M/1427-1428 H), juz III, halaman 272).

Ketika kita berkunjung kepada guru atau orang tua, lumrahnya, tentu akan membuat hati mereka merasa bahagia, apalagi bila kita juga membawakan buah tangan sebagai hadiah untuk mereka, maka akan bertambah kebaikan lain di dalamnya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah wafat? Kita dapat tetap menyambung hubungan dengan mereka melalui doa yang kita panjatkan. Terlebih bila dapat berziarah ke makamnya dan kemudian memanjatkan doa untuk guru dan kedua orang tua kita. Ibarat kepada mereka yang masih hidup, akan bertambah kebahagiaan dengan dikunjungi anak cucunya, apalagi dengan membawa oleh-oleh (berupa doa).

Doa yang kita haturkan kepada mereka yang sudah meninggal dunia, akan menjadi hadiah bagi mereka. Sebagaimana keterangan dari Syekh M Nawawi Banten berikut ini:

هَدَايَا الْأَحْيَاءِ لِلْأَمْوَاتِ الدُّعَاءُ وَالْإِسْتِغْفَارُ

Artinya: Hadiah orang-orang yang masih hidup kepada orang-orang yang telah meninggal dunia adalah doa dan permohonan ampunan kepada Allah (istighfar) untuk mereka. (Lihat: Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Fikr: tt], halaman: 281).

Demikian penjelasan singkat mengenai pentingnya bersilaturahim, terutama menjelang Ramadhan. Marilah kita manfaatkan momentum penuh berkah pada bulan Sya’ban ini dengan memperbanyak silaturahim dan berbagai kebaikan lainnya, agar hati kita menjadi bersih dan semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang mendapatkan keberkahan di bulan Sya’ban.

Sumber: Kutip Ulasan Materi Khutbah Jumat-Keislaman NU

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin