Indramayu, Kabarnusa24.com Permasalahan sampah kembali menjadi sorotan warga Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.
Tumpukan sampah plastik dan sampah rumah tangga kerap terlihat menumpuk, terutama pasca Pasar Rebo dan pasar mingguan, akibat pengangkutan sampah yang dinilai tidak berjalan optimal.
Warga mengeluhkan pengangkutan dan pengurasan sampah yang disebut hanya dilakukan sekitar dua minggu sekali. Kondisi ini dinilai semakin memperparah lingkungan, terlebih ketika sampah menumpuk di saluran air (kalen) yang menjadi lokasi pembuangan sementara.

Minimnya peran UPTD Kebersihan Kecamatan Jatibarang juga menjadi keluhan utama masyarakat. Selama ini, penanganan sampah justru lebih banyak dibebankan kepada pemerintah desa bersama warga melalui kegiatan gotong royong. Padahal, jalur pembuangan sampah di wilayah tersebut sangat terbatas, dengan satu jalur utama yang mengarah ke wilayah Jatibarang.
Kondisi lingkungan semakin memprihatinkan dengan adanya toko dan warung yang menutup sekitar 80 persen saluran air. Akibatnya, aliran air tersumbat dan sampah semakin sulit terurai, meningkatkan potensi banjir dan pencemaran lingkungan.

Berdasarkan keterangan dari pihak Lingkungan Hidup (LH) Cabang Jatibarang, armada pengangkut sampah yang tersedia berjumlah delapan unit. Namun, fakta di lapangan dinilai tidak sebanding dengan kondisi kebersihan yang terlihat di berbagai titik. 19/01/2026
Saat media mencoba mengonfirmasi Kepala UPTD Kebersihan Cabang Kecamatan Jatibarang, Heri, yang bersangkutan tidak berada di kantor. Pegawai kebersihan menyampaikan bahwa Heri sedang keluar dan diperkirakan kembali setelah waktu Zuhur. Namun hingga sekitar pukul 14.00 WIB, kantor UPTD Kebersihan tampak tertutup dan sepi.

Di sisi lain, warga yang tinggal di sekitar lokasi tempat pembuangan sampah sementara menyebut fasilitas tersebut jarang difungsikan secara maksimal. Sampah di lokasi itu tidak diangkut setiap hari bahkan tidak dipergunakan lihat aja sampah masih menumpuk sudah membusuk.
Sementara di lokasi lain, tepatnya di Gang Serma dekat pemakaman Cina, sampah terlihat berserakan dan menumpuk.

Warga setempat mengungkapkan bahwa pengangkutan sampah di wilayah tersebut hanya dilakukan satu hingga dua minggu sekali.
Hal ini bertolak belakang dengan pernyataan UPTD Kebersihan Kecamatan Jatibarang yang menyebutkan bahwa sampah diangkut setiap hari dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pecuk.
Selain persoalan pengangkutan, warga dan pedagang juga menyoroti adanya pungutan kebersihan terhadap toko dan warung yang mencapai Rp175.000 per bulan per toko. Besaran pungutan tersebut disesuaikan dengan kesepakatan, baik dibayarkan mingguan maupun bulanan.

Namun, dengan kondisi kebersihan yang dinilai tidak maksimal, pungutan tersebut kini dipertanyakan oleh masyarakat.
Warga juga membandingkan kondisi saat ini dengan masa sebelumnya, ketika pasca hari pasaran dilakukan pembersihan dan pengurasan saluran air oleh petugas, termasuk keberadaan
“pasukan kuning” dari PUPR Kabupaten Indramayu. Saat ini, kegiatan tersebut dinilai hampir tidak pernah terlihat lagi. Bahkan, pegawai PUPR disebut jarang melakukan kontrol langsung ke lapangan dan lebih banyak berada di kantor.

Masyarakat berharap pemerintah daerah, khususnya UPTD Kebersihan dan instansi terkait, segera melakukan evaluasi menyeluruh serta mengambil langkah nyata agar persoalan sampah dan saluran tersumbat di Jatibarang tidak terus berlarut-larut dan berdampak pada kesehatan serta kenyamanan warga.







