DaerahPeristiwa

Proyek Normalisasi Sungai Cimanuk Disorot, Paku Alam Tanggul Miring dan Amblas

21
×

Proyek Normalisasi Sungai Cimanuk Disorot, Paku Alam Tanggul Miring dan Amblas

Sebarkan artikel ini
Proyek Normalisasi Sungai Cimanuk Disorot, Paku Alam Tanggul Miring dan Amblas

 

Indramayu, Kabarnusa24.com

Proyek normalisasi Sungai Cimanuk yang seharusnya menjadi solusi pengendalian banjir kini menuai sorotan. Pasalnya, di sejumlah titik ditemukan kondisi paku alam (pancang penyangga tanggul) yang tampak miring bahkan mengalami amblas, sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu kekuatan struktur tanggul.

Proyek Normalisasi Sungai Cimanuk Disorot, Paku Alam Tanggul Miring dan Amblas

Berdasarkan informasi yang dihimpun, PT Wijaya Karya (WIKA) diketahui menjadi kontraktor pelaksana pada beberapa segmen pekerjaan normalisasi Sungai Cimanuk. Adanya pergeseran atau kemiringan paku alam tersebut diduga disebabkan oleh sejumlah faktor, di antaranya debit air sungai yang lebih tinggi dari perhitungan awal, kondisi tanah bantaran yang labil atau jenuh air, hingga kemungkinan faktor teknis dalam pelaksanaan konstruksi.

 

Saat awak media mencoba meminta klarifikasi di lokasi proyek, Ali selaku pelaksana lapangan dari PT WIKA tidak berada di tempat, sehingga belum dapat memberikan keterangan terkait kondisi paku alam yang miring dan amblas tersebut.

Dalam praktiknya, kasus serupa pada proyek penguatan bantaran sungai biasanya akan ditindaklanjuti dengan evaluasi teknis ulang oleh pihak kontraktor bersama pemilik proyek, seperti Balai Wilayah Sungai (BWS) Cimanuk. Langkah korektif yang umumnya dilakukan antara lain penguatan fondasi, penambahan jumlah pancang, perubahan desain konstruksi, hingga pemadatan tanah dan penambahan batu alam sebagai pelindung bantaran.

Proyek Normalisasi Sungai Cimanuk Disorot, Paku Alam Tanggul Miring dan Amblas

Masyarakat berharap pihak terkait dapat segera melakukan penanganan serius dan transparan agar proyek normalisasi Sungai Cimanuk benar-benar berfungsi optimal serta tidak menimbulkan risiko baru di kemudian hari.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin