Indramayu, kabarnusa24.com
Ancaman kekeringan mulai membayangi sektor pertanian di Kabupaten Indramayu. Sebanyak 10.673 hektare areal tanaman padi di daerah yang dikenal sebagai lumbung pangan nasional itu terancam mengalami puso (gagal panen) akibat minimnya pasokan air di musim kemarau.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, mengatakan lahan terdampak tersebar di enam kecamatan di wilayah barat Indramayu, yakni Kecamatan Sukra, Patrol, Anjatan, Bongas, Gabuswetan, dan Kandanghaur.
Menurutnya, Kecamatan Sukra menjadi wilayah yang mengalami dampak paling parah, dengan sekitar 2.500 hektare sawah dilanda kekeringan. Sementara itu, usia tanaman padi yang terdampak berkisar antara 7 hingga 25 hari, sehingga masih memiliki peluang untuk diselamatkan apabila pasokan air segera tersedia.
Kondisi kekeringan terlihat jelas di sejumlah lokasi, salah satunya di Desa Pranti, Kecamatan Kandanghaur. Tanah persawahan mulai retak-retak akibat kekurangan air. Meski demikian, tanaman padi masih tampak hijau dan dinilai masih berpotensi tumbuh normal apabila segera mendapatkan suplai air.
Untuk mencegah terjadinya gagal panen dalam skala luas, KTNA Kabupaten Indramayu telah mengajukan permohonan audiensi sekaligus mendesak percepatan penyaluran air dari Bendung Salamdarma yang bersumber dari Waduk Jatiluhur.
KTNA berharap langkah cepat dari pihak terkait dapat segera dilakukan agar ribuan hektare sawah yang terdampak dapat diselamatkan dan produksi padi di Kabupaten Indramayu tetap terjaga.







