Foto : Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat. (ANTARA/Fianda Sjofjan Rassat)
JAKARTA, KABARNUSA24.COM ||
Baru-baru ini dikalangan Pers dihebohkan banyakan kritikan tajam terhadap kebijakan Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, Ahmad Qodari, yang berencana melibatkan homeless media dalam strategi komunikasi publik.
Menanggapi hal tersebut Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menegaskan pers memiliki peran yang tidak tergantikan sebagai pengawal kualitas informasi di tengah disrupsi informasi digital.
“Pers itu perannya enggak akan tergusur. Sepanjang zaman, pers itu diperlukan karena dia menjaga gawang, memelihara kualitas informasi,” ujar Komaruddin dalam peringatan World Press Freedom Day 2026 di Jakarta, Minggu.
Dikatakan Komaruddin mengibaratkan disrupsi informasi dari media baru seperti bermain arung jeram di sungai dengan gelombang besar dan bebatuan yang menghadang.
Menurutnya, derasnya arus informasi digital justru harus menjadi tantangan sekaligus pemacu bagi insan pers untuk terus menjaga kualitas informasi yang disampaikan kepada publik.
“Saya berharap bahwa kawan-kawan pers melihat kemunculan new media yang kadang-kadang membuat gaduh. Anggap saja itu interval dan anggap saja itu satu agenda yang menjadi tantangan kita bersama. Bagi saya malah mengasyikkan. Kalau kita main tenis, misalnya, musuhnya tidak seimbang, nggak mengasyikkan mainnya. Tetapi kalau ada tantangan, itu adrenalin terpacu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Komaruddin mengatakan era digital membuat semua orang dapat berkomunikasi dan mengakses informasi dengan mudah tanpa batas. Karena itu, menurut dia, peran pers menjadi semakin krusial untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang berkualitas.
“Mari kita regulasi, kita edukasi agar kebebasan itu terjaga, tetapi juga tetap melindungi kebebasan masyarakat untuk mendapat informasi yang berkualitas,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar menilai peringatan World Press Freedom Day 2026 menjadi pengingat bagi media untuk menjaga profesionalisme dan tanggung jawab sosial di tengah disrupsi informasi digital.
“Bagi saya, kebebasan pers adalah hak asasi. Masalahnya sekarang, di tengah era informasi yang begitu terdisrupsi, pers perlu membentuk dirinya menjadi lebih profesional,” kata Benny di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (10/05/26).
Menurut Benny, media arus utama masih memiliki keunggulan daya saing karena lebih dikenal publik dan mampu menjadi cerminan kondisi masyarakat.
Ia menambahkan, tantangan media saat ini bukan hanya menjaga kecepatan penyampaian informasi, tetapi juga menjalankan tanggung jawab sosial untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Media mainstream, online media, maupun media baru memiliki kesamaan, yaitu memberikan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya.
Benny menegaskan pihaknya memiliki peran penting dalam menghadirkan informasi yang membantu masyarakat mengambil keputusan secara tepat, baik untuk kepentingan pribadi maupun komunitas.(Rizky Tile)
Sumber : Berbagi Sumber








