Religi

Bolehkah Mendirikan Shalat Sunnah saat Khutbah Jumat Berlangsung?

73
×

Bolehkah Mendirikan Shalat Sunnah saat Khutbah Jumat Berlangsung?

Sebarkan artikel ini
Bolehkah Mendirikan Shalat Sunnah saat Khutbah Jumat Berlangsung?
Iustrasi Shalat Jumat

Kabarnusa24.com,- Shalat Jumat merupakan ibadah wajib bagi setiap laki-laki muslim yang mukallaf (telah dibebani hukum syariat) serta memenuhi syarat. Pelaksanaannya tidak hanya terdiri dari shalat dua rakaat, tetapi juga didahului oleh dua khutbah yang menjadi bagian penting dari rangkaian ibadah Jumat. Karena itu, khutbah Jumat bukan sekadar pengantar, melainkan salah satu syarat sah dalam pelaksanaan shalat Jumat.

Agar shalat Jumat dinilai sah, seluruh rukun dan ketentuannya harus terpenuhi. Di antaranya, khutbah harus disampaikan dan jamaah diperintahkan untuk menyimak serta mendengarkannya.

Dari sini, lalu muncul pertanyaan yang kerap terjadi di tengah masyarakat terkait prosesi shalat Jumat tersebut. Jika seseorang datang ke masjid ketika khatib sudah naik mimbar, bolehkah ia tetap mengerjakan shalat sunnah saat khutbah Jumat sedang berlangsung?

Dalam sejumlah literatur fiqih dijelaskan bahwa ketika khatib telah duduk di mimbar dan khutbah sudah berjalan, jamaah yang sudah hadir di masjid tidak diperkenankan memulai shalat lain baik fardhu maupun shalat sunnah.

Syekh Ahmad bin Salamah al-Qalyubi (wafat 1069 H) dalam anotasinya menjelaskan bahwa setelah khatib duduk di mimbar, maka baik shalat fardhu atau sunnah, sujud tilawah maupun sujud syukur tidak boleh dilakukan. Apabila hal itu tetap dikerjakan, maka dihukumi tidak sah selama khutbah masih berlangsung.

(فَرْعٌ): تَحْرُمُ الصَّلَاةُ إجْمَاعًا فَرْضًا وَنَفْلًا، وَكَذَا سَجْدَةُ التِّلَاوَةِ وَالشُّكْرِ بَعْدَ جُلُوسِ الْخَطِيبِ. وَلَا تَنْعَقِدُ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ الْخُطْبَةَ مَا دَامَ يَخْطُبُ وَلَوْ حَالَ الدُّعَاءِ لِلسُّلْطَانِ. نَعَمْ تَصِحُّ التَّحِيَّةُ لِلدَّاخِلِ قَبْلَ جُلُوسِهِ وَلَوْ فِي ضِمْنِ غَيْرِهَا كَسُنَّةِ الْجُمُعَةِ، وَيَجِبُ تَخْفِيفُهَا كَصَلَاةِ الْخَطِيبِ فِي أَثْنَائِهَا بِأَنْ لَا يَسْتَوْفِيَ الْأَكْمَلَ وَلَا يَزِيدَ عَلَى رَكْعَتَيْنِ فِيهَا ابْتِدَاءً

“Cabang permasalahan: Shalat, baik fardhu maupun sunnah, haram dilakukan menurut konsensus ulama setelah khatib duduk di mimbar. Demikian pula, sujud tilawah dan sujud syukur. Shalat tersebut tidak sah, meskipun orang itu tidak mendengar khutbah selama khatib masih berkhutbah sekalipun saat mendoakan penguasa. Namun, shalat tahiyatul masjid bagi orang yang baru masuk masjid tetap sah sebelum khatib duduk kendati dilakukan dalam rangkaian shalat lain, seperti sunnah Jumat. Maka ia wajib mempercepat pelaksanaannya, sebagaimana shalat khatib ketika berada di sela-sela khutbah yaitu dengan tidak menyempurnakan bentuk yang paling sempurna dan tidak menambah lebih dari dua rakaat sejak awal.” (Hasyiyah al-Qalyubi wa ‘Umairah [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 324)

Ketentuan ini menunjukkan pentingnya mendengarkan khutbah Jumat dan menjaga kekhusyukan rangkaian ibadah Jumat. Sebab, pada saat itu perhatian jamaah diarahkan untuk menyimak nasihat, dzikir, dan pengajaran yang disampaikan khatib.

Larangan ini terutama berlaku bagi orang yang sudah berada di dalam masjid dan telah duduk sebelum khutbah dilaksanakan. Jika seseorang sudah duduk, maka ia tidak lagi disunnahkan melaksanakan shalat Tahiyyatul Masjid. Maka, ketika khatib naik ke mimbar, ia tidak diperkenankan memulai shalat apa pun hingga rangkaian shalat Jumat selesai.

Artinya, bagi jamaah yang sudah hadir lebih awal, sikap yang tepat adalah diam, tenang, dan fokus mendengarkan khutbah.

Sementara itu, orang yang baru datang tatkala khatib menyampaikan khutbah, para ulama memberikan pengecualian. Ia tetap dianjurkan melaksanakan shalat Tahiyyatul Masjid dua rakaat secara ringkas. Maksudnya, cukup memenuhi rukun-rukun shalat tanpa memperpanjang bacaan maupun gerakan. Usai salam, ia segera duduk dan mendengarkan khutbah.

Syekh Nawawi al-Bantani (wafat 1316 H) menjelaskan bahwa orang yang masuk masjid pada saat khutbah boleh menunaikan shalat Tahiyyatul Masjid dua rakaat dengan cepat.

Jika ia belum melaksanakan shalat sunnah Jumat, maka dua rakaat tersebut dapat diniatkan sebagai shalat sunnah Jumat sekaligus mencakup tahiyatul masjid. Namun, ia tidak diperkenankan menambah lebih dari dua rakaat dan tidak boleh mengerjakan shalat lain selain itu. Syekh Nawawi mengungkapkan:

وَيَحْرُمُ عَلَى الْحَاضِرِينَ بِالْجَامِعِ إِنْشَاءُ صَلَاةٍ سَوَاءٌ كَانَتْ فَرْضًا أَوْ نَفْلًا، وَلَوْ كَانَ قَضَاؤُهَا فَوْرِيًّا مِنْ وَقْتِ صُعُودِ الْخَطِيبِ عَلَى الْمِنْبَرِ، وَلَوْ قَبْلَ الشُّرُوعِ فِي الْخُطْبَةِ إِلَى فَرَاغِهَا، فَلَوْ فَعَلَهَا لَمْ تَنْعَقِدْ وَلَوْ فِي حَالِ الدُّعَاءِ لِلسُّلْطَانِ أَوِ التَّرَضِّي عَنِ الصَّحَابَةِ. وَلَوْ كَانَ أَتَى بِجَمِيعِ الْأَرْكَانِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ

“Haram bagi orang-orang yang hadir di masjid jami’ memulai shalat, baik shalat fardhu maupun sunnah sejak khatib naik ke mimbar meskipun sebelum mulai khutbah hingga khutbah selesai. Bahkan, sekalipun shalat itu merupakan qadha yang harus segera ditunaikan. Bila tetap dikerjakan, maka shalat tersebut tidak sah walau dilakukan ketika khatib sedang mendoakan penguasa atau mendoakan para sahabat menurut pendapat mu’tamad, meski seluruh rukun shalat telah dilaksanakan.” (Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 145)

Lalu dalam lanjutan keterangannya, Syekh Nawawi menegaskan sebagai berikut:

وَأَمَّا مَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فِي هَذَا الْوَقْتِ، فَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ ثُمَّ يَجْلِسَ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ صَلَّى سُنَّةَ الْجُمُعَةِ نَوَاهَا رَكْعَتَيْنِ وَحَصَلَ بِهِمَا تَحِيَّةُ الْمَسْجِدِ، وَلَا تَجُوزُ الزِّيَادَةُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، وَلَا يَجُوزُ لَهُ غَيْرُ تَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ وَسُنَّةِ الْجُمُعَةِ مِنْ فَرْضٍ وَنَفْلٍ. وَلَوْ جَلَسَ قَبْلَ التَّحِيَّةِ عَمْدًا أَوْ طَالَ الْفَصْلُ فَاتَتْ فَلَا تَصِحُّ مِنْهُ بَعْدَ ذَلِكَ

“Adapun orang yang masuk masjid pada waktu itu, maka ia boleh mengerjakan dua rakaat dengan cepat sebagai shalat Tahiyyatul Masjid, kemudian duduk. Jika ia belum melaksanakan shalat sunnah Jumat, maka boleh meniatkan dua rakaat itu sebagai sunnah Jumat, dan dengan itu shalat Tahiyyatul Masjid juga telah tercapai. Tidak diperkenankan untuk menambah lebih dari dua rakaat. Selain Tahiyyatul Masjid dan sunnah Jumat, juga tidak diperbolehkan baginya mendirikan shalat lain, baik fardhu maupun sunnah. Apabila ia sengaja duduk sebelum mengerjakan Tahiyyatul Masjid, atau jedanya terlalu lama, maka kesempatan shalat Tahiyyatul Masjid telah lewat, sehingga setelah itu tidak sah lagi dikerjakan.” (Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 145)

Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya hukum mendirikan shalat sunnah selagi khutbah Jumat tengah berlangsung pada dasarnya tidak diperbolehkan bagi jamaah yang sudah hadir dan duduk di masjid. Mereka wajib menghentikan aktivitas lain dan fokus mendengarkan khutbah dengan saksama.

Akan tetapi, bagi orang yang baru datang tatkala khutbah sudah dimulai, maka ia tetap dianjurkan mengerjakan shalat Tahiyyatul Masjid dua rakaat secara cepat lalu segera duduk. Dan selain dua rakaat ini, orang tersebut tidak diperkenankan untuk melakukannya, hingga pelaksanaan khutbah dan shalat Jumat selesai. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.

Sumber: Bimbingan Syariah MUI

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin