Karnaval Babakan 2026 Digelar September, Warga Rela Rogoh Kocek Demi Merawat Budaya
LUMAJANG, kabarnusa24.com— Semangat memperingati kemerdekaan belum padam meski Agustus telah berlalu. Warga Desa Babakan, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, tetap menggelar Karnaval Babakan 2026 pada September sebagai bentuk perayaan sekaligus upaya merawat budaya dan memperkuat kebersamaan masyarakat.
Karnaval tahun ini mengusung tema “Karnaval Budaya Nusantara: Merawat Tradisi, Menghidupkan Budaya” dan diikuti 16 peserta. Sebanyak 15 peserta berasal dari Desa Babakan, sementara satu peserta lainnya berasal dari Desa Klanting.
Ketua Panitia Karnaval Babakan 2026, Rahmat Hidayat, mengatakan pelaksanaan karnaval pada September bukan berarti masyarakat kehilangan momentum perayaan kemerdekaan.
Menurutnya, kegiatan tersebut memang sengaja digelar mundur karena padatnya agenda masyarakat selama Agustus.
“Ini tetap untuk memperingati dan mengisi kemerdekaan 81 tahun Indonesia merdeka. Karena jadwal terlalu padat, akhirnya kami mengalah dan mundur satu bulan,” kata Rahmat.
Meski digelar setelah perayaan HUT Kemerdekaan, antusiasme masyarakat justru tetap tinggi. Warga bahkan rela mengeluarkan biaya pribadi untuk mempersiapkan penampilan masing-masing kelompok.
“Partisipasi masyarakat sangat bagus sekali. Mereka sampai menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Ada yang benar-benar ikhlas dan sukarela untuk melaksanakan kegiatan ini,” ujarnya.
Rahmat menegaskan, Karnaval Babakan 2026 bukan semata-mata agenda pemerintah desa. Kegiatan tersebut merupakan aspirasi masyarakat yang ingin memiliki ruang untuk berkumpul, berkreasi, sekaligus mempertahankan tradisi.
“Ini keinginan masyarakat Desa Babakan,” katanya.
Angkat Budaya Jawa
Kepala Desa Babakan, Rival, mengatakan tema karnaval tahun ini sengaja diarahkan pada budaya agar kegiatan tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat.
Berbagai budaya dikemas dalam bentuk pertunjukan, terutama melalui tarian, kostum, serta penggambaran tradisi dan kerajaan yang berkembang di Pulau Jawa.
“Filosofinya mengangkat berbagai budaya yang ada di Indonesia, kemudian diaplikasikan dalam bentuk tarian. Dari situ penonton bisa mengerti dan memahami bahwa budaya di Indonesia itu beragam,” kata Rival.
Meski menggunakan tema budaya Nusantara, Rival mengakui penampilan peserta tahun ini lebih banyak mengangkat budaya yang berkembang di Pulau Jawa.
“Yang diangkat banyak budaya di Pulau Jawa, termasuk tema-tema kerajaan. Memang belum menyeluruh Indonesia,” ujarnya.
Menurut Rival, karnaval tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi, kekompakan, persatuan dan kesatuan warga.
“Karnaval ini bukan hanya semata untuk hiburan, tetapi menjadi momentum untuk meningkatkan tali silaturahmi, kekompakan, persatuan dan kesatuan, serta perdamaian,” katanya.
Setiap Peserta Dapat Rp 1 Juta
Pemerintah Desa Babakan juga memberikan dukungan langsung kepada peserta. Setiap kelompok mendapatkan uang partisipasi sebesar Rp 1 juta serta trofi.
Rival mengatakan pemberian uang tersebut dimaksudkan untuk meringankan beban warga yang harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk mengikuti karnaval.
“Saya sebagai pemerintah desa memang sengaja memberikan uang partisipasi kepada tiap peserta sebesar Rp 1 juta untuk meringankan iuran mereka,” katanya.
Ia mengungkapkan, biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk mengikuti karnaval tidak sedikit. Bahkan, dalam sejumlah kelompok, iuran yang dikumpulkan dari warga bisa mencapai sekitar Rp 1 juta per kepala keluarga.
“Apalagi mereka juga mendatangkan sound horeg yang biayanya mahal,” ujarnya.
Pemberian tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi pemerintah desa terhadap semangat dan kekompakan warga.
“Ini sebagai apresiasi kepada tiap peserta atas semangat dan kekompakannya. Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa membangkitkan semangat,” kata Rival.
Ia berharap pelaksanaan karnaval pada tahun-tahun berikutnya dapat dikemas lebih besar dan spektakuler.
“Harapan kami untuk tahun-tahun berikutnya ada yang lebih spektakuler, supaya lebih wah,” ujarnya.
Sound Horeg Tetap Ada, tetapi Dihentikan Saat Azan
Sound horeg tetap menjadi bagian dari kemeriahan Karnaval Babakan 2026. Bagi panitia dan pemerintah desa, keberadaan sound system tersebut menjadi salah satu penyemangat peserta, khususnya kalangan pemuda.
“Sound horeg tetap, karena itu memang penyemangat para pemuda-pemudi. Kalau tidak ada horeg, tidak semangat,” kata Rival.
Namun, kemeriahan tersebut tetap dibatasi oleh aturan dan norma yang berlaku di masyarakat.
Rival mengatakan seluruh peserta diwajibkan mengenakan pakaian yang sopan dan rapi. Ketika memasuki waktu shalat, sound horeg juga harus dihentikan sementara.
“Semua aturan sudah kami laksanakan untuk menjaga norma-norma yang ada di desa dan sesuai dengan aturan Pemerintah Kabupaten Lumajang,” ujarnya.
“Waktu shalat, ya shalat. Saat azan berkumandang, sound horeg harus dimatikan. Rata-rata sekitar 10 menit sampai menunggu shalat,” imbuhnya.
Panitia juga tidak memberikan batasan waktu yang terlalu ketat karena jumlah peserta tahun ini hanya 16 kelompok.
Rahmat mengatakan panitia belajar dari pelaksanaan tahun sebelumnya ketika jumlah peserta lebih banyak.
“Dulu pesertanya lebih dari 20 dan selesainya sekitar pukul 21.00 WIB. Tahun ini hanya 16 peserta,” katanya.
Diharapkan Dongkrak UMKM
Selain menjadi ruang ekspresi budaya dan hiburan masyarakat, Karnaval Babakan 2026 diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi warga.
Keramaian selama kegiatan berlangsung menjadi peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan penjualan produk mereka.
“Yang jelas UMKM juga semakin meningkat dengan adanya karnaval ini,” kata Rival.
Bagi warga Desa Babakan, karnaval tersebut akhirnya bukan sekadar persoalan perayaan yang terlambat digelar. Di tengah biaya yang harus dikeluarkan dan persiapan yang tidak sederhana, masyarakat tetap memilih bergotong royong untuk menghadirkan sebuah perayaan yang mereka inginkan sendiri.
Karnaval pun menjadi ruang untuk merawat budaya, memperkuat kebersamaan, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.(D.S)







